
Akhirnya Bu Kania, Neta, dan Dathan tahu juga apa yang membuat mama Liam meninggalkan Liam. Bu Kania pun tak punya alasan untuk tidak menyerahkan Liam pada orang tuanya.
“Lalu kenapa selama itu Anda tidak datang?” Neta menatap dengan lekat Julia. Memastikan setiap gerakan. Neta pun juga tidak mau sampai Liam jatuh di tangan yang salah.
“Saya membangun usaha di sana. Karena itu saya memutuskan untuk tidak datang karena keadaan ekonomi saya belum kuat. Kini saat ekonomi saya kuat, tentu saja saya segera ke sini.” Julia kembali menjelaskan. “Saya meminta maaf sudah menitipkan Liam dengan cara seperti itu. Saya tidak punya pilihan, Bu.” Julia hanya bisa menangis karena menyesali apa yang dilakukannya.
Bu Kania bisa merasakan keadaan Bu Kania. Dia tahu sulit untuk menjalani hidup ketika berpisah. Bu Kania tahu rasanya seperti itu.
“Saya mohon, saya ingin mengambil Liam kembali. Merawatnya kembali.” Julia menatap penuh harap. Dia benar-benar tulus untuk mendapatkan anaknya.
Bu Kania menatap Neta. Memberikan kode. Neta yang mengangguk membuatnya setuju untuk menyerahkan Liam.
“Saya belum bicara dengan Liam. Jadi saya meminta waktu untuk menjelaskan pada Liam.” Bu Kania merasa harus memberitahu Liam pelan-pelan lebih dulu. Dia sadar, pasti ini akan sangat mengejutkan sekali bagi Liam.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya akan menunggu. Saya masih akan di sini selama seminggu.” Julia tidak akan memaksakan kehendaknya. Paling tidak dia harus menunggu. Julia sadar jika dia tidak bisa sembarangan datang dan mengatakan jika dirinya adalah ibu Liam. Yang ada Liam akan takut.
Julia beralih pada Neta dan Dathan. “Saya mohon. Jangan beritahu perihal Liam pada papanya. Kami sudah tidak mau ikut campur urusan papanya. Kami hanya ingin hidup bahagia.”
__ADS_1
Dathan dan Neta saling pandang. Mereka pun mengangguk. Lagi pula bukan urusan mereka juga untuk membicarakan urusan pribadi. Urusan mereka hanya seputar sekolah saja.
“Kami berjanji.” Neta dan Dathan setuju.
Akhirnya setelah sepakat jika akan mengatakan lebih dulu, Julia memutuskan untuk berpamitan kembali ke hotel. Meminta Bu Kania untuk menghubunginya.
Neta dan Dathan pun menyerahkan pada Bu Kania untuk memberitahu Liam. Berharap Liam bisa menerima semua penjelasan.
Selepas semua pulang, Bu Kania akhirnya mengajak bicara Liam, di ruang perpustakaan kecil di panti. Jika Bu Kania ingin bicara pada satu anak saja, anak-anak yang lain sudah tahu jika tidak boleh ke sana.
“Em ... kata Ibu waktu itu Liam berumur lima tahun saat ke panti. Jadi artinya sudah lima tahun.” Liam menjelaskan pada Bu Kania.
“Liam nyaman di sini?” tanya Bu Kania.
“Nyaman.” Liam tersenyum.
“Liam, ada yang ingin Ibu katakan.” Bu Kania membelai lembut pipi Liam. Menatap dengan senyuman di wajahnya. “Beberapa hari lalu ada orang yang mengirim surat jika Liam adalah anaknya. Dia mengatakan jika ingin mengajak Liam untuk tinggal bersama.”
__ADS_1
Liam terkejut ketika mendengar ucapan Bu Kania.
“Sayang, mamamu sudah mencari kamu ke mana-mana selama ini. Hingga akhirnya mengetahui jika kamu di sini.” Bu Kania tadi sudah bicara tentang hal ini pada Julia. Dia sengaja mengatakan jika memang sang mama selama ini terpisah dan berusaha mencari. Itu agar tidak ada sakit hati untuk Liam karena sengaja ditinggalkan.
“Jadi mama mencari Liam?” Liam memastikan pada Bu Kania.
“Iya, Sayang. Mama mencari Liam. Sekarang Mama Liam datang untuk menjemput. Jadi Liam bisa ikut mama.” Bu Kania menatap lekat wajah anak yang dibesarkannya selama ini. Rasanya berat melepaskan anaknya. Namun, dia harus melakukannya.
“Jika Liam ikut mama, artinya Liam tidak tinggal di sini lagi?” Ada perasaan sedih menyelimuti Liam. Dia merasa jika panti asuhan adalah tempatnya bernaung. Namun, harus meninggalkannya begitu saja.
Bu Kania mengerti kegelisahan yang dirasakan oleh Liam. Dia mengerti sekali pasti berat meninggalkan panti asuhan.
“Tempat ternyata seorang anak adalah rumah orang tuanya. Jadi jangan bersedih. Liam juga bisa berkunjung ke sini jika Liam libur.” Bu Kania mencoba memberikan pengertian.
Liam mengangguk. Dia berharap bisa mengunjungi panti sekali pun sudah tinggal dengan mamanya kelak.
Bu Kania langsung memeluk Liam. Dia tahu jika Liam pasti akan mengerti ketika dijelaskan. Liam adalah anak yang baik. Jadi jelas itu akan membuatnya lebih mudah menjelaskan. Walaupun berat, Bu Kania yakin jika kelak Liam akan hidup dengan orang tuanya dengan baik.
__ADS_1