
“Karena kamu yang mewawancarai.” Dathan menyeringai.
Mendengar jawaban itu Neta membulatkan matanya. Bagaimana bisa Dathan mengatakan itu. Padahal wawancara sedang direkam.
“Maksudnya, kenapa saya?” tanya Neta. Dia terlanjur merekam. Tidak mau jadi salah paham nanti jika wawancaranya didengar oleh orang lain.
“Karena aku yakin, kamu hanya akan bertanya tentang bisnis. Bukan masalah pribadi.” Dathan sendiri sadar jika Neta merekamnya. Jadi dia harus menjawab sesuai dengan yang ditanyakan.
Neta tersenyum. Dia memang lebih memfokuskan diri pada berita bisnis. Tentu saja dia akan membuat berita bisnis, bukan berita gosip.
“Apa Anda ada trauma dengan wartawan?” Neta penasaran sekali. Karena sulitnya Dathan diwawancara dirasakan banyak temannya.
“Dibilang trauma tidak. Hanya aku tidak mau lagi jika aku dikenal orang karena kehidupan pribadi. Biar orang kenal Dathan Fabrizio sebagai seorang pebisnis saja. Tanpa tahu masalah pribadi apa yang menghampirinya.” Sejak perceraiannya sempat tercium media, memang Dathan berusaha menghindarinya. Sejak saat itu dia memang tidak menerima wawancara. Apalagi kala itu, dia sedang berusaha keras membangun IZIO jauh lebih besar dan juga menjaga anaknya yang kala itu masih begitu kecil.
Neta sadar Dathan tidak mau dikorek urusan pribadinya. Jadi dia menghargai saja. Dia memilih pertanyaan yang memang umum saja yang ditanyakan.
“Bagaimana cara Anda membagi pekerjaan dan keluarga?” tanya Neta.
“Keluarga adalah prioritas utamaku. Jika keluargaku membutuhkan, aku akan meninggalkan pekerjaan. Aku akan melanjutkan kembali pekerjaanku setelah keluargaku aman.” Dathan memang seorang yang mengutamakan keluarga di atas segalanya. Jadi dia akan berusaha menjaga itu semua.
Neta yang mendengar penjelasan Dathan hanya bisa tersenyum. Beberapa hari mengenal Dathan memang membuatnya mengerti bagaimana Dathan. Jadi wajar jika dia akan mengutamakan keluarganya.
“Bagiku, aku bekerja untuk membahagiakan keluargaku. Jika aku bekerja, tanpa melihat waktu dan membuat keluarga, terutama anakku sedih, lalu apa yang aku dapat?” Dathan kembali melanjutkan.
Tak ada habisnya Neta mengagumi Dathan. Pria itu benar-benar seorang ayah yang luar biasa. Namun, pertanyaan di dalam hatinya menggelitik. Kenapa dia bisa bercerai? Apa dia tidak bisa menjadi suami yang baik?
Sayangnya, pertanyaan itu tidak tepat diberikan pada Dathan kali ini. Jadi Neta memilih menyingkirkan pertanyaan itu dari pikirannya.
“IZIO sudah berkembang pesat, sudah banyak cabang yang dibuka, sudah ada pabrik juga, apa harapan Anda pada IZIO?” Neta memilih fokus pada pertanyaan bisnis.
“Setiap pengusaha sudah pasti ingin perusahaannya berkembang lebih pesat. Begitu aku. Aku berharap IZIO terus berkembang. Bisa menyerap tenaga kerja yang banyak agar bisa membantu perekonomian orang lain.” Dathan sadar jika dia mau membantu banyak orang dengan memberikan pertolongan.
__ADS_1
Neta mengangguk mengerti. Sudah banyak pertanyaan yang diberikan ternyata.
“Apa Pak Dathan bisa memberikan pesan untuk mereka yang sedang memulai bisnis.” Neta mengakhiri wawancara kali ini dengan satu pertanyaan.
“Tentukan dulu apa tujuan dari bisnis itu. Saat kamu tahu ke mana arah berjalan, pastinya itu akan jauh lebih mudah. Jika kamu memiliki keluarga, ingatlah mereka adalah pilar pertama untuk kalian. Jangan sampai kalian melupakan itu. Karena saat kalian bekerja, ada rezeki mereka yang dititipkan Tuhan padamu. Jika kamu menyayangi keluargamu, maka Tuhan akan lancarkan usahamu.”
Neta tak bisa berkata-kata. Dathan begitu hebat di matanya. Sebagai seorang pengusaha dia cukup handal. Sebagai seorang ayah, dia juga begitu hebat. Namun, satu hal yang masih mengganjal, bagaimana Dathan sebagai sosok suami? Apa yang menyebabkan kandasnya pernikahan dengan mantan istrinya.
Neta yang mengakhiri wawancara. Mematikan perekam suara. “Terima kasih sudah memberikan wawancara yang luar biasa ini.” Neta menatap Dathan dengan lekat.
“Sama-sama.” Dathan menjawab sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ada beberapa data perusahaan seperti tanggal dibangunnya IZIO, di mana IZIO pertama dibangun, nilai pertumbuhan IZIO, dan beberapa data lain. Apa kamu bisa memberikannya?” Neta harus punya data pendukung itu untuk membuat wawancaranya semakin sempurna.
“Tentu saja. Kamu bisa datang besok ke kantor untuk mendapatkan data itu.” Dathan tentu saja akan membantu Neta. Selama ini masih urusan bisnis dan bukan masalah pribadi, tentu saja dia tidak akan keberatan.
Neta senang. Paling tidak pekerjaannya akan cepat selesai. Jadi dia bisa menyerahkan laporan ini. Pekerjaan lain menunggunya setelah ini. Jadi tentu saja dia harus bekerja keras agar satu per satu pekerjaannya selesai.
Dathan langsung merentangkan tangannya membawa Loveta ke dalam pelukannya. Aroma bedak bayi yang tercium membuat Dathan menyadari jika anaknya sudah mandi.
“Wah ... anak Papa sudah mandi.” Dathan mendaratkan kecupan di pipi Loveta.
“Tadi Lolo mandi dengan Bibi.” Loveta yang bangun tidur langsung diurus oleh asisten rumah tangga. Kebetulan memang biasanya asisten rumah tangga yang memandikan Loveta.
“Pantas wangi.” Dathan mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipi Loveta. Bulu halus di rahang Dathan membuat Loveta tertawa.
Neta yang melihat Dathan begitu menyayangi Loveta merasa begitu kagum. Bagaimana seorang ayah bisa menyayangi anaknya seperti itu. Sampai harus membawanya ke tempat kerja agar bisa memantaunya terus menerus. Sungguh luar biasa mengorbankannya.
Setelah tertawa, Loveta melihat ke belakang.
“Aunty Neta.” Dia menyadari jika Neta ada di sana.
__ADS_1
“Halo, Cinta.” Neta menyapa Loveta dengan manis.
“Halo, Aunty.” Loveta melepaskan pelukannya dari sang papa dan beralih ke pelukan Neta.
“Aunty bau, Loveta wangi.” Neta merasa tidak enak dengan Loveta. Seharian tadi dia bekerja. Jadi wajar saja jika dia berkeringat.
“Aunty wangi.” Loveta menjelaskan pada Neta. “Yang bau itu papa.” Dia tertawa sambil menoleh ke arah sang papa.
Dathan yang melihat hal itu memicingkan matanya. Dia langsung mencium kemejanya. Loveta langsung tertawa melihat aksi sang papa.
“Iya, bau asap.” Dathan menyadari bau apa yang dimaksud anaknya.
Neta ikut tersenyum melihat aksi Dathan. Sejak tadi Dathan memang di depan panggangan. Jadi wajar bau asap.
“Papa mandi dulu kalau begitu, Cinta dengan Aunty Neta dulu.” Dathan langsung berdiri. Dia malu dengan Neta. Nanti pesonanya hilang jika bau asap.
“Siap, Papa.” Loveta langsung memberikan jempolnya pada Dathan.
Dathan menatap Neta. “Titip sebentar.”
“Iya.” Neta tersenyum.
Dathan pergi dari ruang makan. Meninggalkan Loveta bersama dengan Neta.
Selepas papanya pergi, Loveta menarik Neta ke balkon yang berada di samping.
“Cinta suka sekali di balkon ini.” Loveta menceritakan pada Neta.
“Oh ... ya, kenapa suka di sini?” Neta berpikir karena Dathan bilang juga suka balkon ini. Jadi mungkin anaknya sama.
“Karena mama juga suka tempat ini.” Loveta tersenyum manis.
__ADS_1
Seketika senyum Neta surut. Dia pikir karena Dathan suka balkon ini, tetapi ternyata bukan. Justru mantan istrinya yang suka.