
“Apa kita ke sini bawa sampah, Cha?” tanya Reno pada anaknya.
“Papa mungkin karena belum mandi.” Richa menggoda sang papa.
“Kamu ini, tadi Papa mau mandi kamu bilang tidak perlu, karena kamu sudah lapar.” Reno menggerutu kesal.
Pintu yang terbuka membuat Reno dan anaknya dapat masuk. Mereka ingin melihat Neta yang mual saat membuka pintu.
Dathan yang juga baru keluar dari kamar, melihat sang istri yang berlalu melewatinya sambil membungkam mulutnya. Hal itu membuat Dathan segera mengikuti sang istri.
Di kamar mandi, Neta memuntahkan isi perutnya di wastafel. Perutnya begitu mual ketika tadi mencium aroma parfum milik Reno.
Dathan memijat tengkuk sang istri. Berharap itu dapat melegakan sang istri. Dathan benar-benar merasa tidak tega melihat sang istri yang mual seperti itu.
Neta segera membasuh bibirnya ketika merasa isi perutnya sudah keluar semua. Kemudian menegakkan tubuhnya sambil melihat pantulan cermin di depannya.
“Kamu kenapa?” Dathan menatap sang istri dari pantulan kaca.
“Aku tidak tahu, tadi saat aku membuka pintu aku melihat Reno dan Richa datang. Bersamaan itu, aku mencium aroma yang sama saat kamu pulang. Namun, ini lebih kuat. Jadi membuatku mual.” Neta menceritakan apa yang membuatnya mual.
Dathan mencoba memikirkan apa yang membuat sang istri seperti itu. “Apa karena parfum milik Reno?” Dia mencoba menebak. Tadi sang istri mual ketika dirinya pulang. Itu bisa jadi karena aroma parfumnya sedikit bercampur dengan parfum milik Reno.
“Entahlah.” Neta menggeleng tidak tahu.
__ADS_1
“Tunggu di sini. Aku akan memintanya pulang.”
Dathan merasa jika dia harus meminta temannya itu pulang. Karena nanti istrinya mual. Tanpa menunggu jawaban sang istri, dia segera berlalu keluar. Menghampiri Reno.
Reno sudah duduk bersama dengan Loveta. Melihat Loveta yang asyik bermain. “Neta kenapa?” tanyanya.
“Dia mual mencium aroma parfummu.” Dathan langsung menjawab tanpa basa-basi.
Spontan Reno langsung mencium aroma parfumnya. “Ini parfum baruku. Baunya enak.” Dia yang mencium aroma parfum miliknya merasa jika tidak ada masalah dengan aromanya. Aroma maskulin sedikit woody.
Dathan akhirnya tahu jika parfum milik temannya baru. “Sudah kalau begitu kamu pulang saja. Neta mual.”
“Than, kamu tega sekali mengusir aku.” Reno dengan wajahnya yang memelas menatap Dathan. “Aku ke sini mau menumpang makan. Rifa sedang ada acara sampai malam. Asisten rumah tanggaku sedang cuti.” Dia menatap penuh harap temannya itu.
“Kak Reno mandi dulu saja. Lalu ganti baju.” Suara Neta terdengar. Dia berusaha menutup hidungnya. Merasa masih tercium aroma Reno meskipun jauh.
“Itu baru ide bagus.” Reno setuju. “Pinjamkan bajumu sekalian.” Dia menatap sang teman.
Dathan pun berbalik dia ke kamar untuk mengambil baju. Neta menyusul Dathan ke kamar untuk menghindari Reno yang ada di ruang keluarga. Neta juga memberikan baju baru miliknya pada Dathan. Meminta Richa juga mandi. Mengingat tadi dia dekat dengan sang papa. Dathan memberikan baju untuk Reno dan anaknya, sedangkan Neta menunggu di dalam kamar.
Setengah jam berlalu, akhirnya Neta keluar. Dathan sudah menyemprot ruangan dengan pewangi. Menghilangkan aroma parfum milik Reno. Saat Neta keluar aroma parfum Reno sudah tidak tercium lagi.
Mereka berkumpul di ruang keluarga. Menunggu waktu makan malam sambil menikmati kue yang dibuat Neta dan Loveta. Richa dan Loveta bermain. Mereka mewarnai gambar milik Loveta.
__ADS_1
“Ta, sepertinya kamu hamil.” Reno menatap Neta. Menyimpulkan apa yang terjadi pada istri temannya itu.
“Hamil?” Neta terperangah dengan ucapan Reno. Padahal dia mual karena parfum, tetapi dibilang hamil.
“Iya, hanya wanita hamil yang sensitif dengan bau-bau di sekitarnya.” Sang istri dulu seperti itu. Jadi wajar saja dia menebak hal yang sama.
Dathan menatap sang istri. Dia tidak tahu bagaimana tanda-tanda hamil. Waktu itu Arriel hanya tiba-tiba mengatakan jika dirinya hamil. Karena itu dia tidak tahu.
“Kamu telat datang bulan?” tanya Dathan memastikan.
Neta mengingat jadwal datang bulannya. Harusnya jadwal datang bulan dua minggu yang lalu. Namun, sampai hari ini belum.
“Sepertinya terlambat.” Neta yang mengingat pun mendapatkan jawaban itu.
Dathan berbinar. Mendengar sang istri terlambat datang bulan tentu saja membuatnya berbinar. Dia tidak sabar menunggu jika istrinya benar-benar hamil.
“Apa kita perlu ke dokter sekarang?” Dathan begitu bersemangat sekali. Dia ingin tahu segera.
Neta masih ragu. Karena dia hanya mual-mual sedikit saja. Jadi belum tentu hamil. Belum lagi terlambat datang bulan adalah hal biasa bagi wanita.
“Bagaimana jika kita pakai tes kehamilan dulu. Jika hasilnya positif baru kita ke dokter.” Neta takut kecewa jika langsung ke dokter. Jadi dia memilih untuk mengecek sendiri dulu.
Dathan menimbang-nimbang. Lagi pula, dia tidak mau membebani sang istri. Jadi jika sang istri lebih nyaman dicek di rumah. Dia akan memilih hal itu.
__ADS_1
“Baiklah.” Dathan setuju. Nanti setelah makan malam, dia akan membeli alat tes kehamilan untuk istrinya.