
Dathan meraih ponsel Neta. Dia menggeser ponsel dengan ibu jarinya. Ternyata Neta tidak mengunci ponselnya. Jadi dengan mudah Dathan melihat pesan apa yang dikirim Adriel.
Adriel:
Ta, nanti aku tidak ikut wawancara juga. Jadi kita bertemu di restoran untuk brifing terlebih dahulu.
Dathan tidak menyangka jika Adriel tidak akan ikut wawancara. Jadi Neta sendiri yang akan wawancara.
Tepat saat dia sedang melihat ponsel, Neta keluar dari kamar mandi. Dathan terkejut ketika melihat Neta keluar. Dia pun dengan wajah polosnya menunjukkan ponsel Neta.
“Tidak dikunci jadi aku membukanya.” Dia mengatakan apa adanya.
Neta tersenyum sambil berjalan menuju ke Dathan. Tangannya bergerak mengusap rambutnya yang basah. Neta sudah memakai baju. Jadi dia bisa tenang menghampiri Dathan. “Tidak ada rahasia.” Dia merasa tidak takut ketika Dathan melihat ponselnya.
“Adriel mengirim pesan.” Dathan memberikan ponselnya.
Neta melihat ponselnya. Dilihatnya Adriel mengirim pesan memberikan pesan untuk bertemu lebih dulu. Setelah membaca pesan itu, Neta beralih pada Dathan. “Akan ada Adriel. Jadi aku kamu hanya bisa melihat aku dari jauh.” Dia memberitahu Dathan.
“Aku mau dekat-dekat denganmu.” Dathan meraih tubuh Neta dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping Neta.
“Sayang, jangan membuatku seperti ini. Kamu harus tahu aku sedang bekerja.” Neta menatap Dathan. Dia berharap Dathan mengerti pekerjaannya.
“Iya, aku mengerti.” Dathan tersenyum.
Neta bersyukur Dathan mengerti. “Baiklah, aku akan bersiap.”
__ADS_1
Dathan pun melepaskan Neta. Memberikan ruang untuk Neta bersiap. Sambil menunggu, dia memilih untuk duduk di sofa.
Ponselnya yang berbunyi membuat Dathan mengeceknya. Ternyata Arriel mengirimi foto Loveta yang menikmati acara ke kebun binatang.
...****************...
Dathan dan Neta sampai di Hotel Maxton. Di ballroom hotel ini nanti dirinya akan menghadiri acara ulang tahun Adion Company. Saat sampai Neta meminta Dathan untuk mencari tempat duduk yang jauh darinya. Tak mau Adriel melihat. Neta tidak mau dikira tidak profesional karena membawa kekasihnya saat bekerja.
Dathan duduk di kursi yang berada di pojok. Tertutup dengan pohon di pot yang tingginya setara dengan tinggi dirinya yang duduk.
Dathan memerhatikan mana pria yang bernama Adriel yang merupakan mantan Neta itu. Dia ingin membandingkan dengan dirinya.
Sesaat kemudian seorang pria menghampiri Neta. Dathan yang melihat pria itu melihat jelas jika itu adalah pria yang sama dengan yang dilihatnya di kafe depan kantor Neta.
“Ternyata aku pernah bertemu dengan pria itu. Pantas saat mendengar namanya, aku merasa tidak asing.” Dathan mengingat bagaimana dia merasa pernah mendengar nama Adriel. Ternyata memang dari Adriel sendiri dia dengar.
Adriel menghampiri Neta. Dia duduk tepat di depan Neta. Tadi jalanan sedikit macet. Jadi dia sedikit terlambat.
“Nanti kamu bisa wawancara di kamar president suit 001. Di sana akan ada Pak Bryan dan istrinya. Ini adalah daftar wawancara yang harus kamu tanyakan. Aku sudah menyiapkan.” Adriel memberitahu Neta tentang apa yang harus Neta lakukan. Dia menyodorkan kertas daftar pertanyaan yang sudah dibuatnya.
Neta meraih kertas tersebut dan membacanya. Dia bersyukur Adriel sudah menyiapkan.
“Ini kunci kamar untukmu. Jadi kamu tidak perlu pulang dan bersiap di sini untuk pesta malam nanti.” Adriel memberikan access card yang tadi didapatkannya dari pihak hotel.
“Terima kasih.” Neta bersyukur karena ternyata Adriel menyiapkan tempat untuknya juga. Jadi setelah nanti wawancara. Pastinya dia akan bisa istirahat.
__ADS_1
“Satu lagi. Ini adalah undangan pesta. Tamu tanpa undangan tidak bisa masuk.” Adriel menyodorkan sebuah undangan pada Neta.
Neta sebenarnya sudah menebak. Hanya saja belum ada info apa-apa, jadi dia tidak bisa memperkirakan apa-apa. Termasuk memperkirakan bisakah dirinya masuk ke pesta bersama Dathan.
“Aku sedang ada acara. Jadi aku tidak bisa datang. Aku serahkan semua padamu.” Adriel ada undangan pernikahan. Jadi dia tidak bisa menemani Neta.
“Tidak apa-apa.” Neta mengangguk mengerti. Dia juga bersyukur karena Adriel tidak datang. Jadi dia bisa leluasa dengan Dathan tanpa harus bersembunyi.
“Baiklah, aku pergi dulu.” Adriel sedang sangat buru-buru. Jadi dia tidak bisa berlama-lama dengan Neta.
“Iya.” Neta mengangguk.
Adriel segera pergi. Temannya sudah menunggunya di lobi. Mereka harus segera ke tempat acara.
Kini tinggal Neta saja. Dia masih melihat ke arah daftar wawancara, undangan, dan kunci kamarnya. Dia memikirkan bagaimana menjelaskan pada Dathan.
“Dia sudah pergi?” tanya Dathan yang duduk di kursi yang berada tepat di depan Neta.
“Iya.” Neta membenarkan.
“Aku tidak menyangka jika itu adalah mantan kekasihmu.” Dathan tersenyum.
“Kenapa?” Neta merasa heran. Memang apa yang salah dengan Adriel.
“Karena aku pernah bertemu dengannya.”
__ADS_1
Neta begitu terkejut ketika mendengar jika Dathan pernah bertemu dengan Adriel. Dia memikirkan di mana gerangan Dathan bertemu dengan Adriel.
“Di mana kamu bertemu?” tanya Neta.