
“Terbang.” Dathan mengangkat tubuh Danish dan menerbangkan seperti pesawat. Kakinya lurus dan tangannya diluruskan ke depan.
“Sia ... Sia ....” Nessia juga tak mau kalah. Dia ingin ikut sang kakak yang diayun. Gadis kecil yang kini usianya sudah dua tahun itu tampak antusias sekali.
“Baiklah.” Dathan menurunkan sang anak laki-lakinya dan beralih pada anak perempuannya. Mengangkat tubuh sang anak dan menerbangkannya.
“Ye ... telbang.” Nessia berteriak. Dia senang bisa terbang seperti kakaknya.
“Lolo juga mau.” Loveta yang melihat adiknya asyik terbang-terbangan tidak mau kalah juga.
“Kaka Lolo nanti.” Nessia tidak mau turun.
“Nessia gantian. Kakak juga mau.” Sesekali memang Loveta tidak mau mengalah. Gadis kecil yang kini berusia delapan tahun itu tetaplah anak-anak yang terkadang menginginkan apa yang dimainkan adik-adiknya.
“Nessia, gantian dengan kakak.” Neta yang sedang asyik meletakkan cemilan di atas meja ruang keluarga, memberitahu anaknya.
“Oke, Omi.” Nessia pun mengikuti apa kata maminya.
Dathan menurunkan Nessia. Kemudian mengangkat tubuh Loveta. Karena Loveta jauh lebih besar, alhasil Dathan keberatan. Namun, demi anaknya. Tentu saja dia akan melakukannya.
“Ye ... Lolo terbang.” Loveta begitu senang sekali. Akhirnya bisa terbang seperti dua adiknya.
Neta tersenyum. Anak-anak memang selalu senang ketika bermain dengan papinya. Dathan sendiri selalu bisa menjadi teman yang baik untuk anak-anaknya. Tawa anak-anak memang selalu menjadi obat lelah yang luar biasa. Padahal Neta sadar jika suaminya sangat lelah sekali. Jadi tentu saja waktu libur bisa dipakai istirahat. Namun, waktu dipakai Dathan untuk bermain dengan anak-anak.
__ADS_1
“Ayo sudah bermainnya. Sekarang makan dulu cemilannya.” Neta meminta anaknya berhenti untuk bermain.
“Papi Lolo mau makan.” Loveta meminta sang papi untuk menurunkannya.
Dathan menurunkan anaknya. Seharian tadi Dathan sudah bermain dengan anaknya. Jadi tubuhnya cukup lelah sekali. Namun, semua sebanding dengan melihat tawa anak-anak.
“Setelah ini gosok gigi tidur.” Neta memberitahu anak-anaknya.
Danish dan Nessia sudah tidur sendiri. Mereka tidur berdua dengan dua ranjang. Dathan dan Neta memilih mengawasi dengan CCTV.
Awalnya Neta tidak tega melepaskan anak-anaknya tidur sendiri. Namun, lambat laun dia mulai merelakan. Apalagi demi kebaikan anak-anak dan kehidupan rumah tangga mereka. Dathan dan Neta harus punya waktu intens berdua. Agar tetap menjaga keharmonisan mereka.
“Siap, Mami.” Loveta menjawab permintaan sang mami.
Setelah makan cemilan. Anak-anak segera pergi ke kamar mereka. Kamar Loveta dan Si kembar bersebelahan. Ada kamar penghubung di sana. Setiap malam pintu penghubung selalu dibuka. Agar anak-anak merasa tenang karena merasa ada temannya.
Setelah menggosok gigi, anak-anak segera masuk ke kamar. Dathan menemani Loveta tidur, sedangkan Neta menemani Danish dan Nessia tidur. Di kamar masing-masing mereka membacakan cerita. Hal yang mereka suka sebelum tidur.
Tak butuh waktu lama, mereka semua akhirnya tidur. Dathan dan Neta pun memilih untuk kembali ke kamar mereka. Beristirahat.
“Aku rasa usiaku tidak bisa bohong.” Dathan memegangi pinggangnya. Pinggangnya pegal setelah tadi mengangkat ketiga anaknya secara bergantian.
Neta tersenyum. “Bukalah bajumu, aku akan memijatmu.” Langkahnya diayunkan mengambil minyak pijat. Dia tahu ini yang akan terjadi jika suaminya menggunakan fisik ketika bermain.
__ADS_1
Dathan menyeringai. Keluhannya memang sekaligus kode agar sang istri akan memijatnya. Dengan segera dia membuka bajunya.
“Celananya sekalian?” tanya Dathan memastikan.
Neta melirik. Suaminya mulai menggodanya. “Aku hanya akan pijat bagian atas, jadi tidak perlu buka bagian bawah.”
“Aku pikir sekalian.” Dathan tersenyum penuh arti.
Neta menghampiri sang suami.
“Jangan macam-macam. Masih terlalu sore untuk melakukannya.”
Dathan melihat jam di kamarnya. Waktu menujukan jam delapan malam. Memang benar adanya jika masih terlalu sore.
“Kita tunggu sambil kamu memijat pinggang saja.” Dathan mengedipkan matanya. Dengan segera dia membuka bajunya. Kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Neta hanya tersenyum. Kemudian memijat sang suami.
Dathan selalu suka ketika istrinya memijat. Tentu saja itu karena sang istri begitu ahli. Sambil menikmati pijatan sang istri, Dathan menyalakan layar CCTV. Melihat apa yang dilakukan sang anak.
“Nessia mau ke mana itu?” Dathan terkejut ketika melihat anaknya bagun lagi.
Neta seketika menghentikan aksinya memijat. Ikut melihat apa yang dilakukan anak perempuannya.
__ADS_1