
Dathan mendekat ke arah Neta. Bersandar pada tembok dan sambil menatap Neta.
“Terima kasih sudah mau mendukungku.” Dathan merasa beruntung karena dengan adanya Neta, dia menjadi semangat.
“Aku akan terus mendukungmu.” Neta tersenyum.
Inilah yang Dathan suka dari Neta. Selalu ada untuknya. “Melihatmu memasak seperti ini membuat aku tak sabar membawamu ke KUA.” Dathan mencubit pipi Neta. Dia gemas sekali dengan Neta.
“Aku juga tidak sabar menunggumu menjadi suamiku. Membayangkan bangun tidur ada kamu. Memasak untukmu.” Neta tersenyum. Bayangan indah itu menghiasi kepalanya.
Dathan langsung memeluk Neta dari belakang. “Aku akan mewujudkan itu semua.” Satu kecupan mendarat di pipi Neta.
Neta tersenyum malu. Dia tak sabar Dathan mewujudkan semuanya. Dia yakin, kehidupannya bersama Dathan akan sangat baik nanti.
“Ayo, makan.” Neta sudah selesai masak. Segera dia mengajak Dathan untuk sarapan.
Dathan segera melepaskan pelukaannya. Dia membantu Neta menyiapkan makanan yang sudah dibuat oleh Neta.
Di meja makan, Dathan menikmati makanan yang dibuat Neta. Dathan akui jika Neta pandai sekali memasak. Tak kalah dengan dirinya.
“Apa enak?” tanya Neta memastikan.
__ADS_1
“Enak sekali.” Dathan tersenyum manis pada Neta sambil memuji masakan kekasihnya itu.
Neta senang mendapatkan pujian itu.
Mereka berdua menikmati makanan bersama. Makan di kos Neta membuat Dathan mendapat pengalaman pertama. Walaupun kos Neta kecil, tetapi cukup nyaman.
...****************...
Mobil sampai di rumah. Dathan dan Nets segera turun dari mobil. Mereka berjalan bersama berdua masuk ke rumah. Di saat seperti ini Neta justru merasa berdebar-debar. Dia lebih takut membayangkan perasaan Loveta yang akan mendapati kenyataan jika orang tuanya telah berpisah.
Saat masuk, mereka berdua melihat Loveta dan Arriel yang tampak bermain. Neta tersenyum ketika melihat Loveta yang sedang bermain, sayangnya senyumnya itu tidak terbalaskan. Neta mulai melihat keanehan yang terjadi. Dia mulai berpikir, apa yang sebenarnya membuat Loveta tiba-tiba berubah. Padahal biasanya, dia begitu antusias untuk menyambutnya.
Perubahan sikap itu juga ditangkap oleh Dathan. Biasanya anaknya begitu bersemangat saat dirinya pulang atau Neta datang. Namun, kali ini sikap anaknya berbeda. Tentu saja hal itu membuat pertanyaan besar. Apa yang terjadi sebenarnya.
Sayangnya, Loveta hanya diam saja. Dia biasa saja saat menanggapi sang papa yang datang. Cenderung mengabaikan.
Dathan yakin jika ada sesuatu yang dilakukan oleh Arriel selama dirinya tidak ada di rumah. Dia yakin sekali jika pasti Arriel mempengaruhi Loveta.
“Riel, aku ingin bicara.” Dathan harus segera menanyakan pada Arriel dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Arriel segera berdiri. Dia mengikuti ke mana Dathan pergi. Dia ingin tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Dathan.
__ADS_1
Kini tinggal Neta dan Loveta berdua. Neta memilih langsung duduk di samping Loveta. Dia ingin mengambil celah bicara dengan Loveta.
Di ruang kerja, Dathan mengajak Arriel bicara. Dia ingin membahas sikap anaknya padanya tadi.
“Apa yang kamu katakan pada Cinta hingga membuatnya tidak membalas sapaanku?” Dathan segera bertanya pada Arriel. Dia yakin anaknya pasti baru saja mendengar sesuatu.
“Aku tidak mengatakan apa-apa. Tadi pagi Lolo hanya tanya ke mana kamu, dan aku hanya mengatakan jika kamu sedang ada pekerjaan. Aku juga tidak mengatakan jika kamu tidak pulang.” Arriel mencoba menjelaskan pada Dathan.
Dathan masih tidak bisa langsung percaya. Dia merasa yang dikatakan oleh Arriel bisa jadi ganya dusta. “Jelas-jelas aku melihat Cinta mendiami aku. Tidak mau bicara dengan aku.” Dathan masih mendesak Arriel untuk berkata jujur.
“Mana aku tahu, kenapa dia melakukan itu padamu. Yang jelas aku tidak merasa mengatakan apa-apa.” Arriel masih mengelak. Dia masih dengan keyakinannya jika tidak melakukan apa-apa.
Dathan masih sulit percaya. Apalagi dengan sikap Loveta yang mendiami dirinya. Namun, dia malas membahas hal itu. Yang ingin dilakukan adalah membahas jika dia akan menjelaskan tentang hubungannya dengan Arriel.
“Aku mau menjelaskan pada Cinta hari ini. Aku mau bilang jika kita sudah berpisah.” Inilah hal utama yang harus dikerjakan oleh Dathan.
Arriel sudah menduga jika Dathan akan melakukan ini. Mengatakan pada anaknya. Di saat seperti ini, dia tidak punya pilihan.
“Baiklah, katakan saja jika kamu mau katakan. Kita lihat reaksi Cinta apa. Apakah dia akan menerima kenyataan ini atau tidak.” Arriel mentap Dathan. Dia sendiri penasaran dengan reaksi apa yang akan anaknya berikan.
“Baiklah, ayo keluar. Kita bicara pada Cinta.” Dathan segera mengajak Arriel kembali keluar dari ruang kerja. Menuju ke ruang keluarga, di mana ada Neta dan anaknya.
__ADS_1
Terpaksa Arriel ikut berdiri. Dia mengekor di belakang Dathan.