
Neta cukup terkejut dengan kedatangan Adriel. Entah kenapa dia merasa pria itu datang selalu saja tiba-tiba sekali. Membuatnya benar-benar terkejut. Mendengar pertanyaan Adriel rasanya Neta bingung menjawab apa. Dia tidak nyaman ketika Adriel tahu tentang kehidupan percintaannya.
“Neta mau pergi bersama kekasihnya.” Maria yang menjawab pertanyaan dari Adriel.
Adriel langsung membulatkan matanya. Dia benar-benar tidak menyangka jika ternyata Neta akan pergi dengan kekasihnya.
“Berdua saja?” Entah kenapa Adriel merasa was-was sekali ketika Neta pergi dengan seorang pria.
“Dengan keluarganya.” Neta menjelaskan itu. Dia memang pergi dengan Loveta juga. Jadi tentu saja itu adalah dengan keluarga.
Adriel semakin tercengang ketika Neta pergi dengan keluarga kekasihnya. Artinya hubungan mereka sudah sejauh itu. “Oh … iya.” Dia menarik senyumnya tipis. Memastikan jika dia bisa menutupi rasa kecewa atas apa yang didengarnya.
“Iya.” Neta tersenyum.
Lift terbuka. Mereka bertiga segera masuk. Adriel pun tampak berusaha tenang. Dia menanyakan beberapa proyek pada Maria dan Neta. Mereka mengobrol bersama-sama. Menceritakan tentang pekerjaan. Adriel benar-benar bisa mengendalikan dirinya. Tidak membuat Neta canggung setelah tadi dia sempat bertanya-tanya.
...****************...
Neta bersiap merapikan mejanya. Pekerjaanya kini sudah selesai, tinggal dia pergi untuk segera pergi ke Bali. Rasanya, dia tidak menyangka akan pergi ke Bali. Rasanya dia ingin menikmati liburannya. Tidak akan melepaskan kesempatan berharga ini.
“Kamu sudah siap?” tanya Maria menggoda.
“Sudah, dan jantungku berdetak kencang.” Neta memegangi dadanya. Dia benar-benar ketakutan akan pergi dengan Dathan.
“Apa kamu akan melakukan one night stand dengannya?” Maria mendekatkan tubuhnya menanyakan pada temannya itu.
“Sembarangan.” Neta memukul Maria. “Aku belum segila itu melakukan itu.” Neta melihat malas pada Maria.
Seketika Maria tertawa. Dia hanya suka sekali menggoda Neta. Dia tahu pasti temannya tidak akan melakukan hal itu. Dia tahu temannya itu menjaga dengan baik dirinya. Lagi pula, akan ada anak Dathan di sana, tentu saja hal itu tidak akan terjadi.
“Sudah sana pergi.” Maria pun mengusir Neta. Dia tahu jika Dathan sedang dalam perjalanan ke kantor. Jadi pasti, sebentar lagi pria itu akan sampai.
__ADS_1
“Baiklah. Da … Maria.” Neta berdiri dan meraih tas miliknya yang diletakkan di lantai. Dia mengayunkan langkahnya meninggalkan meja kerjanya. Dia begitu bersemangat sekali ketika akan pergi.
Tepat saat Neta mengayunkan langkahnya, dia berpapasan dengan Adriel.
“Kamu sudah akan pergi?” Adriel memastikan.
“Iya.” Neta menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, hati-hati di jalan.” Adriel tersenyum.
“Tentu.” Neta membalas senyum Neta. Dia segera berlalu menuju ke lift.
Adriel melihat Neta yang perlahan pergi. Rasanya benar-benar berat untuknya melepaskan Neta pergi. Dia berharap jika Neta akan baik-baik saja.
Neta menuju ke lobi. Di lobi dia menunggu mobil Dathan yang belum sampai. Beruntung tidak butuh waktu lama mobil Dathan datang. Kaca mobil yang terbuka memperlihatkan Dathan yang duduk di kursi penumpang, sedangkan yang membawa mobil adalah Reno.
“Ayo.” Dathan tersenyum pada Neta.
Tepat saat Neta bergeser, Dathan menutup kaca mobil. Dari kejauhan terlihat Adriel yang memerhatikan Neta. Sayangnya, dia tidak bisa melihat pria yang pergi dengan Neta, karena kaca mobilnya segera ditutup.
Neta yang masuk ke mobil duduk di sebelah Loveta. Saat masuk, dia sudah disambut oleh Loveta. Loveta begitu girang ketika melihat Neta. Begitu pun dengan Neta.
Saat Neta sudah masuk ke mobil, Reno segera melajukan mobilnya. Meninggalkan kantor Neta.
Tampak dari luar Adriel melihat mobil yang perlahan pergi. Rasanya, dia ingin tahu siapa pria yang bersama Neta. Paling tidak, dia bisa tenang membiarkan Neta pergi dengan seorang pria.
...****************...
Mobil sampai Bandara. Dathan dan Reno keluar lebih dulu. Dathan segera membuka pintu, dia meminta tas yang dibawa Neta tadi. Membawakan tas milik gadis cantik yang dicintainya itu.
Neta memberikan tasnya. Dengan begitu dia bisa lebih leluasa untuk menggandeng Loveta ketika keluar mobil.
__ADS_1
Reno mengeluarkan koper milik Dathan. Pria itu membawa satu koper berisi pakaian miliknya dan milik Dathan. Reno segera memberikan pada Dathan.
Dathan yang membawa tas milik Neta pun menaruh tas tersebut di atas kopernya. Kemudian dia menatap Reno. “Terima kasih sudah mengantarkan.” Karena dia tidak mau meninggalkan mobil di Bandara, terpaksa dia meminta Reno untuk mengantarkannya.
“Sama-sama.” Reno tersenyum. Dia mendekatkan tubuhnya pada Dathan. “Kabari aku jika sudah sukses membuat adik untuk Lolo.” Dia berbisik pada temannya itu. Kemudian tawanya terdengar.
“Sial.” Dathan hanya mengumpat pelan. Tak mau Neta dan anaknya dengar. Benar-benar menyebalkan sekali temannya. Dia harusnya paham jika dirinya bukan penganut one stand night. Jadi tentu saja itu tidak akan terjadi. Dia tidak akan menyentuh Neta melebihi batasan jika belum sah menjadi miliknya. Dia punya anak perempuan. Tidak mau sampai anaknya mengalami hal buruk dari pria seperti yang dilakukannya pada wanita.
Reno hanya bisa tertawa saja. Dia tahu temannya seperti apa. Namun, selalu seru ketika menggodanya. Reno beralih pada Neta dan Loveta.
“Selamat bersenang-senang, Lolo.” Reno mengusap rambut Loveta.
“Siap, Uncle.” Loveta tersenyum.
Reno beralih pada Dathan. “Selamat bersenang-senang, Neta.” Dia tersenyum.
Neta tersenyum. “Iya, Pak.” Dia mengangguk.
“Sudah ayo.” Dathan pun mengajak Neta dan Loveta untuk segera masuk ke Bandara.
Neta mengangguk. Dia segera menggandeng Loveta untuk mengikuti Dathan. Mereka bertiga berjalan bersama. Dathan menarik koper di mana ada tas Neta di atas koper.
Perjalanan memakan waktu satu jam lima puluh menit, karena itu mereka punya waktu untuk sedikit bersantai. Loveta belum sempat tidur siang karena dia tadi terlalu antusias untuk pergi. Hal itu membuatnya tidur saat penerbangan baru saja dilakukan. Neta dengan telaten menidurkan Loveta.
Dathan yang duduk di seberang kursi Neta pun tersenyum melihat kedekatan Neta dan Loveta. Dia tidak sabar menikmati waktu bertiga.
Neta tersenyum ketika melihat Dathan melihatnya sambil tersenyum. Entah kenapa dia malu ketika pria itu menatapnya.
Pesawat akhirnya mendarat setelah perjalanan satu jam lima puluh menit. Loveta yang masih mengantuk pun membuat terpaksa menggendongnya. Alhasil, Netalah yang menarik koper milik mereka.
Di Bandara sudah ada pihak dari hotel yang menjemput. Dathan, Neta, dan Loveta bisa langsung menuju ke vila yang dipesan oleh Dathan.
__ADS_1
Saat sampai di vila, Neta disuguhkan vila yang begitu indah. Vila menghadap tepat ke laut lepas dan itu adalah pemandangan yang begitu indah sekali. Dengan gaya polinesia indah terlihat begitu sangat menakjubkan. Kolam renang pribadi yang terdapat di setiap vila pun membuat pengunjung mendapatkan sensasi privat saat menginap. Kolam renang yang menghadap ke laut pun menjadi daya tarik tersendiri. Hal itu membuat Neta tak berhenti berdecak kagum. Baru kali ini dia ke tempat indah ini.