Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Menikmati Waktu Berdua


__ADS_3

“Apa harus sampai bawah?” tanya Neta yang merasakan pakaiannya diturunkan oleh Dathan.


“Tentu saja.” Jika hanya bahu saja. Itu kurang. Badanmu tetap akan merasa sakit. Dathan melanjutkan kembali memijat sang istri.


Di tempat spa juga biasanya sampai punggung, tentu saja Neta mengizinkan.


Dathan terus memijat punggung Neta. Neta benar-benar merasakan tubuhnya lebih nyaman. Memang terkadang dia butuh waktu untuk membuat tubuhnya nyaman, dan spa adalah pilihan terbaik. Jadi tentu saja ini sangat bermanfaat untuk memulihkan tenaganya yang terkuras sepanjang bekerja.


“Apa yang kamu tidak bisa? Semua bisa kamu lakukan. Memijat, memasak, bekerja, mengurus anak.” Neta menyebutkan semua apa yang bisa dilakukan sang suami.


Dathan tersenyum. “Tentu saja ada yang tidak bisa aku lakukan.”


“Apa?” Neta penasaran.


“Hamil.” Dathan menjawab cepat.


“Oh … iya.” Neta membenarkan.


Tangan beralih semakin bawah. Namun, tiba-tiba Neta menghentikan tangan sang suami. “Di situ tidak perlu. Kaki saja.” Neta meminta tempat lain untuk dipijat.


Bukan Dathan namanya jika melewatkan kesempatan emas. Dia menarik kain yang membungkus tubuh sang istri. Hingga benar-benar terlepas. “Kapan lagi aku memegangnya.” Tangannya bergerak memijat bagian kenyal itu.


Neta sudah tidak bisa berkata-kata. Larangan adalah perintah bagi Dathan. Dia hanya pasrah. Walaupun sebenarnya dia menikmati juga. Karena selama ini Neta selalu kerja duduk. Jadi paling tidak itu membuatnya pegal.


Tangan Dathan mulai turun ke kaki. Namun, gerakannya dibuat perlahan. Hinga tepat di pangkal paha, Dathan berhenti. Saat tangannya hendak menyusup masuk, tiba-tiba Neta langsung membalikkan tubuhnya ke belakang untuk mencegah tangan sang suami.


“Kita hanya mau pijat biasa saja. Bukan plus-plus.” Neta memberikan peringatan pada sang suami.

__ADS_1


“Biasa saja itu ‘kan di salon spa. Di sini lain.” Dathan mengedipkan mata.


Neta membulatkan matanya. Suaminya benar-benar membuat jantungnya berdetak kencang.


Melihat sang istri yang membulatkan mata jelas membuat Dathan tertawa. Dia merasa gemas. “Sudah, kembali pada posisimu. Aku tidak akan melakukan itu.” Dathan memang hanya ingin menggoda sang istri.


Neta menekukkan bibirnya. Sang suami memang senang sekali membuatnya panik. Karena sang suami sudah mengatakan jika dia hanya menggoda, Neta kembali pada posisinya. Kini Dathan melanjutkan acara memijat. Bagian kaki yang biasanya orang-orang merasa pegal.


“Ayo berbalik.” Dathan akan memijat bagian depan.


“Depan juga?” tanya Neta memastikan.


“Tentu saja. Cepat berbalik.” Dathan meminta sang istri berbalik.


Neta pun berbalik. Namun, seketika dia menarik kembali pakaian untuk menutup bagian dadanya. Tidak mau sang suami melihat.


“Kenapa ditutup?” Dathan menatap istrinya yang berusaha menutup rapat.


Dathan tahu istrinya sudah berjaga-jaga. Tak menunggu lama, dia pun segera memijat tangan sang istri. Dari tangan mulai ke bahu bagian depan. Perlahan turun ke dada bagian atas.


“Sudah.” Tepat saat di dada, Neta menghentikan kembali gerakan tangan Dathan.


“Apa kamu tahu jika bagian itu juga pegal?”


“Mana bisa.” Neta menatap tak percaya.


“Coba bayangkan. Berapa lama bra menyangganya dalam sehari. Ketatnya tali bra, membuat aliran dari di bagian itu kurang berjalan dengan lancar. Jadi itu berakibat pegal.”

__ADS_1


Neta masih tidak bisa menerima alasan tersebut.


“Aku hanya mau melancarkan aliran darah di sekitar sana saja.” Dathan tersenyum menyeringai.


Alasan Dathan masuk akal. Jadi Neta pun membiarkannya.


Dathan yang mendapatkan kesempatan itu tentu saja tidak akan melepaskannya.


Tangannya segera memijat benda kenyal bak gunung yang menjulang tinggi itu. Namun, gerakan tangan Dathan justru membuat Neta menggigit bibir bawahnya. Menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara erangan.


Dathan yang gemas pun mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri. Jika ada kesempatan, kenapa harus dilepaskan.


Untuk sesaat mereka menikmati ciuman. Saling menyesap bibir manis masing-masing. Neta selalu tahu ke mana kegiatan ini akan bermuara. Tentu saja pada pencarian sumber kenikmatan yang selalu menjadi candu bagi keduanya.


...****************...


Saat tubuh lelah karena kegiatan candu, Dathan mengajak Neta untuk berendam. Kembali memberikan kenyamanan. Dathan tahu bagaimana membuat istrinya rileks-lelah-dan rileks lagi.


Neta yang berendam di dalam bathtub. Aroma bunga lili yang tercium membuat Neta benar-benar rileks.


“Kapan lagi menikmati seperti ini bersama?” Dathan yang juga berada di dalam bathtub yang sama bertanya pada istrinya itu.


“Jadi karena itu kamu menyuruh orang-orang pergi?” tanya Neta.


Dathan hanya menjawab dengan tawa. Dia memang sengaja melakukan itu agar bisa menikmati waktu berdua dengan sang istri.


“Mau apa lagi setelah ini?” Neta sebenarnya juga suka. Dia merasa menikmati waktu bersama dengan sang suami.

__ADS_1


“Menonton film.” Dathan memberikan ide.


“Baiklah.” Neta setuju. Liburan kali ini pasti akan menyenangkan, karena bisa puas menikmati waktu berdua.


__ADS_2