Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Menikmati Sore


__ADS_3

Senyum Dathan tertarik di sudut bibirnya. Merasa jika Neta benar-benar mengemaskan. Entah apa yang dipikirkan oleh Neta. Dathan begitu penasaran sekali.


“Memang apa yang kamu pikirkan ketika aku mengajakmu ke lantai atas?” tanya Dathan.


Neta malu ketika mendapatkan pertanyaan itu. Dia justru terlihat berpikir negatif pada


Dathan. “Aku tidak tahu, karena itu aku tanya.” Dia berusaha untuk tetap tenang.


Dathan melebarkan senyumnya. “Aku ingin mengajakmu menikmati sore di lantai atas sambil menikmati makanan.” Dia menjelaskan apa yang ada di pikirannya.


Neta merutuki kesalahannya yang sudah berpikir yang tidak-tidak. Padahal Dathan hanya mengajak Neta untuk makan saja.


“Oh ... ayo kalau begitu.” Neta berusaha menutupi rasa malunya. Bersikap tenang sekali.


Dathan yang mendapati jawaban Neta hanya tersenyum. Dia kembali berbalik lagi dan kembali melanjutkan langkahnya.


Neta yang berada di belakang Dathan ikut berjalan kembali. Dia mengekor Dathan yang menapaki anak tangga.


Di lantai atas, Neta melihat ruangan di lantai atas. Lantai vinyl terlihat begitu indah sekali. Terlihat ada tiga pintu yang dilihat Neta. Dua pintu di bagian depan. Satu pintu menghadap ke ruang keluarga di mana di sana ada sofa dan televisi.


Neta terus mengikuti Dathan yang terus saja berjalan. Dia pikir Dathan akan berhenti di sofa tersebut, tetapi ternyata tidak. Dathan membawanya ke balkon di lantai atas. Di balkon tersebut ada meja makan kecil dan empat kursi. Walaupun kecil, tetapi terlihat nyaman.


“Duduklah di sini.” Dathan memberikan perintah pada Neta.


Seperti seorang anak yang disuruh orang tuanya, Neta menurut saja ketika diminta untuk duduk. Dia masih memerhatikan sekitar, sambil memerhatikan apa yang dilakukan oleh Dathan.


Dathan kembali ke dalam. Dia menuju ke dapur yang berada di sebelah ruang makan yang berada di balkon. Di sana dia mulai menyiapkan bahan-bahan masakan. Dia ingin menujukan sisi lain dari seorang Dathan.


Neta melihat Dathan dari balik kaca yang berada di sebelah ruang makan. Kaca itu membuatnya dapat melihat Dathan yang memasak. Tampak Dathan bergerak ke sana ke mari menyiapkan semua bahan masakan. Neta terus memerhatikan Dathan yang tampak asyik memasak.


Neta yang penasaran pun bediri. Dia ingin melihat Dathan dari dekat. Walaupun terhalang kaca, tetapi Neta bisa melihat Dathan beraksi di depan kompor.

__ADS_1


Neta yang memerhatikan Dathan benar-benar dibuat terpesona. Dia merasa tingkat ketampanan pria beranak satu itu bertambah beberapa level. Sungguh Neta tak kuasa menahan hatinya. Debaran jantungnya makin tak menentu hingga membuatnya bingung harus bagaimana.


Apa aku benar-benar sudah jatuh cinta pada Dathan?


Pertanyaan itu menghampiri kepala Neta. Dia merasa memang tempat Adriel sudah terisi oleh Dathan perlahan-lahan.


Dathan terus saja bergerak ke sana ke mari memasak. Dia membuat tumis jamur untuk di teman daging yang akan dipanggangnya nanti. Dia juga memanggang kentang untuk karbohidrat makanan nanti. Sesekali dia melihat Neta yang berada di balik kaca.


Tersenyum pada Neta yang sedang melihatnya. Dia tahu jika Neta sedang memerhatikannya.


Setelah masakan siap, dia segera membawa ke ruang makan. Neta yang melihat Dathan membawa makanan segera duduk. Seolah menanti makanan yang akan disajikan oleh Dathan.


“Tunggu aku akan memanggang daging.” Dathan yang meletakkan makanan di atas meja sambil menatap Neta.


Neta pikir Dathan sudah selesai memasak, tetapi ternyata tidak. Ternyata Dathan masih melanjutkan kembali memasak dengan pemanggang yang berada di samping meja makan.


Dathan beraksi memanggang daging. Aroma daging yang tercium membuat Neta begitu tak kuasa. Benar-benar mengunggah selera sekali.


“Apa kamu ingin menunjukkan sisi lain dari seorang Dathan Fabrizio?” tanya Neta.


Dathan berbalik. Dengan meletakkan kedua tangannya di punggung kursi, dia menatap Neta.


“Iya, aku ingin menunjukkan inilah kegiatanku saat di rumah. Aku sering menghabiskan waktu soreku seperti ini bersama anakku. Biasanya aku melakukan ini sekitar jam lima, sambil menunggu matahari yang terbenam. Namun, karena kamu ke sini, aku tunjukan di jam sekarang.” Dathan menjelaskan.


“Jadi kamu biasa makan malam seperti ini dengan Cinta?” tanya Neta penasaran.


“Iya, aku ingin jadi cinta pertama untuk Cinta. Jadi aku menjadikannya spesial ketika makan bersama.” Dathan tersenyum. Dia memang cukup posesif pada anaknya.


“Jadi apa kamu mau membuat aku jatuh cinta juga?” Senyum Neta menghiasi wajahnya.


Dathan sedikit memajukan tubuhnya. Agar jarak antara dirinya dan Neta tidak terlalu jauh. “Iya, aku ingin membuatmu jatuh cinta.” Dathan mengedipkan matanya. Dia segera menegakkan tubuhnya. Kemudian berbalik untuk mengecek daging yang dibakarnya kembali.

__ADS_1


“Jika seperti itu, aku benar-benar bisa jatuh cinta,” gumam Neta. Dia melihat punggung Dathan yang begitu lebar. Rasanya, memeluk Dathan dengan punggung yang begitu lebar, pastinya sangat nikmat sekali. Dia bisa menyandarkan kepalanya di punggung bidang Dathan dengan leluasa.


“Astaga, apa yang aku pikirkan!” gumam Neta kembali. Dia menyadarkan pikirannya karena terlalu jauh berimajinasi.


“Apa kamu lebih suka menghabiskan waktu di rumah?” tanya Neta yang begitu penasaran.


“Iya, aku lebih suka di rumah, tapi juga suka traveling.” Dathan menjelaskan.


“Apa kamu traveling dengan Cinta?” Neta melihat Dathan sering bersama Cinta. Jadi tentu saja hal itu membuatnya penasaran.


“Tentu saja tidak. Aku pergi ketika Cinta sedang bersama mamanya.” Dathan mengangkat roti yang dibakarnya.


Meletakkan di sebuah piring dan meletakan di atas meja makan.


Neta mengangguk-anggukkan kepalanya. Mengerti yang dijelaskan Dathan. Dia memang sudah mendengar jika Cinta akan bersama sang mama saat akhir pekan. Jadi mungkin Dathan memanfaatkan itu semua.


“Lalu kamu pergi sendiri?” Neta semakin penasaran. Dia ingin tahu dengan siapa Dathan akan pergi.


“Iya, aku pergi sendiri, tetapi tidak lagi jika kamu mau pergi bersamaku.” Dathang membungkukkan tubuhnya, mendekatkan diri pada Neta. Dia tersenyum manis pada Neta.


Pipi Neta merona ketika mendapati ucapan Dathan seperti itu. Dia merasa senang, tetapi juga malu, ketika Dathan berniat mengajaknya pergi.


Dathan menegakkan tubuhnya dan kembali mengambil daging yang kini sudah matang. Dia meletakkannya di piring saji yang sudah disiapkannya.


Neta berusaha untuk kembali tenang. Dia tidak mau sampai salah tingkah di depan Dathan.


Dathan meletakkan piring yang berisi daging di atas meja. Kemudian kembali berbalik lagi untuk mengambil satu piring lagi.


“Kamu suka pantai atau gunung?” Neta yang sudah lebih tenang, langsung melemparkan pertanyaannya.


Dathan yang kembali ke meja. Menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya di kursi.

__ADS_1


“Aku suka kamu.” Dathan tersenyum menatap Neta yang berada di depannya. Dia menjawab pertanyaan Neta tentang kesukaannya.


__ADS_2