
Arriel segera masuk ke kamar Loveta setelah mengobrol dengan Dathan. Di dalam kamar dia melihat anaknya yang sedang asyik menggambar bersama Neta.
“Mama.” Loveta memanggil mamanya.
“Halo, Sayang. Apa mama boleh bicara sebentar dengan Aunty Neta?” Arriel ingin bicara banyak pada Neta.
“Boleh.” Loveta mengangguk.
Arriel menatap Neta mengajak gadis cantik itu untuk bicara. Neta yang melihat itu pun segera bergerak. Dia segera ikut keluar dengan Arriel. Mereka berdua menuju ke taman belakang. Duduk di kursi yang berada di teras belakang.
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana, tapi, aku mau meminta kamu menyayangi Lolo seperti ini selamanya. Tidak akan pernah berubah. Jika aku tidak bisa membuat bahagia, tetapi semoga kamu bisa membuatnya bahagia.” Arriel sadar jika Neta sudah berada di hati Loveta.
“Cinta akan bahagia jika mamanya juga ada.” Neta menatap Arriel. “Kita bisa bersama untuk menjaga Cinta. Membimbingnya agar menjadi anak yang hebat kelak.” Neta tersenyum. Dia merasa jika memang peran Arriel diperlukan dalam hal ini. Apalagi dia adalah ibunya.
“Kelak jika aku jadi mama Cinta, kamu tetaplah mamanya juga. Jangan merasa tersaingi atau merasa kecil hati. Jika pun Cinta belum mau ikut denganmu, itu hanya karena belum terbiasa saja.” Neta mencoba menjelaskan pada Arriel. Berharap wanita di depannya itu mengerti.
Arriel akhirnya mengerti kenapa Dathan bisa jatuh cinta pada Neta. Neta memang memiliki sifat keibuan. Tampak tenang dan begitu mengerti keadaan sekitar. Memang berbeda sekali dengannya. Jauh dari kata pantas untuk menjadi seorang ibu dan istri.
“Apa pun masalahmu dengan Dathan, jangan libatkan Cinta. Dia yang akan paling terluka ketika orang tuanya bertengkar.” Neta tidak mau sampai Loveta terluka. Dia tahu pasti ini akan jadi pukulan berat untuknya.
“Baiklah, aku akan menjaga hubungan baik dengan Dathan.” Arriel akan menjaga hubungan dengan Dathan demi anaknya.
“Tempatmu tidak akan tergantikan olehku di hati Cinta. Aku akan hadir di hati Cinta untuk berdampingan denganmu.” Untuk terakhir kali Arriel meyakinkan Arriel.
Arriel mengangguk. Mungkin yang dikatakan oleh Neta ada benarnya. Lagu pula, bukankah dia harusnya merasa beruntung karena Loveta mendapatkan ibu yang baik untuknya. Jadi anaknya akan bahagia dengannya.
“Terima kasih, Ta.” Arriel tersenyum.
__ADS_1
Setelah obrolan itu, mereka berdua kembali ke kamar Loveta. Mereka bersama-sama menunggu Loveta menggambar. Mereka bersama-sama menggambar. Susana begitu hangat. Mereka bertiga menikmat menggambar bersama.
“Mama gambarnya bagus.” Loveta memuji sang mama. Merasa jika gambar sang mama lebih bagus dari miliknya.
Arriel merasa senang ketika mendapatkan pujian. Ada hal-hal yang tentu saja akan membuat mereka begitu dekat.
“Nanti mama akan ajari.” Arriel tersenyum.
“Ye ....” Loveta begitu senang ketika akan diajari sang mama menggambar lebih baik lagi.
Neta ikut senang melihat kedekatan Arriel dan Loveta. Berharap Loveta akan nyaman dengan sang mama.
Usai puas bermain, Arriel memutuskan untuk pulang. Lagi pula Loveta akan pergi ke rumah Neta. Jadi dia tidak mau mengganggu.
“Minggu depan Lolo mau menginap di rumah mama?” Sebelum pulang Arriel menanyakan itu lebih dulu.
Arriel tersenyum. “Iya, saat libur saja.” Dia setuju dengan yang dikatakan anaknya. Yang terpenting anaknya mau ikut saja dia bersyukur.
Arriel segera berpamitan dan pergi dari rumah Dathan. Perasaan Arriel sudah jauh lebih baik. Dia sudah lebih menerima kenyataan jika memang Dathan bukan tercipta untuknya.
Kini di rumah tinggal Neta, Loveta, dan Dathan saja yang tertinggal. Mereka segera masuk ke rumah bersama setelah mobil Arriel pergi.
“Papa, ayo antar Lolo ke rumah Aunty Neta.” Loveta langsung menarik baju Dathan.
Dathan tersenyum. Anaknya benar-benar tidak sabar untuk pergi ke rumah Neta. “Iya, ayo kita pergi.” Dathan mencubit pipi Loveta. Merasa gemas sekali dengan anaknya.
Mereka akhirnya segera berangkat ke kos Neta. Sebelum ke rumah, mereka mampir ke restoran dulu untuk makan siang. Dari restoran, mereka mampir ke supermarket terlebih dahulu. Neta ingin membeli cemilan untuk mereka di kos nanti. Paling enak adalah bersantai sambil menikmati cemilan.
__ADS_1
Sampai di kos Neta, Loveta segera masuk. Kamar kos Neta kecil. Mungkin ukurannya lebih kecil dibandingkan kamar Loveta.
Loveta langsung naik ke atas tempat tidur. Dia meloncat-loncat kegirangan. Senang akhirnya bisa di kamar Neta.
“Aunty nanti kita menonton film.” Loveta memberikan ide.
“Boleh.” Neta setuju dengan yang dikatakan Loveta.
Loveta begitu senang sekali. “Papa pulang saja. Aku mau berdua dengan Aunty.” Sampai di kos Neta, Loveta mengusir sang papa.
“Kenapa papa diusir?” Dathan begitu terkejut ketika anaknya mengusirnya.
“Lolo mau berdua saja dengan Aunty. Sesama wanita.” Loveta tampak serius sekali saat berucap.
Dathan membulatkan matanya. Dia benar-benar terkejut dengan permintaan sang anak. Sudah seperti orang dewasa saja.
“Papa tidak mau pulang.” Dathan melipat tangannya di dada. Pura-pura marah.
“Papa pulang saja.” Loveta merengek tidak mau sang papa ikut dengannya di kamar Neta.
“Papa janji tidak akan ganggu.” Dathan mencoba merayu.
“Nanti papa jemput saja.” Loveta masih dengan keinginannya. Tidak mau diganggu gugat sama sekali.
Neta yang melihat hal itu hanya tersenyum saja. Dia merasa lucu dengan aksi ayah dan anak itu. Neta menatap Dathan. Memberikan kode untuk Dathan agar pulang. Jangan sampai membuat anaknya jadi kesal.
“Baiklah, papa pulang.” Dathan mengalah. Dia mengedipkan mata pada Neta. Dia tahu jika pasti anaknya sebentar lagi akan tidur. Apalagi sudah jam tidur. “Kabari aku.” Dathan memberikan isyarat dengan mengerahkan tangannya seolah sedang menelepon.
__ADS_1