
Neta dan Dathan sampai di vila. Saat mereka masuk Rifa dan Reno sudah bangun. Hal itu membuat Neta begitu malu.
“Maaf, Kak, kami meninggalkan anak-anak terlalu lama.” Neta menatap Rifa. Dia merasa tidak enak sekali.
“Santai saja. Kebetulan mereka begitu pintar. Terbangun hanya meminta susu saja. Setelah itu tidur lagi. Jadi aku pun tidur dengan pulas.” Rifa memberitahu bagaimana semalam mereka menunggu anak Neta dan Dathan. Tidak sama sekali rewel.
“Mereka tidur pulas?” tanya Dathan. Setahunya, anak-anaknya selalu begadang tiap malam. Karena itulah mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
“Mereka tidur pulas. Walaupun terbangun minta susu, tapi mereka cepat tidur lagi.” Rifa tersenyum.
Dathan heran. Saat bersama orang lain justru anaknya tidur. Tentu saja itu membuatnya merasa aneh.
“Tenanglah, berjalannya waktu, kalian akan dapat celah.” Rifa tersenyum.
Neta semakin malu dibuatnya. Bukan apa-apa. Pastinya dia tahu alasan dirinya keluar malam-malam.
“Iya, Kak.” Neta mengangguk.
Rifa dan Reno kembali ke kamar mereka, sedangkan Dathan dan Neta mengecek anak mereka. Seperti biasa jam lima anak-anak selalu sudah bangun. Jadi Neta segera mengganti popok anak-anak. Sekaligus memandikannya dengan air hangat.
“Jadi kalian semalam anteng?” Dathan mendaratkan kecupan di pipi anak mereka.
“Mereka tahu papi dan maminya sibuk. Jadi tidak mau merepotkan orang lain.” Neta tersenyum.
“Memang anak papi pengertian.” Dathan kembali mendaratkan kecupan di pipi anaknya.
Mendapatkan kecupan dari sang papi Nessia justru menangis. Bulu halus di rahang sang papi membuatnya tidak nyaman.
__ADS_1
“Sayang, jangan kencang-kencang. Jambang kamu pasti membuatnya tidak nyaman.” Neta memberikan peringatan pada suaminya.
“Mami saja suka, masak kamu tidak.” Dathan menyeringai. Namun, tak berhenti mendaratkan kecupan di pipi Nessia.
Neta yang kesal memukul suaminya itu pelan. Suaminya benar-benar iseng sekali. Sudah tahu anaknya menangis. Masih digoda.
...****************...
Neta dan Rifa menyiapkan makanan untuk sarapan. Neta merasa malu sekali ketika berada di dekat Rifa.
“Aku juga sepertimu dulu, menitipkan Richa pada kakeknya.” Rifa menceritakan akan hal itu. “Tapi, bertambahnya usia, mereka akan tidur pulas nanti. Nanti kamu juga akan mendapatkan celah.” Rifa tersenyum.
“Iya, Kak.” Nets mengangguk.
“Jika butuh bantuan, jangan sungkan meminta pada kami.”
Neta tersenyum kembali. Teman-teman Dathan memang selalu baik. Membuat Neta senang.
“Arriel operasi kapan?” Di tengah-tengah makan Rifa teringat dengan mantan Dathan itu.
“Dua minggu lagi. Aku akan mengantarkan Lolo untuk bertemu dengan mamanya sebelum operasi.” Dathan sudah membuat janji dengan Adriel, tentu saja dia akan mengantarkan anaknya. Dia ingin Arriel senang ketika anaknya memberikan dukungan agar operasinya berjalan lancar.
“Wah ... Lolo akan punya adik baru.” Rifa menggoda Loveta.
“Iya, nanti Lolo punya satu, dua, tiga. Tiga adik.” Loveta menunjukkan jarinya pada Rifa. Dia senang bisa memiliki tiga adik.
Semua ikut senang mendengar Loveta yang begitu senang memiliki adik. Apalagi dari kedua orang tua yang begitu menyayangi mereka.
__ADS_1
“Kak Richa tidak punya adik?” Loveta menatap Richa. Dengan polosnya, dia bertanya.
“Tidak.” Richa menggeleng.
“Aunty Rifa tidak buat adik?” Loveta dengan polosnya bertanya pada Rifa.
Rifa yang makan nyaris tersedak ketika mendapati pertanyaan Loveta. Reno hanya tersenyum saja ketika istri mendapati pertanyaan Loveta.
“Kak Richa sudah punya Lolo, Danish, Nessia. Itu juga adik-adik Kak Richa.” Rifa tetap tenang ketika Lolo bertanya tentang keingintahuannya akan sesuatu.
“Iya, Lolo adik Kak Richa.” Loveta memeluk Richa.
Richa tersenyum. Dia merasa senang sekali ketika Loveta menganggapnya kakak. Dia sudah nyaman tidak memiliki saudara. Jadi tentu saja itu membuatnya tidak merenggek meminta adik.
...****************...
Neta memakaikan baju anaknya. Loveta akan ke rumah sakit untuk menjenguk Arriel. Hari ini Arriel akan operasi caecar.
“Cinta doakan mama agar adik bayi lahir dengan selamat.” Neta memberitahu anaknya.
“Iya, Mami. Lolo akan doakan mama dan adik bayi.” Loveta mengangguk.
Neta berharap Arriel melahirkan dengan selamat. Dia tentu saja akan ikut senang.
Setelah Loveta siap, Neta mengajak Loveta sarapan dulu. Kemudian baru Dathan mengantarkan Loveta ke rumah sakit.
“Titipkan salamku untuk mereka, maaf aku tidak bisa datang.” Neta menatap suaminya. Neta jelas tidak bisa datang ke rumah sakit mengingat anak-anaknya tidak bisa dibawa ke sana.
__ADS_1
“Tentu saja, aku akan menyampaikan.” Dathan mengangguk.
Dathan segera melajukan mobilnya untuk menuju ke rumah sakit. Dia mengantarkan anaknya ke rumah sakit, karena Arriel sudah dibawa ke rumah sakit.