
Arriel dan Mauren sampai di rumah. Arriel masuk lebih dulu. Disusul Mauren di belakang. Mauren sudah berdebar-debar ketika akan masuk ke rumah Arriel. Dia yakin ini akan jadi perang besar antara anak dan ibu.
“Mama.” Arriel langsung berteriak ketika masuk ke rumah. Arriel sudah berusaha menahan gemuruh dalam hatinya. Jelas Arriel muak jika seperti itu yang dilakukan sang mama.
“Apa kamu tidak bisa memanggil mama dengan lembut?” Mama Anggun keluar dari kamarnya.
Arriel segera mengayunkan langkahnya menghampiri sang mama. “Apa jika aku bersikap lembut dan patuh itu berarti untuk Mama?” Arriel menatap lekat wajah sang mama.
Mauren di belakang sana begitu ketakutan. Dia takut dengan pertengkaran Arriel dan mamanya.
Mama Anggun melihat Mauren di belakang anaknya. Tampak dia ketakutan sekali. Jelas jika itu menandakan jika Arriel sudah tahu semuanya.
“Kamu sudah tahu?” Mama Anggun tersenyum.
“Aku tahu dan tidak habis pikir, kenapa bisa Mama melakukan hal ini?” Arriel benar-benar merasa begitu kecewa sekali. Padahal selama ini dia selalu menuruti apa yang diminta oleh sang mama. Namun, ternyata mamanya justru seenaknya padanya. Mempermalukan orang lain untuk kepentingan sendiri.
“Pasti Mauren sudah jelaskan, jika Mama hanya mau kamu kembali dengan Dathan.” Mama Anggun memiringkan kepalanya menatap Mauren.
“Ma, aku sudah bercerai, kenapa Mama mau aku kembali? Harusnya Mama sadar jika kami tidak mungkin bersama. Dathan pasti sudah kecewa sekali dengan aku, dan semua itu karena Mama.” Arriel meninggikan suaranya. Air matanya mulai menetas di mata indahnya.
“Kenapa kamu jadi menyalahkan Mama?” Mama Anggun merasa tidak terima ketika anaknya justru menyalahkan dirinya.
“Iya, Mama yang memintaku untuk terus bekerja. Memintaku mengembangkan usahaku agar bisa menopang hidup mama. Sampai aku harus mengabaikan anakku sendiri. Sampai aku harus kehilangan semuanya.” Arriel terisak. Dia merasa kecewa dengan sang mama. Dia sudah melakukan banyak hal untuk sang mama, tetapi sang mama justru membuatnya kecewa.
__ADS_1
Arriel menjatuhkan tubuhnya di lantai. Rasa sakit jika harus mengingat semuanya. Sejak papanya meninggal, hanya dirinya satu-satunya anak yang bisa membantu sang mama. Arriel ingin mengembangkan usahanya agar kelak jika sudah berjalan, dia bisa memberikan hasil pada mamanya. Karena itu, dia memilih menunda kehamilannya. Namun, siapa sangka jika ternyata dirinya hamil. Hingga akhirnya Arriel berada di dalam dilema. Waktu itu, Arriel tidak mau membebani Dathan. Rasanya malu jika orang tuanya harus bertumpu pada Dathan. Sayangnya, pilihannya salah. Karena pada akhirnya mereka harus berpisah.
Sejak melahirkan hingga saat ini Arriel terus berjuang. Kelak dia ingin tinggal menikmati hasil dari apa yang sudah diraihnya. Sayangnya, dia kembali salah. Dia kehilangan banyak momen dengan anaknya, hingga anaknya jauh darinya. Ini adalah pukulan berat bagi Arriel.
Kini saat dia mulai menatap kembali, mamanya justru membuat semua berantakan. Membuat Dathan kecewa dan terluka. Padahal, Arriel sendiri sudah berusaha untuk ikhlas. Menerima jika Dathan memanglah bukan jodohnya.
Mama Anggun ikut menangis. “Karena Mama salah, itulah kenapa Mama mau kamu kembali pada Dathan. Mama tahu kamu terluka saat berpisah dengan Dathan. Dulu Mama terlalu egois karena membiarkan kamu terluka. Sekarang Mama hanya ingin kamu bahagia bersama anakmu dan Dathan.” Mama Anggun ikut duduk di lantai. Menatap putrinya yang menangis.
“Tapi, Dathan sudah bukan tercipta untukku. Dia sudah menikah dengan wanita yang mungkin jauh lebih baik dari aku. Harusnya Mama terima itu. Bukan justru membuat buruk nama Dathan.” Arriel merasa apa yang dilakukan mamanya salah.
Mama Anggun hanya bisa menerima jika dirinya memanglah salah. Dia merasa jika memang segala sesuatu tidak bisa dipaksakan. Apalagi Dathan sudah menikah dengan yang lain.
“Maafkan Mama, Riel.” Mama Anggun langsung memeluk anaknya. Merasa kasihan pada sang anak karena menjadi korban keegoisannya.
...****************...
Dathan dan Neta sampai di rumah. Tadi Loveta meminta menginap di rumah Reno. Karena ingin tidur dengan Richa. Dathan pun mengizinkannya. Besok pagi, dia akan menjemputnya. Sampai di rumah, mereka segera membersihkan diri. Hari ini begitu melelahkan. Jadi wajar jika mereka merasa begitu lelah sekali.
“Mama Arriel sepertinya ingin kamu bersama kembali.” Neta yang naik ke atas tempat tidur mengingatkan bagaimana tadi Mauren menjelaskan.
Dathan menatap sang istri. Kemudian menarik tubuh sang istri. Membawanya ke dalam pelukannya.
“Memang mereka siapa berhak mengatur hidupku. Aku hanya menginginkan kamu. Tidak mau yang lain.” Dathan mencubit lembut hidup Neta.
__ADS_1
Neta yang menengadah melihat jelas wajah suaminya yang gemas. “Aku mencintaimu.”
“Aku ….” Dathan menjeda ucapannya.
“Sangat-sangat mencintaimu.” Dia menundukkan kepalanya. Menempelkan hidungnya pada hidung sang istri. Sebuah kecupan tentu saja mendarat di bibir manis istrinya. Namun, Dathan melepaskannya. Ketika mengingat sesuatu. “Apa artikel kemarin akan jadi masalah untuk pekerjaanmu?” Dia langsung bertanya-tanya.
“Entah, ada kemungkinan petinggi Syailend Grup akan memanggil aku.”
“Lalu?” Dathan sedikit khawatir.
“Ada kemungkinan, aku dipecat lebih awal.” Neta tersenyum. Namun, senyum itu seketika surut. “Tapi, pasti dampaknya akan buruk untuk teman-teman yang lain.” Yang jelas peraturan akan semakin diperketat lagi.
Dathan mengerti sekali posisi itu. Jika ada karyawan yang melakukan kesalahan, dia juga pasti akan mengencangkan peraturan.
“Apa mungkin aku bisa melobinya? Agar karyawan lain tidak kena dampak yang kamu timbulkan?” Dathan mencoba menawarkan jalur belakang. Siapa tahu ini akan membuat keadaan membaik.
“Aku rasa akan sulit. Karena sekarang Syailend Grup dipegang oleh anaknya.”
“Siapa?” Dathan menatap sang istri lekat.
“Kafaael Syailendra. Anak satu-satunya Syailendra. Aku dengar awalnya dia memegang K Management. Salah satu agensi model besar. Karena papanya sudah mulai mengalikan, tentu saja kini dia yang memegang. Jika dia anak muda dan baru terjun ke bisnis. Aku rasa akan sulit untuk melobi.” Neta merasa jika Dathan memaksakan pasti akan sia-sia. Ego anak muda biasanya lebih menggebu.
Dathan masih asing dengan nama itu. Bisa jadi karena dia pengusaha baru. Jadi dia tidak hapal. Namun, besok dia akan bertanya dengan Reno. Siapa tahu Reno bisa membantunya untuk bertemu.
__ADS_1