
Mereka saling mengobrol sambil menikmati cemilan dan minuman yang disuguhkan. Di saat seperti itu Loveta diam-diam pergi dari ruang tamu. Dia pergi mencari Liam yang ada di belakang. Dia yang mencari ke ruang makan mendapati Liam di sana.
“Kak Liam.” Loveta dengan manisnya memanggil anak laki-laki itu.
Liam yang sedang asyik bermain pun langsung mengalihkan pandangan. Dia melihat Loveta di sana.
“Kamu ke sini?” Liam berjalan menghampiri Loveta.
“Kakak tinggal di sini?” Loveta menanyakan itu pada Liam.
“Iya, aku tinggal di sini.” Liam tampak tersenyum. Liam adalah anak yang ramah. Dia terbiasa menjaga adik-adiknya tampak dewasa di usianya yang menginjak sepuluh tahun. “Apa topinya masih ada?” Liam penasaran sekali dengan topi kelinci yang diberikannya.
“Masih, Lolo simpan di kamar.” Loveta begitu bersemangat sekali.
“Bagus, simpan dengan baik.” Liam tersenyum manis.
“Iya.” Loveta mengangguk.
“Lolo.” Richa yang diminta mencari Loveta oleh sang mama, akhirnya menemukan gadis kecil itu di ruang makan. Dia bersama seorang anak laki-laki. Entah siapa Richa tidak tahu.
“Lolo, papamu mencari.” Richa langsung menarik tangan Loveta untuk membawanya keluar.
“Kak Liam, Lolo pergi dulu ya.” Loveta melambaikan tangannya. Gadis kecil itu masih sempat berpamitan di saat Richa menariknya.
Liam hanya tersenyum. Dia merasa lucu dengan tingkah Loveta.
Loveta kembali bergabung dengan orang-orang dewasa. Mereka orang-orang dewasa sedang asyik membahas rencana-rencana persiapan pernikahan. Rifa mengatakan jika besok akan ada orang yang akan panti asuhan. Jadi ibu panti tidak perlu khawatir.
Ibu Kania mengobrol dengan orang tua Reno. Mereka menceritakan bagaimana Dathan dan Reno berteman. Bagaimana Reno dulu sewaktu kecil. Saat orang tua Reno bercerita, Bu Kania akhirnya tahu jika Dathan benar-benar anak baik. Jadi dia yakin Neta akan dapat suami yang baik.
Di saat mendapatkan kesempatan bisa berbicara dengan Dathan, Neta memanfaatkan hal itu. Dia mengobrol dengan calon suaminya itu.
“Kenapa tidak bilang jika anak panti diundang semua?” Neta langsung melempar pertanyaan yang sedari tadi disimpannya itu.
__ADS_1
Dathan tersenyum. “Aku ingin memberikan kejutan.”
“Dan aku benar-benar terkejut.” Neta berusaha menahan tagisnya. “Terima kasih.” Dia menatap Dathan.
“Jangan berterima kasih sekarang.” Dathan merasa ucapan itu terlalu dini, karena memang belum terjadi.
“Lalu kapan aku harus berterima kasih?” Neta menatap Dathan serius.
“Setelah pernikahan, dan terima kasihnya harus spesial.” Dathan berbisik pada Neta.
Neta seketika tersipu malu. Bisa-bisanya sang calon suami mengatakan akan hal itu. Dia mengerti ke mana arah pembicaraan.
“Astaga calon pengantin belum apa-apa sudah main bisik-bisik.” Adriel yang menghampiri Neta dan Dathan melihat aksi dari mereka berdua.
“Cepatlah cari kekasih. Agar kamu bisa merasakan bisik-bisik.” Dathan menggoda.
“Nanti aku akan cari di toko.” Adriel menjawab sambil tersebut.
“Toko apa saja.” Adriel tersenyum. Namun, sesaat kemudian dia teringat dengan niatnya menghampiri Neta dan Dathan. “Ta, ajak Dathan makan.” Dia menyampaikan apa yang menjadi alasannya menghampiri.
“Iya, Kak.” Neta mengangguk. Dia kemudian beralih pada Dathan. Mengajak Dathan untuk makan.
Mereka semua melanjutkan makan siang bersama. Mereka semua memakan makanan yang dibuat oleh Neta dan seluruh penghuni panti. Suasana begitu hangat. Bu Kania senang karena semua lahap memakan makanan yang tadi dibuat bersama Neta, Maria, dan anak panti.
Acara lamaran sederhana akhirnya selesai juga. Semua sudah sepakat dengan semua acara pernikahan Neta dan Dathan. Semua sudah tahu tugas masing-masing demi menyukseskan acara pernikahan Neta dan Dathan.
Akhirnya keluarga Dathan berpamitan. Dathan terpaksa melepaskan Neta untuk pulang sendiri, mengingat dia datang dengan Maria. Tidak enak jika memaksakan untuk pulang dengannya. Apalagi Maria sudah menemani Neta di hari liburnya.
“Papa tunggu sebentar.” Loveta yang mau pulang berpamitan dengan sang papa. Dia segera berlari masuk kembali masuk.
Dathan menautkan alisnya. Untuk apa anaknya masuk ke panti lagi.
“Lolo bertemu anak laki-laki, Uncle.” Richa menjelaskan ke mana Loveta pergi.
__ADS_1
“Oh ... mungkin menemui Liam?” Adriel mengingat jika pasti Loveta tadi melihat Liam. Jadi anak itu menghampiri adiknya itu.
Dathan hanya bisa menggeleng. Kenapa anaknya begitu banyak dekat dengan banyak anak laki-laki. Setelah Leo, kini muncullah Liam. Anaknya sudah seperti bunga yang dikelilingi kumbang.
Benar saja. Loveta masuk untuk menemui Liam. Dia menghampiri Liam yang sedang merapikan piring-piring.
“Kak Liam, Lolo pulang dulu. Nanti kita bertemu lagi.” Dengan centilnya, Lolo berpamitan dengan Liam.
“Iya, kamu jangan hilang-hilang lagi. Izin dulu kalau pergi.” Liam tadi melihat Lolo mengulang kesalahannya lagi. Pergi di saat orang tuanya sedang bicara.
Loveta hanya tersenyum. Memamerkan deretan giginya yang rapi. “Iya.”
Liam tidak percaya dengan jawaban Loveta. Masih takut Loveta akan hilang juga.
“Cepat pulanglah. Papamu sudah menunggu.” Liam mengingatkan Loveta.
“Da ... Kak Liam.” Loveta melambaikan tangan dan segera kembali ke papanya.
Dathan hanya menggeleng. Sepertinya kisah anaknya akan jauh lebih rumit dibanding dirinya. Dathan segera meminta Loveta masuk. Kemudian menyusul anaknya itu untuk masuk. Dia segera melajukan mobil saat semua sudah masuk.
Neta melihat mobil pergi segera masuk. Ternyata adik-adiknya sudah bahu-membahu merapikan rumah setelah tamu pergi. Rasanya, Neta bangga menjadi bagian dari anak-anak hebat itu.
“Kamu akan pulang dengan Maria?” Adriel menatap Neta yang masih diam melihat anak-anak panti yang sudah selesai merapikan rumah.
“Iya.” Neta mengangguk.
“Kalau begitu aku pulang dulu. Kalian hati-hati.” Adriel memilih berpamitan. Sore ini dia ada janji dengan temannya. Jadi harus pulang lebih dulu.
“Iya, Kak. Terima kasih sudah hadir. “
“Sama-sama.”
Adriel berpamitan dengan ibu panti, Maria, dan anak-anak panti. Di saat Adriel pulang, Neta masih melanjutkan merapikan rumah. Tidak mau membuat ibu panti kelelahan merapikannya. Jadi dia bisa pulang dengan tenang jika semua sudah rapi.
__ADS_1