
Sudah sembilan bulan kandungan Neta. Karena mengandung dua janin, tentu saja membuat Neta memilih untuk tidak ke mana-mana. Mengurangi aktivitasnya di luar rumah.
“Adik bayi bergerak.” Loveta sedang asyik sekali. Menikmati memegang perut sang mami. Sedari tadi adiknya di dalam kandungan terus bergerak terus. Membuat Loveta begitu senang.
“Adek di dalam perut mami mau ajak Cinta main.” Dathan tak kalah. Dia juga ikut memegangi perut sang istri. Menikmati waktu bersama bertiga.
Setiap sore mereka bertiga memang menyempatkan diri untuk menikmati perut Neta yang sudah membesar. Apalagi saat sore, janin dalam perut Neta selalu bergerak.
“Nanti jika adik bayi lahir. Kita main ya.” Loveta begitu bersemangat sekali. Tak sabar menunggu adik bayinya lahir.
Neta dan Dathan tersenyum. Melihat Loveta yang begitu antusias tentu saja membuat mereka senang.
“Adek bayi kapan lahir?” tanya Loveta menatap Neta dan Dathan secara bergantian.
“Sebentar lagi. Cinta sabar.” Neta tersenyum sambil membelai lembut rambut sang anak.
“Baiklah, Lolo akan menunggu.” Loveta tersenyum. Setelah tadi menempelkan tangan di perut sang mami, kali ini Loveta menempelkan telinganya di perut sang mami. Dia ingin mendengar suara yang terdapat dalam perut sang mami.
Kruk ... kruk ....
Seketika perut Neta berbunyi. Loveta yang mendengar itu segera menjauhkan telinganya.
“Adik bayi bunyinya kruk ... kruk ....” Loveta menjelaskan pada mami dan papinya.
__ADS_1
“Itu bukan suara adik bayi, Sayang. Itu suara perut Mami yang lapar.” Neta tertawa. Merasa malu saat anaknya mendengar suara perutnya. Padahal anaknya ingin mendengar suara detak jantung adiknya.
Loveta ikut tertawa. Dia merasa lucu sekali ketika mendengar suara perut sang mami. Dia pikir itu adalah suara adiknya.
“Kamu lapar, Sayang?” Dathan menatap sang istri sambil menyelipkan rambut di balik telinga Neta.
“Iya, aku lapar.” Neta mengangguk. Terakhir makan, Neta saat siang tadi. Setiap sore Neta memang lapar. Apalagi menunggu jam makan malam, tentu saja lama.
“Kamu mau makan apa?” Hari ini Dathan libur. Jadi tentu saja dia akan punya waktu untuk mencarikan makanan yang sang istri inginkan.
Neta memikirkan apa yang ingin dimakannya. Ini masih sore. Tentu saja dia tidak mau makan ringan saja. Karena tentu pasti akan membuat perutnya tak berhenti berdendang.
“Donat.” Neta memikirkan apa yang ingin dia makan sore ini.
“Tapi, aku tidak mau beli.” Neta menatap sang suami. Dia merasa jika beli, rasanya akan sama saja. Dia mau yang spesial.
“Kalau begitu bagaimana jika tidak dibeli?” Dathan bingung dengan yang diinginkan sang istri.
“Aku mau kamu yang buat. Apakah kamu bisa?” Neta menatap sang suami. Merasa jika dibuat tentu saja itu akan membuatnya makan sepuasnya.
Dathan terdiam. Dia tidak yakin bisa membuat donat. Namun, demi sang istri tentu saja dia akan membuatkannya.
“Baiklah, aku akan membuatkannya.” Dathan memilih untuk menuruti apa yang diinginkan oleh sang suami.
__ADS_1
Neta tersenyum senang. Tak sabar menunggu memakan donat buatan sang suami.
“Cinta mau bantu Papi?” tanya Dathan menatap anaknya.
“Iya, Lolo mau.” Loveta selalu suka jika diajak untuk memasak.
Dathan mengulurkan tangan pada Loveta. Kemudian menajak anaknya di dapur. Dathan mendudukkan tubuh sang anak di kursi. Memintanya untuk menunggu mengambil bahan.
Dathan mencari bahan-bahan untuk membuat donat. “Tepung, gula, ragi instan.” Dathan mendapatkan bahan itu di lemari tempat-tempat menyimpan bahan. Kemudian membuka lemari pendingin.
“Telur, margarin, susu, coklat batang.” Dathan menemukan bahan-bahan tersebut di lemari pendingin. Segera membawanya ke meja di mana anaknya berada. “Baiklah kita buat.” Dathan tersenyum.
“Ayo.” Loveta begitu bersemangat.
Alih-alih langsung memegang bahan-bahan dan mencampurnya, Dathan justru mengambil ponselnya. Memainkan ponselnya.
“Papi kenapa main ponsel?” Sudah bersemangat, tetapi sang papi justru memainkan ponsel. Dipikir Loveta, mereka akan segera mulai membuat donat.
“Papi lihat resep dulu.” Dathan tersenyum sambil memamerkan giginya. Dia tidak tahu cara membuatnya. Walaupun tahu bahannya apa. Jadi dia harus melihat video memasak dulu agar tahu bagaimana membuat donat.
“Oh ....” Loveta mengangguk.
Dathan mencari video memasak donat. Kemudian menikmati menonton berdua dengan Loveta. Ayah dan anak itu asyik sekali melihat video memasak di ponsel. Mereka memerhatikan dengan saksama bagaimana donat dibuat.
__ADS_1
Dahi Dathan berkerut dalam ketika melihat bagaimana membuat lingkaran donat. Itu tampak begitu sulit. Jadi dia tidak yakin bisa. Yang ada bukan bulat, tapi bentuk abstrak yang akan dibuatnya. Hingga akhirnya, dia menemukan ide bagaimana membuat donat benar-benar bulat.