Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Ke mana Cinta?


__ADS_3

Saat di luar Neta melihat sang suami. Tak menunggu lama, dia segera menghampiri untuk bertanya. Karena dia ingin tahu ke mana perginya sang anak.


“Sayang, ke mana Cinta?” Neta begitu panik ketika tidak mendapati sang anak di mana-mana.


“Cinta ke rumah mamanya.” Dathan dengan santai menjelaskan pada sang istri.


“Ke rumah Arriel?” Neta menatap sang suami dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa dirinya tidur saat anaknya pergi. “Kenapa kamu tidak bangunkan aku?” Neta benar-benar kesal sekali.


“Kamu tidur sangat nyenyak. Karena itu aku sengaja tidak bangunkan. Lagi pula aku bisa mengurus Cinta.” Dathan tersenyum.


Neta menekuk bibirnya. Merasa kesal karena ternyata sang suami sengaja tidak membangunkannya. “Apa kamu sengaja membuat aku terlihat seperti ibu yang buruk?”


Dahi Dathan berkerut dalam, diiringi dengan mata yang memicing. Dia bingung kenapa tiba-tiba istrinya mengatakan hal itu. Padahal jelas sekali jika bukan itu maksud Dathan.


“Aku tidak bermaksud seperti itu. Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu?” Dathan yang bingung pun segera bertanya.


“Kamu tidak membangunkan aku. Membuat aku tidak membantu Cinta bersiap. Kamu juga membiarkan aku di mata Arriel bukan ibu yang baik karena tidak mengantarkannya saat dijemput.” Neta tiba-tiba menangis. Dia merasa buruk sekali sebagai seorang ibu.


Dathan yang melihat sang istri menangis pun segera menghampiri. Memeluk erat tubuh sang istri. Sejujurnya Dathan bingung kenapa Neta berpikir seperti itu. Karena niat awalnya bukan itu.


“Sayang, kenapa kamu berpikir seperti itu?” Dathan berusaha untuk menenangkan sang istri. “Aku hanya tidak mau mengganggumu. Semalam kamu sudah bekerja keras. Jadi tentu saja aku tidak tega. Lagi pula menyiapkan Cinta, bukan hal baru untukku. Jadi aku bisa melakukannya. Tidak ada yang berpikir kamu tidak baik. Kamu ibu yang baik. Hanya saja, ada kalanya kamu memang harus istirahat.” Dathan berusaha untuk menenangkan sang istri.

__ADS_1


Neta sendiri tidak tahu kenapa sensitif sekali. Padahal mungkin sang suami hanya melakukan yang terbaik.


“Apa Arriel menanyakan aku?” Neta takut dengan pendapat Arriel. Karena menjadi ibu sambung, dia ingin tampak sempurna.


“Arriel tidak mengatakan apa-apa, saat aku bilang kamu sedang istirahat. Dia juga tampak biasa saja.” Dathan menceritakan bagaimana reaksi Arriel tadi.


“Benarkah?” Neta memastikan kembali sambil menjauhkan tubuhnya dari sang suami. Melihat wajah sang suami yang sedang bicara.


“Tentu saja.” Dathan membenarkan ucapannya tadi. Tangannya menghapus air mata yang mengalir di wajah Neta. “Kamu adalah ibu yang baik. Tidak melakukan pekerjaan seorang ibu, tidak membuatmu menjadi ibu yang buruk. Sesaat kamu perli beristirahat. Karena kamu perlu hadiah untuk tubuhmu yang lelah seharian mengurus keluarga.” Dathan tersenyum. “Orang-orang yang memahami akan beratnya jadi istri dan ibu, pasti paham bagaimana cara untuk menghargai. Jadi aku melakukan itu untuk menghargai semua kerja keras kamu.” Dathan melanjutkan ucapannya.


Neta mengerti yang dijelaskan oleh sang suami. Terkadang para ibu memang butuh waktu istirahat. Jika menuruti pekerjaan, tentu tidak akan ada habisnya.


“Apa lagi semalam kamu sudah bekerja keras.” Dathan menyeringai.


Satu kecupan mendarat di bibir sang istri. Gemas sekali melihat pipi sang istri yang merona merah.


“Malu ada bibi.” Neta yang melihat sang suami menciumnya, langsung mendorong tubuh sang suami. Dia takut ada yang melihat ketika mereka sedang berciuman.


“Bibi sedang pergi ke rumah saudaranya.” Dathan menarik tubuh sang istri kembali. Membuatnya kembali mendekat.


Neta memicingkan kedua matanya. Memikirkan jika sang suami sengaja melakukan itu.

__ADS_1


“Jika kamu berpikir aku sengaja. Jawabannya iya.” Dathan melebarkan senyumnya. “Karena aku ingin menghabiskan waktu denganmu.”


Neta kembali merona. Dathan selalu saja bisa membuatnya tersipu malu. Apalagi bisa mengambil kesempatan-kesempatan ini.


Dathan perlahan kembali mendekatkan tubuhnya. Kemudian mendaratkan bibirnya. Baru saja Dathan hendak menikmati bibir manis itu, tiba-tiba perut Neta berbunyi. Dathan seketika melepaskan tautan bibirnya.


“Kamu lapar?” tanya Dathan memastikan.


Neta malu ketika suara perutnya terdengar sang suami. “Iya,” jawabnya malu-malu.


“Ayo sekarang duduk dan nikmati sarapanmu.” Dathan menarik tubuh sang istri membawanya ke kursi untuk duduk bersama. Dia tidak mau sang istri sampai kelaparan.


Neta hanya terperangah ketika sang suami membawanya ke meja makan. Apalagi ketika melihat sang suami sudah menyiapkan banyak makanan.


“Kamu yang masak?” tanyanya memastikan.


“Iya, spesial untuk kamu.” Dathan mengedipkan mata. Dia segera mengambilkan makanan dan meletakkan di piring sang istri.


“Apa ini bayaran untuk kerja kerasku semalam?” Neta menggoda.


Dathan tersenyum. “Iya, dan hari ini aku akan memanjakanmu. Sebagai bayaran atas kerja kerasmu.”

__ADS_1


Neta menatap curiga. Memanjakan seperti apa yang dimaksud oleh sang suami. Rasanya, Neta tidak yakin itu memanjakannya. Karena pasti Dathan berusaha untuk mengambil keuntungan dari semua yang dilakukannya.


__ADS_2