
Neta dan Dathan menikmati makan bersama. Makan ditemani dengan suasana ikan yang berada di akuarium memang memberikan kesan yang berbeda.
“Aku seperti putri duyung di dalam lautan.” Neta tertawa. Dia merasa jika di depan akuarium seperti ini berasa di dalam air.
“Jika kamu putri duyung, aku harus menyelami lautan untuk mendapatkanmu.” Dathan yang hendak memasukkan makanan menatap Neta sejenak.
“Apa kamu akan menyelami lautan untuk bertemu aku?” tanya Neta.
“Tentu saja. Sedalam apa lautan yang aku harus selami, aku akan lakukan itu. Asalkan mendapatkanmu.”
Pipi Neta merona. Dia begitu malu ketika dirayu oleh Dathan. Entah kenapa Dathan begitu mengemaskan sekali.
Neta memandangi ikan-ikan di sela-sela makannya. Sesekali dia mengomentari ikan yang ada di balik akuarium.
“Ikan-ikan apa yang paling menderita?” Tiba-tiba Neta memberikan pertanyaan itu pada Dathan.
“Em ... ikan tidak punya uang.” Dathan tertawa.
“Salah.” Neta menggeleng.
“Em ... ikan tidak punya rumah.” Dathan kembali menjawab.
“Salah.” Neta kembali menggeleng.
“Lalu apa?” Dathan menyerah. Dia tidak bisa menebak pertanyaan Neta.
“Ikan tidak bisa berenang.” Neta tertawa sendiri. Padahal itu tebakan mudah, tetapi Dathan tidak bisa menjawab.
Dathan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Merasa jika Neta benar-benar lucu sekali.
“Tebak lagi. Ikan, ikan apa yang matanya banyak”
Dathan tampak berpikir. Dia mengingat mata ikan hanya dua. Jadi tidak ada yang banyak.
__ADS_1
“Tidak tahu.” Dathan langsung menyerah. Tidak bisa menebak pertanyaan Neta.
“Ikan teri sekilo.” Neta seketika tertawa.
Dathan merasa tebakan Neta biasa. Akan tetapi, tawa Neta menular padanya. Jadi membuatnya ikut tertawa.
“Ikan, ikan apa yang paling romantis?” Sekarang Dathan gantian bertanya.
Neta tampak berpikir. “Ikan duyung.” Dia menebak.
“Salah.” Dathan menggeleng.
“Lumba-lumba.” Neta kembali menjawab.
“Salah.” Dathan kembali menggeleng.
Neta semakin bingung. Dia tidak tahu ikan apa yang romantis seperti yang dikatakan oleh Dathan.
“Iya.” Akhirnya Neta mengaku kalah. Dia merasa jika tidak tahu jawabannya apa.
“Ikan yang romantis itu ... i kan not stop loving you.” Dathan mengucapkan dalam bahasa Inggris. Tepat di kata “i can” dilafalkan dengan kata “i kan” jadi artinya tetap ada kata ikan, walaupun maknanya lain.
Neta tersipu malu ketika Dathan mengatakan itu padanya. Itu benar hal romantis. Mungkin ikan yang romantis adalah Dathan sendiri.
Dathan segera berdiri. Dia segera meraih tangan Neta untuk ikut berdiri. Neta yang masih bingung pun mengikuti saja. Tepat di depan Neta, Dathan berlutut. Sebuah kotak yang diambilnya dari saku celana segera disodorkannya pada Neta.
“Marya Kineta, aku tidak bisa berhenti mencintaimu. Setiap waktuku selalu memikirkan kamu. Mungkin kamu bukan yang pertama dalam hidupku, tetapi aku ingin kamu menjadi yang terakhir untukku.” Dathan membuka kotak yang berisi cincin di dalamnya. “Marsya Kineta, maukah kamu menikah denganku.” Pertanyaan itu meluncur dari mulut Dathan. Pria itu melamar sang pujaan hati untuk menjadi istrinya. Ini lamaran kedua yang dilakukan Dathan. Namun, kali ini lebih serius lagi. Karena setelah ini, Dathan berniat menikahi Neta. Menjadikan Neta sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya.
Neta terperangah. Dia tidak menyangka jika ini tidak hanya makan bersama saja. Namun, juga sebuah lamaran yang diberikan oleh Dathan.
Neta benar-benar merasa terharu. Setelah melalui perjalanan panjang dari wawancara hingga Dathan menjelaskan pada Loveta jika kedua orang tuanya berpisah, kini semua akhirnya bermuara pada satu tujuan. Tujuan merajut sebuah pernikahan bersama.
Dathan adalah pria yang baik yang ada di hidup Neta. Jarak usia yang terpaut lima belas tahun tidak mengurangi rasa yang tumbuh di hati mereka. Justru semakin tumbuh subur di hati mereka.
__ADS_1
Kini penantian panjang itu berada dalam gerbang indah sebuah rencana pernikahan. Tentu saja Neta tidak akan menolak itu, karena memang itu yang diharapkannya.
“Aku bersedia.” Neta mengangguk setuju dengan lamaran yang diberikan oleh Dathan.
Dathan tersenyum. Dia segera meraih tangan Neta. Memakaikan cincin yang berada di dalam kotak.
Di ruangan dengan pencahayaan yang minim, kilauan berlian itu tetap terlihat begitu indah sekali.
Tepat saat cincin terpasang, suara party popper terdengar. Ternyata di balik kegelapan itu sudah ada Reno, Rifa, Richa, dan Loveta. Mereka bersorak senang melihat Neta akhirnya menerima Dathan.
Loveta segera menghampiri Neta. Bunga yang dibawanya diserahkan pada Neta. Bunga itu adalah ucapan selamat dari Loveta.
Neta melihat bunga sama persis yang diberikan Dathan. Hal itu membuatnya segera menerima bunga tersebut.
“Terima kasih, Sayang.” Neta menerima bunga tersebut.
“Sama-sama.” Loveta tersenyum.
Dathan tersenyum melihat aksi anaknya. Tadi dia melihat bunga bersama Dathan dan Reno. Karena indah dia meminta juga. Tidak menyangka jika bunga itu akan diberikan pada Neta juga.
“Jadi Aunty sudah bisa tinggal bersama Lolo dan papa?” Gadis kecil itu segera bertanya.
Neta langsung menatap Dathan. Anak-anak memang sesederhana itu berpikir. Dipikir setelah lamaran, mereka bisa tinggal bersama. Namun, tidak sesederhana itu.
“Papa dan Aunty Neta harus menikah dulu. Baru setelah itu Aunty Neta akan tinggal di rumah kita.” Dathan mencoba menjelaskan.
“Kalau begitu ayo menikah.” Loveta menarik tangan Neta. Ingin membawanya agar dapat segera menikah dengan sang papa.
Rasanya ingin tertawa. Namun, anak-anak terkadang punya pikirannya sendiri.
“Sayang, menikah tidak secepat itu. Harus disiapkan dulu. Siapkan gedung pernikahan, pesta pernikahan, hingga gaun pernikahan. Jadi sabar dulu.” Neta memberikan pengertian pada Loveta.
“Oh ....” Loveta baru tahu ternyata semua harus disiapkan lebih dulu. Walaupun sebenarnya dia tidak sabar, tetapi saat diminta sabar, dia pun akhirnya bersabar juga.
__ADS_1