Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Restoran


__ADS_3

Neta melihat dirinya dari pantulan cermin. Dia hanya memoles wajahnya tipis saja. Karena memang tidak suka memakai riasan tebal. Kali ini Neta menggerai rambutnya. Tak melakukan banyak pada rambutnya itu.


Setelah selesai, dia memilih untuk menunggu sang manajer. Tadi siang sang manajer sudah mengatakan jika dia akan menjemput Neta.


Sambil menunggu sang manajer menjemput, Neta memainkan ponselnya. Ini sudah terhitung satu hari setelah Dathan memintanya untuk pergi. Namun, sampai detik ini pria itu tidak sama sekali menghubunginya.


“Apa dia akan menghubungi aku?” Neta merasa takut waktu bergulir dengan cepatnya dan seminggu yang dia punya akan segera habis. Jika sudah begini nasib Neta akan berada dalam bahaya.


Neta mengembuskan napasnya. Dia mengumpulkan kesabarannya untuk menunggu Dathan menghubunginya.


Sang manajer yang menghubungi Neta membuat Neta bergegas keluar dari kamar. Dia segera keluar dari kamarnya dan menuju ke lantai bawah di mana mobil sang manajer terparkir.


“Malam, Bu.” Neta yang masuk ke mobil sang manajer pun menyapa.


“Malam.” Rania-sang manajer menyapanya kembali dan kemudian melajukan mobilnya menuju ke restoran yang berada di hotel Maxton.


Waktu menunjukkan jam tuju ketika Neta dan Rania sampai. Mereka segera ke lantai delapan Hotel Maxton. Pengusaha tekstil itu sudah memesan meja di sana khusus untuk makan malam.


“Dengar, kita harus baik padanya. Jangan sampai membuat Beliau kecewa.” Rania memberitahu Neta.


“Baik, Bu.” Neta hanya mengangguk. Lagi pula mereka makan malam, jadi tentu saja bukan sesuatu yang harus ditakutkan.


Neta dan Rania sampai di restoran. Mereka bertanya pada pramusaji di mana meja atas nama David Mahendra. Pramusaji pun mengantarkan mereka menemui pengusaha tekstil itu. Saat berjalan menuju ke meja tersebut, Neta melihat pemandangan malam yang begitu indah dari balik kaca. Ternyata David memesan meja tepat berada di depan kaca yang memberikan pemandangan kota. Hal itu membuat Neta begitu antusias. Karena dia bisa melihat indahnya kota dari ketinggian ketika malam hari.


“Selamat malam, Pak David.” Rania menyapa kliennya itu.

__ADS_1


“Selamat malam Bu Rania.” David berdiri. Dia mengulurkan tangan menyapa Rania. Saat tangan masih menjabat Rania, David mengalihkan pandangan pada Neta yang berada di samping Rania. Dia memerhatikan Neta dari atas sampai ke bawah. Kali ini dia melihat Neta begitu cantik sekali. Berbeda saat datang padanya ketika mewawancarai. Pakaian Neta yang dipakai dulu hanyalah setelah kerja, sedangkan sekarang wanita itu memakai dress cantik. “Selamat malam, Neta.” Dia mengulurkan tangan pada Neta.


Neta menerima uluran tangan David. “Selamat malam, Pak David.”


“Malam ini kamu cantik sekali.” David tersenyum menatap Neta.


“Terima kasih.” Sesuai dengan permintaan dari sang manajer, Neta bersikap ramah dan tersenyum. Sebenarnya Neta tidak terlalu nyaman dengan David. Apalagi pria itu menatapnya dengan tatapan aneh. Seolah sedang melihat buruannya.


“Ayo silakan duduk.” David mempersilakan Neta dan Rania untuk duduk.


Neta dan Rania duduk di kursi. Meja yang berbentuk bulat itu membuat mereka duduk memutar. Ada empat kursi yang tersedia. Tiga di antaranya mereka duduki. Neta duduk tepat di samping David. Karena pria itu mempersilakan duduk di situ.


Tepat saat Neta dan Rania duduk, makanan pun satu per satu datang. David memang sudah memesan makanan tersebut untuk mereka. Meminta pihak restoran untuk menghidangkan makanan setelah tamunya datang.


Makanan yang kini sudah tersaji, membuat mereka segera menyantapnya. Menikmati setiap sajian yang hotel ini berikan.


Dathan bersiap untuk makan malam bersama dengan keluarga Reno. Mengingat Rifa sudah mengatakan jika Neta akan makan malam di restoran hotel ini juga, membuat Dathan begitu tak sabar sekali. Dia ingin segera melihat klien yang ditemui oleh Neta.


Dathan mengikat simpul dasinya di kerah kemejanya. Sengaja Dathan memakai setelan jas lengkap mengingat dia akan berada di restoran mewah. Lagi pula, dia akan melihat Neta dengan kliennya. Jika penampilannya tidak sempurna, bagaimana bisa bertemu Neta dan kliennya.


“Apa yang akan kamu lakukan nanti jika bertemu dengannya?” Reno yang juga tengah bersiap memakai jasnya menatap sang teman. Malam ini rencananya Dathan akan tidur di kamar bersama Dathan, sedangkan anak dan istrinya akan bersama Loveta. Loveta yang merengek ingin tidur dengan Richa membuat Dathan meminta Reno berpindah ke kamarnya.


“Entah.” Dathan masih sibuk di depan cermin merapikan dasinya. Dia sendiri belum tahu apa yang akan dilakukannya. Hal pertama yang ingin dilakukannya adalah menemukan Neta dulu di restoran. Dia ingin tahu dengan siapa dia makan malam.


“Apa kamu akan bilang, “aku mau wawancara, Neta”?” Reno menggoda sang teman.

__ADS_1


“Jika itu diperlukan kenapa tidak.” Dathan berbalik. Mengambil jas miliknya dan memakainya.


“Lihatlah, siapa yang bertahan.” Reno tertawa. Ternyata kemampuan sang teman bertahan begitu lemah sekali. Baru sehari justru sang teman yang tidak tahan menerima tawaran wawancara.


“Semakin lama umur, sepertinya ego semakin menurun. Aku hanya menurunkan ego saja. Memahami jika dia juga melakukan semua itu karena tuntutan pekerjaan.” Dathan akhirnya selesai juga. Tinggal mengancingkan jasnya.


“Dan kamu memanfaatkan dia yang melakukan pekerjaannya.” Reno tersenyum meledek.


“Iya, seperti bisnis, aku tidak mau rugi.” Dathan menyeringai. Dia memang tidak akan melakukan sesuatu jika tidak ada keuntungan di dalamnya. Apalagi kali ini keuntungannya adalah bersama dengan Neta. Sejak awal melihat gadis itu, hati Dathan memang sudah terpaut. Pesona Neta memang mencairkan hatinya yang sudah lama beku.


Rena hanya tersenyum. Dia merasa temannya itu benar-benar licik sekali. Namun, dia senang. Jika sang teman bisa menemukan cinta, tentu saja hal itu adalah hal baik untuknya. Dia paham betul sang teman sudah lama menduda. Jadi dia pantas bahagia.


Suara ketukan pintu di kamar membuat Dathan segera keluar. Mengecek siapa gerangan yang datang.


“Papa.”


Saat membuka pintu kamar, Dathan mendapati Loveta dan Richa di sana. Anaknya itu langsung memeluk Dathan ketika pintu dibuka. Hal itu membuat senyum Dathan menghiasi wajahnya.


“Kamu sudah siap?” Dathan membelai lembut rambut anaknya.


Loveta menengadah. Menatap sang papa. “Iya.” Dia tersenyum menatap sang papa.


“Ayo kita makan kalau begitu.” Dathan mengulurkan tangan pada Loveta.


Reno keluar dari kamarnya. Bersamaan dengan Reno yang keluar, sang istri juga keluar. Mereka bersama-sama menuju ke restoran yang berada di lantai bawah. Untuk mencapai lantai bawah, mereka harus naik lift terlebih dahulu.

__ADS_1


Mereka semua sampai di restoran. Pramusaji mempersilakan mereka untuk duduk. Dathan yang berjalan menuju ke mejanya, mencari keberadaan Neta. Dia mengingat foto yang ditunjukkan Rifa tadi siang. Jadi dia akan mudah sekali menemukan gadis itu.


Dathan menyapu pandangan. Mencari di mana keberadaan Neta. Setiap sudut tak lepas dari pandangannya. Sampai akhirnya pandangannya berhenti pada satu titik di sudut restoran dekat dengan kaca yang memperlihatkan pemandangan kota. Saat melihat wanita berambut panjang dengan gaun perpaduan warna mint dan hitam yang duduk membelakanginya, dia yakin sekali jika itu adalah Neta.


__ADS_2