Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Pertemuan Kafa dan Dathan


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya.


Reno akhirnya mendapatkan nomor dari Syailendra. Mengingat jika yang dikenal adalah Syailendra, akhirnya Dathan menghubungi Syailendra. Berharap dapat dihubungkan pada sang anak yang sekarang menjabat sebagai CEO Syailendra Grup. Dathan pun segera ke rumah Syailendra pagi ini. Tadi dia hanya membuat janji karena tidak enak jika membicarakan hal ini melalui telepon. Beruntung Syailendra mempersilakan Dathan untuk datang.


Dathan sampai di rumah Syailendra. Segera dia masuk ke rumah tersebut. Asisten rumah tangga meminta Dathan untuk menunggu pemilik rumah yang sedang dipanggil. Beberapa saat kemudian Syailendra datang. Dia segera menemui Dathan.


Dathan yang melihat Syailendra datang segera berdiri. “Selamat pagi, Pak Syailendra.” Dia menyapa dengan sopan pria paruh baya tersebut. Mengulurkan tangannya pada Syailendra.


“Selamat pagi, Pak Dathan.” Syailendra tersenyum sambil menerima uluran tangan Dathan. “Ayo, silakan duduk.”


Ketika dipersilakan duduk, Dathan segera duduk. Dia duduk berhadapan dengan pemilik rumah.


“Ada gerangan apa ini sampai Pak Dathan ke sini?” Syailendra menatap pria yang dikenalnya sulit ditemui.


“Sebenarnya saya malu ke sini saat ada perlunya. Tapi, sebenarnya saya ingin bertemu Pak Syailendra karena ingin meminta tolong dikenalkan pada putranya.” Dathan tersenyum malu. Mungkin setelah ini, dia harus sering-sering datang ke acara pengusaha. Mengingat akan membuatnya banyak koneksi.


“Apa ini terkait kasus majalah kemarin?” Syailendra sudah tahu akan hal ini. Kemarin anaknya sempat bertanya pada dirinya apa kenal dengan Dathan Fabrizio. Anaknya pun menceritakan hal itu.


“Iya, Pak.” Dathan mengangguk.


“Tentu saja saya akan mengenalkan. Justru saya senang Pak Dathan datang ke sini untuk menyelesaikan masalah ini.” Syailendra mengakui jika Dathan cukup berani datang menemuinya.


“Saya merasa bertanggung jawab, Pak. Karena itu saya datang.”


“Baiklah, tunggu saya akan coba menghubungi.” Syailendra segera mengambil ponselnya. Kemudian menghubungi Kafa.

__ADS_1


Kebetulan Kafa baru saja sampai di kantor. Saat diberitahu jika Dathan ingin bertemu, Kafa justru meminta Dathan untuk datang ke kantornya saja. Mengobrol di kantor. Syailendra menyampaikan apa yang dikatakan oleh anaknya. Dia meminta Dathan untuk bertemu dengan Kafa sendiri.


“Terima kasih, Pak.” Dathan merasa bersyukur karena bisa mendapatkan bantuan dari Syailendra.


“Sama-sama. Semoga kalian bisa mendapatkan jalan keluar.” Syailendra tersenyum.


“Tentu saja.” Dathan mengangguk.


Dathan segera pergi ke kantor Syailendra. Dia segera bertemu dengan Kafa sesuai dengan apa yang dikatakan Syailendra tadi.


Di kantor Syailendra Grup, Dathan langsung dipersilakan resepsionis untuk ke ruangan Kafa. Resepsionis juga mengantarkan sampai ke ruangan Dathan. Tepat di depan ruangan Kafa, Dathan disambut sekretaris Kafa. Dipersilakan untuk segera masuk ke ruangan Kafa. Karena pria itu sudah menunggu.


“Selamat pagi.” Dathan menyapa Kafa yang berada di ruangannya.


“Pagi, Pak, silakan masuk.” Kafa tersenyum. Dia segera mempersilakan Dathan. Dia berdiri dari kursi yang didudukinya dan segera menghampiri Dathan. Tepat di depan Dathan dia mengulurkan tangan. “Kafa.” Dia mengulurkan tangan pada Dathan.


“Mari-mari kita duduk dulu.” Kafa mempersilakan Dathan untuk duduk bersama.


Dathan segera duduk di sofa yang terdapat di ruangan Dathan. Diikuti oleh Kafa yang duduk juga.


“Apa Pak Dathan datang ke sini untuk membahas tentang artikel majalah?” Kafa menebak kedatangan Dathan.


“Sepertinya Pak Kafa sudah tahu kedatangan saya.” Dathan tersenyum.


“Panggil saja Kafa.” Kafa merasa tua ketika dipanggil ‘Pak’.

__ADS_1


“Baiklah, Fa. Kalau begitu panggil Dathan saja.” Dathan mengikuti apa yang diminta Kafa dan mengganti panggilannya agar lebih akrab.


“Saya cukup terkesan karena ternyata wartawan kami bisa memikat seorang Dathan Fabrizio. Saya justru penasaran seperti apa istrimu.” Kafa tertawa. Hal seperti ini memang adalah hal biasa. Namun, baru kali ini melibatkan karyawannya.


“Sepertinya kualitas wartawan perusahaanmu tinggi, hingga membuat aku terpukau.” Dathan memuji. Dia mulai bicara tidak formal. Agar obrolan makin enak.


“Sepertinya HRD-ku bekerja dengan baik.” Kafa tertawa.


Dathan ikut tertawa. Namun, tawanya seketika terhenti ketika mengingat tujuannya datang. “Jadi aku ke sini untuk meminta maaf karena terjadi artikel seperti itu. Kami sudah tahu siapa yang menyebarkan dan akan segera ditangani. Tapi, aku sadar jika istriku membawa nama perusahaan ini ketika berita itu tersebar. Jadi tentu saja aku sebagai suami ingin meminta maaf.” Dengan berani Dathan datang meminta maaf untuk istrinya. Walaupun dia tahu, dia tidak boleh seperti ini karena sama saja mencampuri pekerjaan sang istri. Namun, dia tidak bisa membiarkan sang istri.


“Sebenarnya aku cukup terkejut dengan yang terjadi. Karena baru kali ini ada wartawan yang bisa membuat narasumbernya jatuh hati.” Kafa tersenyum. “Tapi, terlepas dari itu, ini akan berdampak pada karyawan lain, karena dengan begitu karyawan lain akan membuat ini hal yang boleh dilakukan. Kami juga sudah meminta perusahaan itu menarik majalahnya, tetapi karena mereka rival, jadi sedikit sulit.” Kafa menjelaskan dengan rinci.


Dathan mengerti yang dijelaskan Kafa.


“Karena itu aku sudah memikirkan bagaimana cara agar berita ini jauh lebih menguntungkan untuk kami. Karena aku rasa artikel lebih baik dibalas artikel adalah pilihan.”


“Maksudnya?” Dathan masih belum mengerti.


“Maksudnya—” Saat hendak menjelaskan tiba-tiba suara telepon di meja Kafa yang berada di samping Kafa berdering. Hal itu membuat ucapannya terhenti. Dia segera meraih gagang ponsel untuk mengetahui siapa yang menghubungi.


“Fa, wartawan yang kemarin di majalah R3al Gosip ke sini.” Gala di seberang sana memberitahu.


“Baiklah, aku akan ke sana.” Kafa segera meletakkan gagang telepon ke tempatnya. “Sepertinya aku akan jelaskan sekalian dengan istri saja.” Kafa tersenyum. Dia merasa menjelaskan sekaligus pada keduanya membuatnya menghemat energi.


“Baiklah.” Dathan mengangguk. Dia sudah tahu jika sang istri juga berada di tempat yang sama. Saat dirinya sampai di kantor, tadi sang istri mengirim pesan padanya.

__ADS_1


Dathan dan Kafa pun segera keluar dari ruangan Kafa. Menuju ke ruangan rapat di mana ada Neta di sana. Di lift, Kafa meminta Dathan untuk masuk beberapa saat darinya. Karena ingin bicara dengan Neta sebagai atasan Neta terlebih dahulu. Dathan pun mengikuti permintaan Kafa. Masuk beberapa saat setelah Kafa.


__ADS_2