
Mereka menikmati makan bersama. Sambil menceritakan bagaimana tadi Loveta pergi. Neta bersyukur Dathan menyiapkan semua. Memang suaminya itu serba bisa. Hingga membuatnya terkadang heran. Karena dalam sibuknya pekerjaanya. Dia masih bisa menyempatkan waktu untuk keluarga.
Usai makan, Neta dan Dathan merapikan meja makan. Mereka lanjut mencuci piring bekas makan. Tidak ada asisten rumah tangga tentu saja membuat mereka akhirnya harus turun tangan merapikan semuanya.
Saat meja makan dan dapur sudah rapi. Mereka memilih duduk di ruang keluarga sebentar. Mengistirahatkan tubuh mereka.
“Apa yang akan kita lakukan?” Neta menoleh ke arah Dathan. Dia penasaran sekali dengan apa yang akan dilakukan sang suami.
“Nanti juga kamu akan tahu.” Dathan tersenyum.
Neta semakin dibuat penasaran. Tentu saja otaknya langsung traveling ke mana-mana. Apalagi tidak ada orang di rumah sama sekali. Hanya dirinya dan sang suami saja.
“Ayo.” Dathan menarik tangan sang istri. Istirahat di rasa sudah cukup. Jadi tentu saja dia ingin melancarkan aksinya.
Neta yang tangannya ditarik oleh sang suami hanya tersenyum saja. Merasa penasaran juga apa yang akan dilakukan oleh sang suami. Langkah kaki Dathan mengarah ke kamar. Hal itu membuat Neta akhirnya menyadari jika sang suami mengajaknya untuk ke kamar.
Otak Neta sudah berkelana ke mana-mana. Dia memikirkan apa yang akan dilakukan sang suami di kamar. Pikirannya membayangkan jika sang suami pasti ingin mengulang kenikmatan semalam.
“Sayang, kamu mau apa?” Rasa penasaran Neta pun mengantarkannya untuk bertanya.
Dathan menyeringai. Dia merasa lucu dengan pertanyaan sang istri. “Memang apa yang aku lakukan di kamar?” Dia justru menggoda sang istri.
Neta menatap Neta Dathan dengan tatapan curiga. Di kamar dan hanya dia dan sang suami. Jelas dia tahu mau apa.
“Jangan memasang wajah seperti itu.” Dathan yang gemas pun mencubit pipi sang istri.
Neta hanya menekuk bibirnya saja. Kesal karena sang suami mencubitnya. Dia jelas curiga dengan suaminya.
__ADS_1
“Aku sudah bilang bukan, jika aku akan memanjakanmu.” Dathan tersenyum.
“Memanjakan seperti apa?” Neta memasang wajah was-was.
“Sudah duduk dulu aku akan siapkan.” Dathan meminta Neta untuk duduk di tempat di sofa.
Neta hanya mengikuti saja. Dia memilih memerhatikan sang suami yang sedang sibuk melakukan sesuatu. Tampak sang suami mengambil kain dan meletakkannya di tempat tidur. Entah untuk apa Neta benar-benar tidak tahu. Dia masih mencoba menebak-nebak apa yang dilakukan sang suami.
Dathan sibuk dengan kegiatannya itu. Dia mengambil kain dan melebarkannya di atas tempat tidur. Kemudian, dia menyalakan aroma terapi untuk membuat ruangan menjadi wangi. Tak lupa lotion yang sudah disiapkannya di letakkan di atas nakas.
“Selesai, ayo.” Dathan beralih menatap sang istri. Senyumnya lebar seperti iklan pasta gigi.
“Jangan bilang kamu mau spa.” Neta mencoba menebak apa yang dilakukan sang suami.
“Pintar sekali.” Dathan segera meraih baju yang biasa dipakai di tempat spa. Kemben yang memperlihatkan bagian bahu dan menutupi bagian dada ke bawah saja.
Neta hanya termangu. Dia masih mencerna acara memanjakan macam apa ini.
“Apa mau aku yang pakaikan?” Dathan tersenyum menyeringai.
Dengan cepat Neta menyambar pakaian yang diberikan sang suami. Dia segera membawa pakaian itu ke kamar mandi. Segera memakainya agar bisa tahu apa yang akan dilakukan sang suami.
Neta keluar ketika sudah selesai memakai baju. Sang suami memberikan isyarat tangan untuk meminta Neta mendekat. Dengan ragu-ragu Neta pun mendekat.
“Tengkurap saja.” Dia meminta Neta untuk tidur di atas tempat tidur yang sudah diatasi itu.
Neta mengikuti sang suami untuk tengkurap di atas tempat tidur. Kepalanya yang miring masih melihat apa yang dilakukan sang suami.
__ADS_1
“Kamu mau apa?” Pertanyaan Neta terlontar ketika melihat sang suami membuka kaos yang dipakainya.
“Nanti bajuku kena lotion.” Dathan memberikan alasannya.
Alasan itu masih masuk akal. Jadi tentu saja Neta membiarkan. Dathan melakukannya.
Dathan segera duduk di samping sang istri. Tangannya segera menuang lotion pada bahu sang istri. Pijatan lembut diberikan pada sang istri. Memberikan perasaan rileks pada sang istri.
Neta benar-benar merasakan nyaman. Pijatan yang diberikan sang suami membuat tubuhnya yang pegal seketika lebih nyaman.
“Di mana kamu belajar memijat?” Neta bertanya sambil terus menikmati pijatan sang suami.
“Aku belajar sendiri. Dari video yang aku lihat.” Dathan menjelaskan dari mana dirinya belajar.
“Lalu kamu sudah mempraktekkan pada siapa?” Neta penasaran. Dengan siapa sang suami melakukan untuk pertama kali.
“Kamu orang pertama yang aku pijat.” Tangan Dathan terus bergerak memijat sang istri.
“Benarkah?” Neta masih memasang wajah curiga.
“Aku menduda lima tahun. Tidak ada satu wanita pun aku sentuh. Jadi bagaimana bisa mempraktekkannya.”
Neta tersenyum. Memang sang suami sudah berprinsip. Jadi wajar saja jika tidak ada wanita yang dekat dengan sang suami.
“Jadi aku beruntung ketiak menjadi orang pertama yang menjajal keahlianmu?” Neta menggoda.
“Tentu saja.” Dathan menurunkan pakaian yang dipakai sang istri. Membuat punggung sang istri terlihat.
__ADS_1