
Neta mendengar apa yang diucapkan Dathan, hanya bisa menelan salivanya. Dia pikir bisa mengelabuhi dengan dua pertanyaan, tetapi ternyata tidak.
“Pak Dathan mau tanya apa?” Dengan suara yang lirih, Neta menanyakan hal itu. Dia sendiri penasaran pertanyaan apa yang diberikan Dathan.
“Pertama aku mau kamu tidak memanggilku ‘pak’ karena kita bukan wawancara pekerjaan. Aku mau kamu lebih rileks saat aku mengajukan pertanyaan.” Dathan tak melepas pandangannya. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya ketika berbicara dengan Neta, agar dapat melihat wajah Neta.
“Lalu saya panggil apa?”
“Satu lagi, pakai aku kamu, agar lebih nyaman.” Dathan menjelaskan prosedur wawancara santai kali ini. “Masalah panggilan, kamu bisa panggil ‘sayang’.” Dathan menyeringai. Puas melempar candaan pada Neta.
Neta membulatkan matanya. Bagaimana bisa dia memanggil Dathan dengan panggilan ‘sayang’. Mereka saja belum jadian sama sekali.
“Jangan memasang wajah terkejutmu seperti itu. Aku benar-benar tidak tahan melihatnya.” Dathan tertawa.
Neta hanya melirik malas saja.
Dathan benar-benar gemas sekali. Namun, dia benar sadar sedang wawancara. Jadi tentu saja harus serius. “Baiklah, panggil nama saja.”
“Mana bisa begitu,” sambar Neta.
“Memangnya kenapa?” Dathan justru bingung dengan apa yang diucapkan Neta.
“Kamu memiliki usia yang terpaut jauh denganku, bagaimana bisa aku memanggilmu nama. Itu namanya tidak sopan. Aku seolah sedang memanggil teman sebayaku saja.” Dengan polosnya Neta menjelaskan akan hal itu.
Dathan terperangah. Jarang sekali yang membahas umur dengannya. Saat mendengar apa yang diucapkan Neta membuatnya seketika rendah diri. Jarak antara usianya dengan Neta memang cukup jauh.
Namun, Dathan tetap tenang. Yang membahas usia adalah calon kekasihnya. Jadi dia akan bersabar.
Sejenak Neta menyadari jika topik yang dibawanya terlalu sensitif. Jadi tentu saja itu menyinggung Dathan.
__ADS_1
“Sekalipun kamu memanggilku nama, aku yakin tidak akan ada yang tahu jika aku memiliki umur dia atas kamu lima belas tahun.” Dathan menyeringai. Alih-alih marah, dia justru menggoda Neta.
Neta melihat wajah Dathan lebih dekat. Jika dilihat memang tidak akan menyangka Dathan memiliki usia setua itu. Dari wajah Dathan, tidak terlihat sama sekali jika pria itu berusia empat puluh tahun.
“Ayo kita mulai saja.” Dathan memilih mengakhiri perdebatan soal usia.
Neta mode mendengarkan. Sambil menyiapkan diri apa yang harus dijawabnya nanti. Dia sedikit gugup menunggu Dathan menanyakan sesuatu.
“Jika kamu menjadi ibu, berapa waktu yang akan kamu berikan pada anakmu?” tanya Dathan. Kali ini senyumnya mengembang sempurna di wajahnya.
Neta terdiam. Dia benar-benar tidak menyangka pertanyaan Dathan seperti itu. Padahal jelas-jelas Neta pikir akan bertanya tentang kesukaan, hobi, dan kebiasaan Neta.
“Aku tumbuh tanpa kedua orang tua terutama ibu, tapi aku punya ibu panti yang luar biasa. Dia selalu memberikan kasih sayangnya pada kami walaupun kami bukan lahir dari rahimnya. Meluangkan seluruh waktunya menjaga kami. Dan aku ingin sepertinya, memberikan seluruh waktu untuk anakku akuku kelak. Hingga anakku tidak akan pernah merasa kehilangan sosok ibu.” Neta selalu saja ingin menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak. Ibu panti adalah contoh nyata yang dilihatnya.
Dathan tersenyum. Dia memang tidak salah memilih wanita. Sewaktu dia tahu jika Neta berasal dari panti asuhan, dia punya keyakinan jika Neta akan menjadi sosok yang sempurna untuk anaknya.
Neta terperangah. Dia tidak menyangka jika pertanyaan itu merujuk pada permintaan Dathan yang diberikan padanya. Tatapan Dathan yang begitu penuh harap seolah membuat Neta tak bisa menolak.
“Jika Tuhan mengizinkan aku untuk jadi ibu untuk anak-anakmu, aku tidak keberatan, tapi biarkan aku mengenalmu lebih dalam. Agar saat aku mengatakan, “aku siap untuk menjadi ibu untuk anak-anakmu” tak ada keraguan di dalamnya.” Neta menarik tipis senyum di sudut bibirnya. Pipinya merona seusai mengatakan hal itu.
Senyum Dathan merekah di wajahnya. Jawaban Neta seolah membuatnya yakin pintu hati Neta sudah terbuka sedikit setelah kemarin diketuknya. Tinggal membuatnya terbuka lebar, agar dirinya bisa masuk ke dalam hati Neta.
“Tentu saja aku akan membuat kita saling mengenal. Akan aku tunjukan apa yang terlihat dan tak terlihat oleh orang lain.” Dathan melonggarkan dasinya.
Tangan Neta langsung menghentikan aksi Dathan. “Mau apa kamu?” tanyanya panik.
“Memang apa yang kamu pikirkan?” Dathan memberikan kecupan pada tangan Neta.
Neta segera meraih tangannya. Kini pipinya semakin merona. Malu sekali dengan yang baru saja dilakukan oleh Dathan.
__ADS_1
Dathan hanya tersenyum saja. Dia melanjutkan aksinya melepaskan dasi yang melingkar di lehernya. Kemudian membuka dua kancing kemejanya.
“Aku terlihat keras dan dingin saat di kantor, tapi aku sebenarnya adalah orang yang santai.” Dathan hanya sedang ingin menunjukkan jika dia tidak suka berpenampilan rapi ketika berada di dekat orang-orang terdekatnya.
Wanita mana yang tidak meleleh ketika Dathan membuka dua kancing atas kemejanya. Pesona duda itu semakin memesona, hingga Neta tidak tahu harus mengatakan apa-apa.
Dathan melihat Neta yang terpesona padanya. Tatapan Neta benar-benar berubah perlahan. Dathan mendekatkan tubuhnya pada Neta. Apa yang dilakukan Dathan membuat Neta yang sibuk dengan pikirannya langsung tersadar. Neta langsung memundurkan tubuhnya.
“Apa kita bisa melanjutkan kembali pertanyaanmu?” Dathan tersenyum ketika Neta memundurkan tubuhnya. Sungguh benar-benar menggemaskan sekali.
“Iya, kita lanjutkan.” Neta sedikit gugup. Dia pikir Dathan akan berusaha menciumnya seperti tempo hari.
Dathan memundurkan tubuhnya. Dia kembali menunggu Neta melanjutkan pertanyanya.
Neta yang gugup pun langsung mencari pertanyaan di kertas yang dibawanya. Dia mencari mana pertanyaan yang diajukan.
Akhirnya Neta mendapatkan pertanyaan yang akan diajukan untuk Dathan. Dengan segera, dia menyalakan perekam suara. Memastikan jika suara Dathan akan terekam.
“Apa yang menjadi motivasi Pak Dathan mengembangkan IZIO?” Neta melemparkan pertanyaan yang sudah disiapkannya.
“Aku mengembangkan IZIO karena agar orang-orang mencari perlengkapan rumah tangga hanya di satu tempat. Tidak hanya itu, saat satu keluarga berbelanja mencari kebutuhan rumah mereka, mereka bisa sekaligus menikmati stand makanan yang ada di IZIO. Jadi sekalipun mereka berbelanja, mereka masih bisa menggunakan waktu untuk bersama keluarga. Bagiku keluarga adalah yang utama. Jadi waktu yang berharga harus dimanfaatkan sebaik mungkin.” Dathan menjelaskan pada Neta alasannya mengembangkan IZIO.
Neta yang mendengarkan jawaban dari Dathan, begitu terpukau. Dia tahu pengunjung IZIO paling banyak adalah keluarga. Jadi tentu saja Dathan memanfaatkan itu semua.
Kali ini Neta yang mematikan perekam suara. Dia menatap Dathan. “ Satu pertanyaan.” Dia tersenyum. Setelah pertanyaan pertama, dia begitu penasaran dengan pertanyaan kedua dari Dathan.
Dathan tersenyum ketika antusias kali ini tidak hanya miliknya.
“Karier atau keluarga, dan kenapa?” Dathan memberikan satu pertanyaan itu pada Neta.
__ADS_1