Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Satu : Satu


__ADS_3

Neta bersiap saat jam istirahat tiba. Dia merapikan barang-barang sebelum pergi. Di saat teman-temannya mulai ke kantin, Neta membayangkan jika dirinya akan bermacet-macetan di jalanan.


“Kamu sudah akan pergi?” tanya Maria yang melihat Neta sedang bersiap.


“Iya.” Neta yang sudah selesai bersiap pun segera meraih tasnya.


Maria yang kebetulan akan pergi ke kantin, berjalan bersama dengan Neta. Karena jalan mereka searah.


“Pertanyaan apa yang kira-kira akan diberikan padamu?” Maria sungguh penasaran. Pertanyaan apa yang akan diberikan oleh Dathan.


“Em ... entah.” Neta sendiri tidak tahu kenapa. Karena memang dia hanya memikirkan pertanyaan untuk Dathan saja.


Mereka berdua berpisah di lobi. Neta menuju ke tempat parkir, sedangkan Maria menuju ke kantin kantor.


Neta yang memakai motor, segera melajukan motornya menuju ke kantor Dathan. Entah keberuntungan apa yang menghampirinya. Kali ini mereka sampai dalam satu jam. Harusnya di jam sibuk seperti ini, dia butuh waktu lebih banyak lagi untuk sampai.


Saat sampai, Neta langsung menuju ke bagian resepsionis. Resepsionis yang menghubungi Dathan pun menerima perintah.


“Anda bisa langsung masuk ke ruangan Pak Dathan. Sekretaris sedang istirahat, tetapi Pak Dathan ada di ruangannya.” Resepsionis memberitahu Neta.


Berbekal informasi yang didapatkannya itu, Neta segera berlalu untuk menuju ke ruangan Dathan. Dia menaiki lift untuk mencapai ruangan Dathan.


Benar saja ketika sampai di ruangan Dathan, ternyata sekretaris Dathan tidak ada. Hal itu membuat Neta langsung ke ruangan Dathan. Dia mengetuk pintu dulu sebelum akhirnya membuka pintu.


“Permisi.” Dengan pelan, Neta mendorong pintu agar bisa masuk.


Dathan yang sedang asyik menatap laptopnya segera mengalihkan pandangannya pada pintu yang terbuka. Dilihatnya Neta menyembul dari balik pintu. Akhirnya gadis yang ditunggunya itu datang juga. Sejak tadi pagi, Dathan dibuat tidak fokus. Dia seolah tak sabar menunggu waktu yang terus bergulir. Karena tak sabar untuk bertemu dengan Neta. Tidak melihat gadis itu kemarin, membuat Dathan begitu merindukannya sekali.


“Masuklah.” Dathan berdiri. Sambil mengayunkan langkahnya dia memasang kancing kemejanya. Menghampiri Neta yang perlahan masuk ke ruangannya.

__ADS_1


Neta masuk. Matanya memindai sekitar. Tidak tampak Loveta di ruangan Dathan. Dia mulai berpikir ke mana perginya Loveta. Tadi dia dengar sendiri jika sekretaris Dathan sedang beristirahat.


Apa Loveta ikut dengan sang sekretaris makan?


Pertanyaan itu yang berada di kepala Neta. Menebak ke mana perginya Loveta.


“Sejak tadi aku menunggumu.” Dathan tersenyum manis. Dia benar-benar merasa senang sekali.


“Kenapa Pak Dathan harus menunggu. Saya bilang ‘kan ke sini saat makan siang.” Neta yang mendengar Dathan menunggunya merasa tidak enak.


Dathan mengayunkan langkahnya mendekat pada Neta. Tepat di depan Neta, dia berhenti. Pandangannya tak beralih sedikit pun dari wajah cantik Neta. Hal itu tentu saja karena wajah cantik Neta itu sudah mengusik hidupnya.


“Karena menunggu itu melatih kerja jantung. Jadi tentu saja aku akan melakukannya. Apalagi menunggu.” Dathan memandangi penuh damba pada Neta. Kalimat yang keluar dari mulutnya benar-benar menyiratkan rasa cinta yang mendalam.


Pipi Neta menghangat. Dia benar-benar dibuat tak berdaya dengan gombalan dari Dathan. Benar-benar membuatnya terbuai dengan kisah cinta yang Dathan mulai.


Neta pernah menjalin hubungan dengan seorang pria, tetapi entah kenapa perasaan kali ini berbeda. Jika dulu, dialah yang mengejar dan mengharapkan kasih sayang dan perhatian, tetapi kini tanpa diminta pun Dathan melakukannya.


“Apa kita bisa mulai wawancaranya, Pak?” tanya Neta pada Dathan.


Dathan tersenyum tipis. “Kita makan dulu.” Dia segera beralih mengayunkan langkahnya ke sofa yang berada tak jauh darinya. Kemudian mendudukkan tubuhnya.


Neta mengalihkan pandangan pada Dathan yang sedang duduk. Di atas meja dia melihat terdapat makanan di sana. Neta merasa heran, kenapa tadi dia tidak melihatnya, padahal sebelumnya dia sempat mengedarkan pandangan pada sofa itu.


“Kamu pasti ke sini saat jam istirahat, jadi aku sengaja menyiapkan makan siang ini. Ayo duduklah.” Dathan menatap Neta yang masih berdiri.


Neta segera ikut bergabung. Dathan segera menyerahkan kotak makanan. Kotak makan terlihat begitu mewah. Berbeda sekali dengan tempat makan yang sering dibawanya ke kantor. Saat membukanya dia melihat di sana ada olahan makanan sehat. Mulai sayur, ikan, nasi, dan kacang-kacangan juga. Tak lupa ada buah juga yang terselip. Hal itu menyadari jika Dathan memakan makanan sehat.


“Apa kamu tidak suka?” tanya Dathan.

__ADS_1


Mendapatkan pertanyaan itu Neta pun menggeleng. Dia mengalihkan pandangan pada Dathan. Yang mulai makan hanya dirinya, sedangkan Dathan masih diam saja. Tak sama sekali bergerak memulai makan juga.


“Pak Dathan tidak makan?” tanya Neta.


Dathan malu sekali, dia menegur Neta, tetapi dirinya sendiri justru melakukan hal yang sama. Namun, bukan Dathan jika panik. Dia tampak tenang. “Aku memastikan dulu kamu makan.” Dia meraih kotak yang sama dengan Neta.


Mereka berdua segera makan. Masakan tidak enak sekali di lidah Neta. Tidak terasa asin dan hambar. Namun, perutnya sudah lapar. Jadi tentu saja dia akan memakannya saja. Dari pada perutnya sakit.


“Cinta tidak ada di sini, Pak?” Usai makan, Neta melemparkan pertanyaan itu. Sejak dia makan sampai selesai, Loveta tidak tampak sama sekali.


“Tadi dia dijemput Reno. Mungkin diajak makan siang dulu.” Dahan memberitahukan ke mana perginya anaknya yang tak tampak sama sekali.


Neta menganggukkan kepalanya. Dia segera merapikan makanan yang baru saja selesai dimakan. Tak lupa milik Dathan juga. Dathan pun langsung menyingkirkan kotak makan itu agar meja kosong. Mereka menunggu sejenak untuk memulai wawancara.


“Kita mulai wawancaranya?” Dathan menatap Neta memberikan kode.


Neta segera mengambil tasnya. Menyalakan perekam suara untuk merekam suara Dathan. Tak lupa dia mengambil kertas yang tadi pagi sudah disiapkannya.


“Apa Anda siap, Pak?” tanya Neta. Dia bersiap untuk menyalakan perekam suara.


Dathan mengangguk pasti.


“Terima kasih, Pak Dathan meluangkan waktu untuk wawancara. Saya ingin menanyakan tentang awal mula Pak Dathan memulai IZIO. Apa Pak Dathan bisa menceritakannya?”


“Mendiang papa dan mamaku yang membuat toko ini. Dulu kami hanya menjual perabot rumah tangga di sebuah ruko kecil. Saat aku mulai tumbuh kuliah, aku mulai memikirkan cara agar toko ramai. Aku mulai menyusun rapi toko, hingga orang yang datang bisa nyaman saat berbelanja. Sejak orang tuaku meninggal, aku mengurus penuh toko keluargaku. Hingga akhirnya aku mulai berinovasi membuat toko lebih besar lagi. Berawal tidak adanya yang mau bekerja sama menyuplai barang pada tokoku, aku memutuskan untuk memproduksi sendiri. Apa pun itu yang ada di rumah, bisa didapatkan di IZIO. Dari alat masak dapur, perabotan rumah, peralatan kebersihan, furnitur, dan perlengkapan lainnya. Aku memakai brand sendiri dan berdiri sendiri hingga bisa membuat IZIO besar.” Dathan menjelaskan secara detail awal mula IZIO dibangun.


Neta cukup terpukau. Dia pikir, Dathan berasal dari anak orang kaya. Namun, dia salah. Karena ternyata itu adalah hasil perjuangannya.


“Apa yang membuat Anda termotivasi untuk membuat IZIO?”

__ADS_1


Dathan langsung mematikan perekam suara ketika pertanyaan itu terlontar dari mulut Neta. Neta cukup terkejut dengan yang dilakukan Dathan.


“Kita sudah sepakat, 1:1. Satu pertanyaan darimu, satu pertanyaan dariku.” Dathan mencoba mengingatkan kesepakatan yang sudah dibuat oleh Dathan dan Neta kemarin.


__ADS_2