
“Sayang, kalau sedang hamil seperti ini namanya bukan honeymoon, tapi babymoon.” Dathan menjelaskan pada sang istri. Istrilah kekikinian untuk ibu hamil adalah babymoon.
“Oh, iya. Aku lupa.” Neta dengan polosnya menjawab. “Intinya moon-moon sama saja.” Ibu hamil ini memang tidak mau kalah sama sekali.
Dathan tak mau menyalahkan sang istri. Yang penting niatnya adalah satu liburan. Jika sang istri senang, tentu saja sangat menguntungkannya.
“Baiklah, kita akan pergi honeymoon, tapi ingat kamu sedang hamil tidak boleh kelelahan. Jadi kita cari yang dekat-dekat saja.” Dathan memberitahu sang istri. Dia tidak mau terjadi apa-apa pada sang istri.
“Boleh. Lalu kita ke mana?” Neta begitu penasaran sekali. Ke mana mereka akan pergi honeymoon.
Dathan memikirkan ke mana mereka akan pergi. “Kita ke puncak saja. Hanya dua jam dari sini. Jadi kamu tidak akan kelelahan.” Dathan merasa jika itu adalah pilihan tepat. Dibanding harus ke luar kota atau ke luar negeri.
Neta menimbang-nimbang niat sang suami. Dia merasa tidak ada salahnya jika dia pergi yang dekat saja. Lagi pula, yang penting intinya liburan.
“Baiklah.” Neta setuju. Dia mau ke mana saja.
“Baiklah, tapi kita pulang dulu. Kita juga besok masuk ada tanggung jawab untuk memastikan anak-anak sampai di panti asuhan dengan baik.” Dathan mengingatkan sang istri.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu.” Neta tersenyum. Ketika dituruti untuk mendapatkan sesuatu, tentu saja dia bersemangat sekali.
“Baiklah, sekarang kita tidur. Sudah malam.” Dathan membelai lembut rambut sang istri.
“Iya.” Neta mengangguk.
...****************...
Pagi ini Neta dan Neta masih mengatur anak-anak untuk sarapan. Barulah setelah ini dia akan memastikan anak-anak pulang ke panti dengan selamat.
Saat sarapan, anak-anak begitu tertib sekali. Tidak ada sama sekali yang berisik atau pun membuat onar. Ibu Kania selalu memberitahu mereka untuk bersikap sopan. Jadinya mereka begitu sopan sekali.
“Iya, Rifa meminta menginap.” Reno memberikan alasannya.
“Bilang saja mau bulan madu.” Dathan menggoda sang teman. Temannya itu memang datang berdua saja. Anak mereka tidak mau ikut dan memilih bersama kakeknya.
“Kamu tahulah.” Reno menyeringai. Bagi mereka para pria pasti tahu bagaimana cara memanfaatkan waktu.
__ADS_1
Dathan hanya tersenyum. Sudah paham bagaimana sang teman. Dathan segera berpamitan. Kembali ke meja sang istri. Menikmati sarapan bersama, sebelum kembali ke rumah.
Usai sarapan, barulah Dathan dan Neta mengantarkan anak-anak ke dalam bus. Memastikan jika mereka semua sudah masuk dan tidak ada yang tertinggal.
“Da ... Kak Liam.” Loveta dengan semangat menyapa Liam.
“Iya, sampai jumpa Cinta.” Liam melambaikan tangan. Kemudian masuk ke bus.
Neta dan Dathan yang melihat aksi anaknya, hanya bisa menggeleng saja. Anaknya benar-benar luar biasa. Begitu dekatnya dengan Liam. Sampai-sampai sejak kemarin menempel terus pada Liam.
“Kalian tidak perlu mengantarkan. Nanti Ibu kabari saja jika sudah sampai.” Bu Kania tidak tega Neta yang sedang hamil bolak-balik ke panti dan baru ke rumah. Takut kelelahan.
“Baik, Bu.” Neta mengangguk.
Bus mulai meninggalkan hotel. Dathan, Neta, dan Loveta melambaikan tangan. Tugas mereka kali ini sudah selesai. Jadi tentu saja mereka akan bersiap untuk segera pulang. Mereka harus menyiapkan keperluan untuk pergi babymoon.
__ADS_1