
Neta yang merasakan mual, seketika membuka matanya. Padahal dia sedang enak-enak tidur. Namun, rasa mual itu menghinggapinya. Hingga membuatnya harus mengakhiri tidur nyenyaknya.
Neta segera menyibak selimutnya. Bangun dari tempat tidur dan segera mengayunkan langkahnya ke kamar mandi. Perutnya yang bergejolak, membuatnya ingin segera memuntahkan isi perutnya.
Dathan yang merasakan tempat tidur yang bergoyang, membuatnya membuka matan. Diliatnya sang istri yang berjalan ke kamar mandi. Tampak begitu terburu-buru.
“Huek … huek ….” Perut Neta yang begitu mual, mendorongnya untuk terus muntah.
Dathan yang mendengar suara istrinya yang sedang muntah-muntah pun segera menyibak selimut. Tak buruh waktu lama, dia berdiri. Mengayunkan langkahnya ke kamar mandi. Menyusul sang istri.
“Sayang.” Dathan melihat Neta yang menghadap ke wastafel. Terlihat sang istri sedang memuntahkan isi perutnya. Dia segera memijat tengkuk sang istri. Berharap dapat melegakan rasa mual sang istri.
Neta terus memuntahkan isi perutnya. Perutnya yang bergejolak mengantarkannya untuk terus muntah. Apa yang dimakan Neta semalam pun keluar semuanya.
Akhirnya, Neta merasa jauh lebih lega ketika semua isi perutnya dikeluarkan. Saat merasa sudah lebih baik, dia segera membasuh mulutnya dengan air. Menghilangkan sisa-sisa makanan.
Dathan berusaha untuk menunggu sang istri. Memastikan sang istri yang sedang membersihkan mulutnya.
__ADS_1
“Kamu sudah lebih baik?” tanya Dathan.
“Aku jauh lebih baik.” Neta menjawab sambil menegakkan tubuhnya. Dia merasa jauh lebih baik sekarang dibanding dengan tadi.
Neta melihat wajahnya dan sang suami dari pantulan cermin. Wajahnya tampak begitu pucat sekali. Mungkin karena tadi dia sudah mengeluarkan isi perutnya, dan kini tubuhnya sedikit lemas.
“Ayo, sebaiknya kamu berbaring.” Dathan menuntun sang istri keluar dari kamar mandi. Membawanya ke tempat tidur, dan membantunya untuk merebahkan tubuhnya di sana.
Neta hanya pasrah saja ketika melakukan hal itu. Tentu saja itu karena dirinya yang begitu lemas sekali.
Dathan menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri. Kemudian membelai dahi sang istri. Dia tidak tega sekali melihat sang istri yang tampak pucat. Apa yang terjadi pada sang istri, pastinya karena kehamilan sang istri. Jadi Dathan tidak bisa berbuat banyak.
Di dapur, Dathan sibuk mengambil teh. Dia membuat teh yang dicampur dengan daun mint. Berharap itu sedikit meredakan apa yang dirasakan oleh sang istri. Dengan segera Dathan membawa minuman tersebut ke kamar.
Di kamar, Neta melihat Dathan yang membawa minuman. Suaminya itu benar-benar perhatian sekali. Membuatnya benar-benar terharu.
“Sayang, minumlah dulu.” Dathan segera memberikan minuman tersebut pada Neta.
__ADS_1
Neta segera meminum teh yang dibuat oleh sang suami. Aroma mint terasa menyegarkan sekali. Saat diminum pun sama menyegarkannya. Sungguh ini membuatnya benar-benar merasa lebih baik.
Neta menyesap teh dengan perlahan. Menikmati setiap aroma yang diberikan. Teh memang memberikan ketenangan tersendiri.
“Bagaimana apa sudah jauh lebih baik?” Dathan menatap sang istri.
Neta mengangguk. Dia memang sudah jauh lebih baik.
“Apa kamu akan tetap pergi ke panti jika seperti ini?” Dathan rasanya tidak tega jika harus pergi.
“Ini hanya akan berlangsung pagi saja. Saat siang dia akan menghilang perlahan.” Neta mencoba menjelaskan. Dia memang sudah merasakan beberapa hari ini, dan itulah yang terjadi. Jadi baginya tidak masalah jika tetap pergi.
“Kamu yakin?” Dathan memastikan kembali. Dia tidak tega jika sang istri sampai kelelahan atau kenapa-kenapa di panti asuhan nanti.
“Aku sudah buat janji dengan Maria dan Kak Adriel. Lagi pula aku tidak apa-apa.”Neta mencoba meyakinkan Dathan. Dia menatap Dathan dengan lekat. Berharap sang suami mengizinkannya.
Dathan selalu saja tidak bisa menolak jika sang istri yang meminta. “Tapi, mereka nanti yang akan membagikan hadiah untuk anak-anak nanti. Kamu cukup duduk melihat saja.” Dathan memberikan peringatan.
__ADS_1
Neta mengangguk setuju. Dia akan memilih diam saja agar sang suami mengizinkannya untuk ke panti asuhan. Dia juga sudah lama tidak bertemu dengan ibu panti dan anak-anak panti. Jadi dia ingin melepas rindu.