Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Loveta Demam


__ADS_3

Dathan mengantarkan Neta untuk pulang. Sudah dua hari ini dia bisa menjemput sang kekasih karena sedang tidak ada Loveta di rumah.


“Aku tetap suka jika kamu datang saat Cinta tidur. Setidaknya aku tahu Cinta ada di rumah dan sedang terlelap.” Neta tetap merasa ada yang kurang. Sekali pun itu menguntungkan dirinya, tetap saja ada yang hilang.


“Apa sebenarnya kamu merindukan Cinta?” tanya Dathan.


“Iya, sebenarnya aku rindu.” Neta memang merasa rindu. Walaupun baru mengenal Loveta sebentar. Namun, dia merasa sayang sekali.


“Bagaimana jika nanti sabtu kita temui mereka.” Dathan memberikan ide pada Neta.


Mereka sampai di restoran. Di sana mereka memesan makanan. Kemudian menikmati makanan bersama. Waktu seperti ini benar-benar membuat mereka senang. Bisa berbagi waktu di sela-sela padatnya pekerjaan.


“Kapan majalah yang menampilkan wajahku muncul?” Dathan melempar pertanyaan itu di tengah-tengah makan.


“Mungkin minggu depan sudah muncul.” Neta tersenyum.


“Aku tidak sabar menunggu.” Dathan tidak sabar menunggu fotonya. Foto perdana yang akan ada di publik.


Mereka menikmati makan bersama. Saling bercerita satu dengan yang lain. Mereka begitu seru bercerita tentang pekerjaan mereka.


“Aku ada acara pembukaan showroom mobil di luar kota minggu depan. Jadi sepertinya minggu depan aku harus ke luar kota.” Di tengah-tengah acara makan, Neta memberitahu rencananya.


Dathan cukup terkejut, karena Neta harus ke luar kota. “Dengan siapa?” Dia merasa curiga. Takut-takut Adriel akan ikut bersama Neta.


“Aku hanya berdua dengan Maria.” Neta menjelaskan pada Dathan.

__ADS_1


“Adriel?” Dathan menerawang ke dalam bola mata Neta.


“Adriel tidak ikut.” Neta paham jika sang kekasih pastinya cemburu. Jadi wajar saja. Dia juga tidak mempermasalahkan kecemburuan yang dirasakan oleh Dathan. Asal masih di dalam tahap wajar.


“Bagus dia tidak ikut.” Dathan bernapas lega. Benar-benar bersyukur karena pria itu tidak ikut. Jika ikut, pasti dia akan memutuskan untuk ikut juga.


Neta hanya tersenyum saja. Melihat wajah lega Dathan, terlihat begitu menggemaskan sekali.


Mereka menikmati makan sambil menceritakan rencana Neta. Neta akan pergi di hari jumat malam dengan menaiki pesawat. Acara pembukaan showroom mobil akan diadakan sabtu dan itu mungkin akan sampai malam. Nanti Neta akan kembali di hari minggu. Namun, belum tahu pastinya jam berapa.


...****************...


Arriel keluar dari kamar mandi. Saat keluar dia menemukan sang anak yang sudah tidur. Padahal tadi dia meminta anaknya untuk menunggunya.


“Mungkin dia lelah.” Arriel tersenyum sambil menghampiri sang anak yang berada di tempat tidur.


Saat berdiri tepat di samping tempat tidur, Arriel segera menarik selimut untuk menutupi tubuh sang anak. Dia tidak mau anaknya sampai kedinginan.


“Tidur—“ Baru saja tangan Arriel membelai lembut pipi Loveta. Namun, dia mendapati jika tubuh sang anak begitu panas. “Lolo demam?” Dia mengecek bagian dahi anaknya. Hal yang sama juga didapatinya. Tubuh Loveta demam. Tidak hanya dahi, Arriel mengecek bagian tubuh lain, seperti leher, telapak tangan, dan juga kaki.


Arriel tidak pernah mengurus orang sakit. Apalagi anak-anak. Tentu saja dia sangat panik. Karena bingung, dia mencoba segera menghubungi Mauren.


“Halo, Riel?” Suara Muaren terdengar dari seberang sana.


Suara musik terdengar kencang. Arriel tahu di mana keberadaan Mauren saat ini. Di mana lagi jika bukan di klub malam. Padahal ini masih terlalu sore untuk berada di klub malam.

__ADS_1


“Lolo demam. Apa kamu tahu aku harus apa?” Arriel begitu panik. “Apa aku harus memberikannya obat?” Dia tidak tahu tahapan apa yang harus dilakukan saat anak demam.


“Aku tidak tahu. Lebih baik kamu cari di laman pencarian saja, atau kamu hubungi Dathan. Mungkin dia akan lebih tahu.” Mauren di seberang sana memberitahu.


“Baiklah kalau begitu.” Arriel tidak punya pilihan. Dia pun segera mematikan sambungan teleponnya.


Saat Mauren mengatakan untuk menghubungi Dathan, rasanya Arriel tidak tahu harus bagaimana. Dia merasa jika dia tidak mau dianggap gagal karena tidak bisa menjaga anaknya dengan baik.


Arriel berada dalam dilema. Namun, demi anaknya, tentu saja dia akan berusaha untuk menurunkan egonya. Dari pada kenapa-kenapa dengan Loveta, lebih baik dia bertanya pada Dathan. Dia pun segera mencari nomor Dathan dan menghubungi mantan suaminya itu.


“Halo, Riel.” Suara Dathan dari seberang sana terdengar.


“Than, Lolo demam, aku harus apa? Apa aku harus bawa ke rumah sakit?” Arriel langsung tanpa basa-basi memberitahunya.


“Demam? Berapa suhunya?” Dathan di seberang sana tampak tenang saat bertanya. Hal seperti ini sering terjadi pada anak-anak. Jadi dia mengerti.


“Aku tidak tahu.” Arriel malu sekali.


“Kamu tidak punya termometer di rumah?” Dathan melempar pertanyaan itu pada mantan istrinya.


“Tidak.” Loveta memang kerap dibawa ke rumah di akhir pekan, tetapi dia tidak pernah demam. Jadi dia tidak menyiapkan apa-apa.


“Aku akan ke sana.” Dathan tidak mau membiarkan sang anak kenapa-kenapa.


“Baiklah.” Arriel mengangguk. Dia kemudian mematikan sambungan telepon.

__ADS_1


Arriel segera kembali ke anaknya. Dia membelai lembut wajah sang anak. Dia berharap Dathan segera datang sehingga dia tidak ketakutan seperti ini.


__ADS_2