
Dathan mengantarkan Loveta lebih dulu ke sekolah. Karena jarak sekolah tidak jauh, tentu saja membuat mereka sampai lebih cepat. Loveta datang lebih awal dari biasanya, karena Dathan harus mengantarkan Neta setelah ini.
Neta dan Dathan turun dari mobil untuk mengantarkan Loveta. Di sana sudah ada Leo yang juga sudah datang. Orang tua Leo kebetulan bekerja. Jadi memang Leo sering diantar lebih awal ke sekolah. Biasanya bocah kecil yang diam itu menggunakan waktu sambil membaca.
“Leo.” Loveta yang baru datang langsung memanggil temannya itu.
“Lihat aku diantar mami.” Loveta memamerkan Neta yang kini jadi maminya.
“Lihatlah dia selalu aktif sekali jika dengan laki-laki.” Kepala Dathan seketika pusing melihat kelakuan anaknya.
Neta hanya tersenyum saja. Dia tahu sang suami kadang suka mengeluh kelakuan sang anak. Tentu saja itu membuatnya lucu.
Leo yang melihat Neta dan Dathan tersenyum. “Uncle, Aunty.” Dia mengulurkan tangan mencium tangan Neta dan Dathan.
“Aku berasa dicium anak menantu,” Dathan kembali berbisik pada sang istri.
Neta hanya menyenggol sang suami saja. Suaminya asal saja ketika bicara.
“Leo, mami aku baik.” Loveta kembali menceritakan pada Leo.
“Iya.” Pria kecil itu memang irit bicara.
“Lolo baik.” Loveta membela dirinya.
“Iya.” Leo membenarkan ucapan Loveta.
Interaksi Leo dan Loveta itu memang satu arah, tetapi Leo adalah pendengar yang baik untuk Loveta.
Saat merasa anaknya sudah aman, Neta dan Dathan segera berpamitan. Mereka harus segera berangkat bekerja. Dathan akan mengantarkan Neta terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja.
... ...
__ADS_1
...****************...
Mobil Dathan sampai di kantor Neta. Neta segera berpamitan pada suaminya itu.
“Sampai bertemu nanti.” Mendaratkan kecupan di punggung tangan.
“Kamu nanti jangan lupa makan.” Nanti rencananya, Dathan akan menjemput sang istri saat sore. Untuk makan siang, Dathan tidak bisa makan bersama karena ada rapat.
“Iya, aku akan makan yang banyak.” Senyum Neta menghiasi wajahnya. Dia juga tidak keberatan jika harus makan sendiri. Lagi pula, memang sudah biasa hal itu terjadi.
“Masuklah.” Dathan meminta sang istri untuk segera turun.
Neta segera turun. Untuk sesaat Neta menunggu lebih dulu mobil sang suami pergi meninggalkan lobi kantor. Saat masuk, karyawan sudah cukup banyak. Neta mengingat jika tadi dia sedikit siang sampai di kantor. Jadi wajar jika kantor sudah cukup ramai.
Saat berjalan, Neta melihat beberapa orang memerhatikannya. Neta menebak-nebak apa yang membuat semua orang memandanginya.
Apa mereka melihat aku keluar dari mobil mewah?”
“Neta.” Maria memanggil Neta. Dia yang baru datang melihat temannya juga baru datang. Tentu saja itu membuatnya segera menghampiri sang teman.
“Kamu baru datang juga?” Neta tersenyum melihat temannya.
“Iya, aku bangun kesiangan. Semalam aku pergi.” Maria tersenyum.
Neta hanya tersenyum. Pasti kekasihnya-Martin. Mereka memang sedang menjalin hubungan yang serius, dan Neta ikut senang.
Mereka berdua masuk ke lift bersama-sama. Menuju ke ruangan mereka. Di dalam lift ada beberapa orang yang melihat Neta sedikit aneh. Hal itu membuat Neta terus berpikir, kenapa orang-orang hari ini aneh sekali.
“Kamu lihat tidak, orang-orang melihat aku aneh.” Neta merasa ada sesuatu yang salah.
Maria ikut melihat ke arah orang-orang yang dimaksud oleh Neta. Sayangnya, dia tidak menemukan sesuatu yang salah dari orang-orang tersebut.
__ADS_1
“Perasaan tidak aneh.”
Neta kembali melihat teman-teman kantornya. Namun, masih merasakan keanehan itu. Karena setelah melihat dirinya, mereka berbisik-bisik.
“Mungkin mereka melihat kamu hari ini cantik.” Maria mencoba menenangkan temannya.
Neta mengembuskan napasnya. Berusaha untuk tetap tenang. Dia berpikir, mungkin hanya perasaannya saja yang merasa orang-orang memerhatikannya.
...****************...
Dathan sampai di kantor. Karena rencananya hari ini ada rapat, dia menyiapkan berkas yang disiapkan. Rencananya Dathan ingin membuat pabrik furniture miliknya. Jadi dia harus menyiapkan semua dengan matang.
Suara ketukan pintu terdengar ketika
Dathan sedang menyiapkan berkas-berkasnya. Dathan mengalihkan pandangannya ketika mendengar pintu diketuk. Ternyata Renolah yang berada di balik pintu. Pria itu masuk ke ruangannya dengan terburu-buru sekali.
“Kamu seperti dikejar setan.” Dathan menggoda temannya itu.
“Ini lebih dari dikejar setan.” Reno tampak begitu serius sekali.
Dathan hanya tersenyum saja. Sudah biasa temannya itu bercanda. “Kamu ke sini untuk memintaku datang ke ruang rapat?” Dia menebak apa yang ingin dilakukan oleh temannya itu.
“Bukan.” Reno menggeleng.
Dahi Dathan berkerut dalam. Dia memikirkan apa yang ingin dilakukan temannya itu jika bukan untuk mengabari tentang rapat.
“Lalu?” Dia begitu penasaran dengan kedatangan temannya.
“Ini.” Reno meletakkan sesuatu di atas meja.
Dathan yang melihat apa yang ada di atas mejanya, langsung membulatkan matanya. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1