
Waktu menunjukkan jam sepuluh. Arriel sedang berenang dengan anaknya. Sejak satu jam lalu setelah sarapan, mereka menikmati waktu bersama. Tawa Loveta terdengar begitu riang sekali.
“Mama tangkap Lolo.” Loveta melompat ke dalam air.
Dengan gerakan cepat Arriel menangkap anaknya, tetapi anaknya begitu jago karena sudah keluar dari dalam air sendiri. Arriel cukup terpukau karena anaknya begitu hebat sekali. Setahunya memang datang seminggu sekali menghadirkan guru les renang ke rumah. Jadi wajar saja jika Loveta begitu hebat.
“Kemarin Aunty Neta dan papa berlomba. Seru sekali.” Dengan polosnya Loveta menceritakan pada sang mama.
Untuk sejenak Arriel terdiam. Dia merasa jika nama itu mulai mengusiknya. Apalagi anaknya menyebutnya beberapa kali.
“Ayo, Sayang. Kita segera membersihkan diri. Kita harus segera pulang.” Arriel memilih menghindari pembahasan tentang Neta. Baru keluar dari mulut Loveta saja dia sudah cemburu. Apalagi jika dia benar-benar melihat kedekatan Neta dan anaknya.
Loveta dengan senangnya naik ke atas. Dia bersorak senang ketika akan diajak pulang.
“Ye ... pulang.” Loveta begitu senang sekali.
Arriel segera mengulurkan tangan pada anaknya. Mengajak anaknya untuk masuk dan mandi. Loveta seolah benar-benar senang sekali.
“Lolo senang jalan-jalan atau di rumah?” Arriel melempar pertanyaan itu pada anaknya ketika memandikan sang anak.
“Lolo suka keduanya.” Loveta tersenyum manis.
Arriel tersenyum. “Nanti Lolo akan tinggal dengan Mama. Jadi besok Mama akan antar Lolo untuk sekolah.” Dia menjelaskan pada anaknya rencananya.
Senyum Loveta seketika surut dari wajahnya. Dia yang begitu senang karena merasa jika setelah ini nanti dia akan bertemu papanya. Namun, ternyata dia tidak akan bertemu dengan papanya. Karena harus pulang ke rumah mamanya.
__ADS_1
Arriel menyelesaikan anaknya yang mandi. Membawanya ke kamar dan menggantikan baju. Karena sibuk mengurus anaknya itu, dia tidak menyadari perubahan wajah sang anak.
“Kita tidak ke rumah papa?” Loveta menatap sang mama yang sedang membantu memakai pakaian.
Arriel menatap sang anak. Dia tahu ini pasti akan sulit untuk Loveta jauh dari papanya lama-lama. Namun, dia harus mengajari anaknya itu.
“Mama masih rindu dengan Lolo. Sudah dua minggu tidak bertemu. Jadi sementara Lolo tinggal dengan Mama dulu.” Arriel memasang wajahnya memelas. Berharap anaknya tahu perasaanya.
Loveta memandang sang mama yang begitu berharap dengan tulus. Hal itu membuat Loveta tidak bisa menolak.
“Baik.” Loveta tersenyum.
“Nanti kita telepon papa setelah Lolo selesai memakai baju. Lolo belum cerita papa kemarin lihat hewan apa saja ‘kan.” Arriel memberikan ide pada anaknya.
Loveta langsung girang sekali. Mood anak-anak memang cepat sekali dirubah. Perasaan senang pun begitu cepat hadir. Tentu saja hal itu membuat Arriel merasa lega, karena akhirnya anaknya mau ikut dirinya pulang.
Dathan dan Neta sampai di rumah Dathan. Mereka langsung menuju ke lantai atas. Tempat masak favorit Dathan. Neta juga mulai suka dengan tempat tersebut. Apalagi tempatnya begitu nyaman.
Dathan segera meletakkan belanjaan di atas meja. Untuk daging, dia langsung masukkan ke lemari pendingin. Menjaga keadaan daging tetap aman dan segar.
“Sebaiknya kita istirahat dulu.” Dathan merasa perlu bersantai dulu sebelum memulai memasak.
Neta mengangguk. Dia yang haus mengambil air dingin di lemari pendingin. Membawanya segelas air itu ke sofa yang berada di samping dapur. Neta menikmati minumnya sambil duduk di sofa. Mengistirahatkan sejenak tubuhnya sebelum mulai membantu Dathan memasak.
Neta menegak air yang berada di dalam gelas. Namun, tidak sampai habis. Masih tersisa seperempat gelas, dan meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
Dathan yang melihat sang kekasih duduk, segera menghampiri. Dia duduk tepat di samping sang kekasih. Melihat gelas yang masih berada di atas meja dia mengambilnya. Berniat untuk meminumnya.
Saat melihat gelas, Dathan mencari posisi gelas sebelum menempelkan bibirnya.
“Cari apa kamu?” Neta merasa aneh dengan sikap Dathan. Padahal tinggal minum saja.
“Mencari posisi bekas bibirmu.” Dengan polosnya dia menjawab itu.
Neta tersenyum. Bisa-bisanya Dathan melakukan hal itu.
“Kamu pakai lipstik waterproof, jadi aku kesulitan mencari di mana bekas bibirmu.” Dathan masih menerawang mencari bekas bibir Neta. Sampai akhirnya dia menemukan di mana letakan bekas bibir Neta menempel di gelas.
Neta hanya menggeleng heran. Bisa-bisanya Dathan melakukan hal aneh itu. Mencari di mana bekas bibirnya menempel.
Sisa air yang berada di dalam gelas diminum sampai habis oleh Dathan. Kemudian pria itu meletakkan gelasnya di atas meja lagi.
“Rasanya manis, semanis bibirmu.” Dathan mengedipkan matanya.
Neta hanya bisa tersenyum. Mungkin itu semacam berciuman secara tidak langsung.
Tepat saat sedang menggoda Neta, tiba-tiba ponsel Dathan berdering. Dia segera merogoh ponsel yang berada di dalam kantungnya. Saat melihat layar ponselnya, dia melihat nama Arriel tertera.
“Siapa?” tanya Neta yang ingin tahu.
“Arriel.” Dathan menunjukkan ponselnya.
__ADS_1
“Angkat saja.” Neta menatap Dathan.