Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Menemani Loveta


__ADS_3

Dathan tampak tenang ketika Neta membulatkan matanya. Mata yang membulat itu justru begitu mengemaskan sekali.


“Benarkah?” Loveta memastikan pada Neta.


Di saat seperti ini Neta justru bingung. Dia paling malas jika diminta untuk berjanji pada anak-anak. Karena belum tentu dia bisa memenuhi. “Nanti kalau Aunty Neta tidak sibuk.” Dia tersenyum. Dathan sudah memulai berjanji. Jadi tentu saja dia harus melanjutkan.


Dathan hanya tersenyum saja. Dia tidak peduli sekali dengan tatapan malas Neta.


“Aunty, bobo saja di sini. Nanti bobo dengan Lolo.” Loveta yang polos mengatakan akan hal itu. Dia benar-benar suka dengan Neta.


Dathan hanya menyeringai. Kali ini dia memilih menutup mulutnya. Jika urusan menginap, tentu saja dia tidak berani memberikan janji.


“Aunty Neta punya rumah. Nanti jika rumahnya tidak ditempati. Yang ada ditempati serangga.” Neta menggelitik perut Loveta.


Loveta tertawa terbahak-bahak. Dia merasa geli ketika Neta menggelitiknya.


Melihat Loveta tertawa, Neta ikut tertawa. Namun, dia menghentikan aksinya, karena takut Loveta nanti malam terbawa mimpi.


“Tapi, apa Aunty Neta mau menemani Loveta tidur malam ini?” Loveta masih berharap Neta berada bersamanya malam ini.


Jika ini, tentu saja Neta bisa. Karena hanya menemani. “Aunty Neta akan temani, setelah itu Aunty Neta akan pulang. Jadi nanti saat Cinta bangun, jangan cari Aunty Neta.” Neta sengaja memberi pengertian itu karena memang tidak mau sampai kehadirannya menjadi masalah nanti. Tidak lucu bukan tengah malam Dathan menghubunginya karena anaknya menangis.


“Baiklah.” Loveta tersenyum.


Neta pun mengulurkan tangannya. Dia


mengajak Loveta untuk ke segera ke kamar mandi. Menggosok giginya terlebih dulu. Setelah itu, barulah dia mengajak Loveta ke tempat tidur. Neta menemani Loveta di tempat tidur. Kali ini, Neta membacakan buku untuk Loveta. Menceritakan cerita anak.


Di saat Neta menemani anaknya, Dathan memilih untuk menunggu di luar. Jika di dalam kamar, nanti takutnya anaknya tidak mau tidur. Yang ada nanti Neta akan pulang lebih larut. Padahal sekarang sudah jam setengah sembilan malam.


Perlahan-lahan Loveta memejamkan matanya ketika Neta belum selesai membacakan cerita. Neta yang melihat Loveta sudah tidur, akhirnya memilih untuk keluar dari kamar. Dia menghampiri Dathan yang berada di ruang keluarga.

__ADS_1


“Sudah tidur?” tanya Dathan memastikan.


“Iya.” Neta mengangguk.


Mendengar Neta mengatakan jika anaknya sudah tidur, akhirnya Dathan segera memanggil asisten rumah tangga. Memintanya untuk menjaga anaknya. Karena dia akan mengantarkan Neta terlebih dahulu.


Di rumah Dathan hanya dua asisten rumah tangga dan satu satpam. Kebetulan mereka adalah orang yang sudah ikut dengan orang tua Dathan sejak lama. Jadi Dathan sudah menganggap mereka seperti keluarga. Jadi Dathan berani menitipkan anaknya pada mereka.


Dathan mengantarkan Neta ke kosan. Kebetulan waktu menunjukan jam sembilan. Jadi belum terlalu malam untuk Neta pulang.


“Kenapa kamu mengatakan jika aku akan mengajari Cinta setiap hari?” Neta yang sedari tadi menyimpan pertanyaan itu segera memberikan pertanyaan itu pada Dathan.


“Jika nanti kamu jadi ibu Cinta, bukankah kamu akan mengajarinya.” Dathan menoleh dan memberikan senyuman pada Neta.


Neta mengembuskan napasnya. Dia merasa ada keraguan. Loveta tidak mengerti papa dan mamanya berpisah. Tentu saja hal itu membuat Neta pasti akan kesulitan menggantikan posisi mama untuk Loveta.


“Cinta masih belum tahu jika mama dan papanya bercerai. Bagaimana bisa dia menerima aku?” Neta merasa ini bukan persoalan mudah. Karena ini masalah psikologi anak.


Dathan tidak pernah memikirkan sejauh itu. Dia sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa memberitahu anaknya tentang perceraian antara dirinya dan mantan istrinya.


Neta merasa mungkin ini adalah cara yang tepat. Memilih untuk memikirkan bagaimana hubungannya dulu. Perlahan, nanti dirinya akan memberitahu Loveta.


“Oke.” Neta setuju dengan Dathan.


“Apa oke untuk jadi ibu Cinta?” Dathan menyeringai.


Neta terperangah. Jawabannya itu tadi bukan untuk itu. “Aku—”


“Iya, aku tahu. Lagi pula aku juga ingin tahu kamu seperti apa.” Dathan langsung memotong ucapan Neta.


Neta tersenyum ketika Dathan tahu maksudnya.

__ADS_1


Kosan Neta dari rumah Dathan cukup jauh. Jadi butuh waktu satu jam. Mereka punya satu jam bersama. Tentu saja itu dimanfaatkan keduanya.


“Cinta bilang kamu dan mantan istrimu suka di balkon. Apa balkon itu kenangan kalian?” Ada rasa cemburu yang menyelusup ke hati Neta tanpa dia sadari.


Dathan menoleh sejenak pada Neta. Membagi konsentrasinya pada jalanan yang dilaluinya. “Cinta bilang itu?” tanyanya memastikan.


“Iya.” Neta mengangguk mengiyakan.


“Tempat itu memang kami desain berdua.” Dathan mengatakan jujur.


Neta terdiam. Dia pikir Dathan akan berbasa-basi untuk menutupi alasan itu. Namun, Dathan tidak mau melakukannya.


“Apa menyakitkan mendengarkan jawabanku?” Dathan yang melihat reaksi Neta menganggap jika Neta merasa sakit.


“Ti-tidak.” Neta mencoba mengelak.


“Bagus, karena aku akan mengatakan apa pun itu tanpa menyembunyikannya. Aku tidak mau sampai mendengar dari orang lain.” Dathan tipe realistis. Mengatakan yang memang harus dikatakan tanpa berusaha bersikap manis.


“Aku akan menunggu kamu mengatakan semua.” Neta tersenyum. Tadi dia merasa sakit, tetapi kini perlahan rasa itu hilang ketika mendengar alasan Dathan.


Dathan tersenyum. “Tempat itu memang favorit kami, tetapi dengan tujuan yang berbeda. Aku menyukai itu karena bisa melihat matahari yang terbenam, sedangkan dia menyukai tempat itu karena itu idenya juga. Hanya sebatas itu saja.” Dathan kembali pada pembahasan tadi.


“Sebenarnya apa yang membuat kalian berpisah. Aku masih penasaran.” Neta penasaran sekali.


Dathan mengembuskan napasnya. Dia bingung menjelaskan pada Neta dari mana. Dathan memilih untuk melajukan mobilnya. Dia tidak membuka pembicaraan sama sekali.


Neta yang melihat Dathan justru diam saja merasa jika Dathan memang tidak mau membicarakannya. Jika ditanya kecewa, tentu saja Neta kecewa. Dia ingin tahu alasan apa yang menjadi dasar Dathan dan sang mantan istri bercerai. Namun, saat Dathan memilih diam, dia tentu saja tidak bisa memaksa.


Mobil terus melaju ke kos milik Neta. Tepat di depan kos, Dathan memarkirkan mobilnya di sebelah kos. Tempat yang memang biasanya tamu kos memarkirkan mobilnya.


Neta yang melihat Dathan menghentikan mobilnya, segera melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya. Namun, tiba-tiba Dathan memegangi tangan Neta. Hal itu membuat Neta mengalihkan pandangan pada Dathan.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Neta yang ingin tahu.


“Aku akan jelaskan alasan aku bercerai.” Dathan menatap Neta. Sengaja dia tidak menjawab tadi setelah Neta berbicara karena masih di jalan dan belum fokus. Jadi dia memilih untuk saat mobil berhenti.


__ADS_2