
Dathan dan Loveta langsung bersiap untuk bersih-bersih. Mereka sudah berganti baju dengan kaos santai. Neta yang melihat ayah dan anak itu hanya bisa menggeleng saja.
“Mana yang mau kita bersihkan, Papa?” Loveta menengadah. Melihat sang papa yang jauh lebih yang tinggi.
“Kita vakum kamar Cinta lebih dulu.” Dathan memberitahu sang anak.
“Ayo.” Loveta begitu bersemangat sekali. Dia senang ketika akan punya kegiatan menyenangkan.
Dathan dan Loveta segera menuju kamar. Mereka berdua memakai masker untuk menutupi mulut. Agar debu tidak masuk ke pernafasan mereka. Dathan dan Loveta menyedot debu yang berada di kamar. Suara vakum cleaner yang terdengar membuat Loveta begitu senang. Dia justru tertawa terus.
Dathan membiarkan Loveta membersihkan kamar. Dia hanya mengawasi saja. Tidak melarang. Membiarkan sang anak bermain-main.
Dari kamar Loveta, mereka berpindah ke kamar Neta dan Dathan. Neta yang berada di kamar terpaksa harus terganggu sebentar.
“Mami, aku sudah seperti petugas kebersihan.” Loveta dengan bangganya menceritakan pada sang mami.
Neta hanya bisa tersenyum. Sang suami bisa saja membuat anaknya punya kegiatan baru yang menyenangkan.
“Ayo, kita lawan debu-debu.” Dathan mengangkat tubuh Loveta yang memegang vakum cleaner.
“Ye … terbang.” Loveta begitu senang sekali ketika diangkat oleh sang papa. Tangannya yang memegang vakum cleaner mengarahkan pada gorden bagian atas. Menyedot debu di gorden.
Neta hanya tertawa melihat aksi ayah dan anak itu. Melakukan aktivitas dengan anak memang selalu menyesuaikan. Jadi anak-anak belajar, tetapi juga senang-senang. Neta yakin kelak anak-anaknya pasti akan merasakan bahagianya punya papa seperti Dathan.
Neta terus memerhatikan sang suami. Akhirnya dia menemukan apa lagi keahlian sang suami. Sang suami bisa juga bersih-bersih. Jadi tentu saja itu menambah daftar keahlian sang suami.
Puas bersih-bersih, akhirnya Dathan dan Loveta istirahat. Dathan segera memandikan Loveta. Menyegarkan tubuh sang anak agar lebih nyaman.
Bergantian, Dathan pun segera menyegarkan tubuhnya. Tak mau ada debu yang menempel di tubuhnya.
__ADS_1
Neta dan Loveta di atas tempat tidur. Menunggu Dathan yang sedang asyik bercerita. Sambil sesekali Loveta menempelkan telinganya di perut sang mami. Mendengarkan adiknya yang berada di dalam perut.
“Adik bayi, tidak bicara di dalam perut?” Loveta tidak mendengar apa pun.
“Adik bayi belum bisa bicara. Nanti kalau sudah lahir dan umurnya setahun, baru bisa bicara.” Neta membelai lembut rambut Loveta. Memberitahu Loveta yang sedang asyik mendengarkan suara perutnya. Padahal jelas tidak akan terdengar apa pun.
“Oh … Lolo pikir adik bayi di dalam perut bisa bicara. Jadi Lolo mau aja bercerita.” Loveta tersenyum sambil menegakkan tubuhnya.
Neta membelai rambut Loveta. Merasa lucu dengan pikiran Loveta.
“Kata mama, nanti mama juga akan punya adik.” Saat sedang asyik mendengarkan suara adiknya di perut sang mami, dia teringat dengan ucapan sang mama.
“Mama bilang itu?” Neta memastikan.
“Iya, mama bilang nanti jika mama sudah menikah seperti papa, mama akan punya adik bayi.” Loveta menirukan kembali penjelasan sang mama.
“Nanti adik Lolo berarti banyak. Ada dari mami, ada dari mama.” Loveta menghitung dengan jarinya. Melihat lima jarinya.
Neta terperangah. Tidak mungkin akan sebanyak itu juga anaknya dan Arriel. Jika pun nanti anaknya benar-benar kembar, Neta sendiri cukup dengan tiga anak saja, sedangkan Arriel. Dia tidak tahu berapa kelak Arriel akan punya anak.
Obrolan Neta dan Loveta begitu seru sekali. Hingga perlahan Loveta yang lelah bercerita memejamkan matanya. Dia yang bangun pagi-pagi merasa begitu mengantuk sekali. Jadi saat menjelang siang, dia sudah mengantuk.
Dathan yang keluar dari kamar mandi justru melihat sang anak yang terlelap. Membuatnya tertawa ketika anaknya kelelahan.
“Sepertinya Arriel sudah punya pacar.” Sambil menunggu sang suami yang mengganti bajunya, Neta bercerita. Menceritakan kesimpulan dari cerita sang anak.
“Kata siapa?” Dathan yang selesai memakai baju segera menghampiri sang istri.
“Tadi Cinta cerita jika nanti ada adik bayi di perut mamanya. Jadi aku rasa dia sedang punya pacar dan akan segera menikah.” Neta menjelaskan kesimpulan yang diambilnya tadi.
__ADS_1
Dathan mengangguk-anggukkan kepalanya. Mengerti yang dijelaskan oleh sang istri.
“Kira-kira siapa pria yang akan menikah dengan Arriel?” Neta justru penasaran dengan calon suami Arriel.
“Kenapa kamu penasaran?” Dathan mencubit pipi Neta.
“Iya, aku hanya penasaran saja. Siapa yang kelak akan menjadi papa Cinta.” Neta berharap pria itu adalah pria yang baik. Jadi Loveta bisa tumbuh dengan baik dengan dua keluarga.
“Papa?” Seketika Dathan terusik dengan panggilan itu. “Apa harus dipanggil papa?” Dia justru bertanya seperti itu.
“Tidak mungkin kan dipanggil papi. Yang ada orang mengira aku nanti istrinya.” Neta tersenyum menggoda.
“Kalau begitu harus dirubah.”
“Maksudnya?” Neta masih tidak mengerti yang dimaksud Dathan.
“Jadi, panggilan harus dirubah. Papa-mama, papi-mami. Jadi adil.” Dathan merasa jika perubahan itu perlu. Karena dengan begitu tidak ada salah memanggil.
Neta membenarkan ucapan Dathan. Jika tidak dirubah pasti akan rancu sekali. “Lalu kamu mau dipanggil apa?” Neta menatap sang istri.
“Bagaiman jika aku yang ganti saja? Sepertinya di panggil papi lebih keren.” Dathan tersenyum. Dia menyelaraskan dengan panggilan Neta.
Neta mengangguk-anggukkan kepalanya. Merasa panggilan itu pas. “Papi Dathan.” Dia mempraktekkan panggilan sang suami.
“Coba-coba panggil lagi.” Dathan segera mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bersebelahan dengan sang istri.
“Papi Dathan.” Neta kembali mengulang panggilan itu.
Satu kecupan mendarat di pipi Neta. Dathan justru gemas ketika Neta yang memanggil. Neta yang melihat Dathan gemas, tertawa. Suaminya lucu sekali, gemas hanya dipanggil papi.
__ADS_1