Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Tempat Spesial


__ADS_3

Dathan dan Neta sampai di Bandara internasional. Di sana Neta baru tahu jika mereka akan pergi ke salah satu pulau di samudra Hindia. Maldives adalah tempat yang dipilih Dathan untuk menikmati bulan madunya. Sudah jauh-jauh hari dia memesan semuanya. Pulau di selatan barat daya India itu akan menjadi tempatnya untuk berbulan madu.


“Jadi ini alasan kamu meminta passport milikku?” Neta menatap Dathan. Dia menebak apa yang dilakukan Dathan dua minggu yang lalu. Dia pikir Dathan hanya akan mengajaknya ke negeri tetangga, tetapi ternyata dugaanya lain.


“Iya, karena aku mau cari tempat spesial untuk kita berdua.” Dathan tidak mau hanya biasa saja. Untuk Neta, dia mau sesuatu spesial. Setelah lama berpuasa bertahun-tahun dan menahan diri berbulan-bulan, dia mau suasana yang istimewa. Satu hal yang akan menjadi kenangan untuk mereka kelak.


Tepat jam satu malam, pesawat lepas landas. Mereka akan transit dulu di salah satu negara Dubai. Perjalanan nanti akan memakan waktu tujuh jam lima puluh menit. Jadi mereka berdua punya kesempatan untuk beristirahat.


Sayangnya, Neta terlalu penasaran dengan pesawat yang dinaiki. Kebetulan Dathan memilih kelas bisnis. Jadi ini kali permata Neta naik pesawat seperti ini ke luar negeri. Biasanya dari kantornya hanya menyediakan kelas ekonomi saja.


“Sebenarnya aku mau ajak kamu naik first class, tetapi harus menunggu esok berangkatnya. Mana bisa aku sabar menunggu besok.” Dathan yang bercerita tentang apa yang dilakukan ketika memesan tiket. Sungguh waktu itu dia begitu dilema sekali.


“Tidak apa-apa. Ini saja aku sudah bersyukur. Karena ini pertama kalinya aku naik.” Neta sedikit berbisik. Tidak enak didengar oleh orang-orang.


Dathan menggenggam tangan Neta. “Aku akan memberikan apa pun yang belum pernah kamu dapatkan.” Dia ingin membahagiakan Neta. Baginya sekarang Neta adalah bagian dari hidupnya.


“Terima kasih.” Neta tersenyum. Ada Dathan saja baginya sudah cukup. Baginya suaminya itu adalah pelindung untuknya. Akan menjadi tempatnya bersandar kelak hingga tua. Neta melingkarkan tangannya di lengan Dathan. Melupakan kebahagiaannya. Dathan mendaratkan kecupan di dahi sang istri.


“Apa yang akan kita lakukan di sana nanti?” Neta menatap sang suami.

__ADS_1


“Bercinta.” Dathan berbisik tepat di telinga Neta.


Neta yang tadinya begitu penasaran seketika menegang. Membayangkan saja membuatnya sedikit gemetar.


Dathan yang melihat sang istri merasa begitu gemas sekali. Sungguh membuatnya merasa gemas. Dia pun mencubit lembut pipi Neta.


“Sudah tidurlah. Kamu harus banyak istirahat.” Dathan tersenyum menyeringai.


Senyum Dathan itu benar-benar membuat tubuh Neta bergidik ngeri. Ada maksud tertentu dari kalimat yang diucapkan Dathan. Apa pun itu, tentu saja itu pasti berhubungan dengan dirinya.


Neta tidak mau memikirkan akan hal itu. Dia memilih tidur saja. Berharap esok saat bangun, dia sudah sampai. Tubuhnya memang sudah lelah. Apalagi seharian tadi dia dibuat lelah dengan acara pernikahan.


Pesawat menempuh perjalanan selama tujuh jam. Saat sampai, mereka harus menunggu lagi selama empat jam. Selama menunggu Dathan dan Neta memanfaatkan untuk menikmati sarapan mereka. Saling sambil bercerita tentang banyak hal.


Saat pesawat siap, barulah mereka menuju ke Male-ibu kota Maladewa. Untuk mencapai tempat itu mereka harus menempuh perjalanan empat jam lagi. Ini benar-benar menjadi perjalanan panjang mereka. Sayangnya, perjalanan itu belum berakhir sampai di sana saja. Dari Male mereka harus naik pesawat amphibi. Pesawat yang bisa mendarat di atas laut. Pesawat itulah yang akan membawa mereka ke hotel tempat mereka menginap.


Menjelang sore barulah mereka sampai. Hal itu membuat mereka begitu lelah sekali. Namun, semua terbayar dengan keindahan yang terjadi. Langit yang masih terang membuat mereka dapat melihat laut biru yang begitu indah sekali. Lelah mereka tidak berarti apa-apa jika pemandangan yang tersaji begitu indah.


Mereka menuju ke hotel yang sudah dipesan oleh Dathan. Hotel berada di atas laut dengan menyajikan pemandangan laut yang begitu indah sekali. Neta yang melihat itu hanya bisa terkagum-kagum.

__ADS_1


“Indah sekali.” Neta yang melihat pemandangan laut dari teras kamarnya benar-benar berbinar.


Dathan masih sibuk memasukan koper mereka. Beruntung mereka hanya membawa satu koper saja. Karena memang mereka tidak mau membawa terlalu banyak barang.


Dathan yang meletakan koper segera menghampiri sang istri yang masih asyik menikmati lautan. Sungguh menggemaskan sekali ketika sang istri sedang terkagum-kagum.


“Kamu suka?” Dathan memeluk Neta dari belakang. Meletakkan dagunya tepat di bahu sang istri.


“Suka sekali. Lihatlah lautnya biru sekali. Perjalanan berjam-jam benar-benar terbayar sekali.” Neta bingung mau bicara apalagi. Rasa kagumnya seolah belum habis untuk mendeskripsikan tempat yang dikunjunginya itu.


Dathan mendaratkan kecupan di pipi sang istri. Merasa ikut senang karena akhirnya sang istri begitu bahagia sekali.


Neta menetap Dathan yang berada di sebelahnya. Perlahan Neta memutar tubuhnya menghadap Neta.


“Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa ini.” Dibanding pemandangan di depannya ada hal yang lebih membahagiakan lagi. Apalagi jika bukan kehadiran Dathan dalam hidupnya.


“Jangan berterima kasih. Karena kebahagiaanmu adalah tanggung jawabku.”


Dathan membelai lembut pipi Neta. Tatapannya yang penuh damba mengantarkannya perlahan mendaratkan bibirnya di bibir Neta. Ini adalah ciuman pertama sejak mereka menyandang status suami-istri. Tentu saja ini akan jauh berbeda dari ciuman yang biasa mereka lakukan.

__ADS_1



__ADS_2