
Tepat jam sepuluh Adriel dan Neta ke Syailendra Grup. Neta begitu berdebar-debar. Dia benar-benar takut, mengingat akan bertemu dengan petinggi Syailendra Grup. Entah apa yang akan mereka lakukan padanya. Rasanya Neta begitu penasaran sekali.
“Apa yang harus aku lakukan, Kak?” Neta menatap Adriel yang sedang sibuk menyetir.
“Jawab saja yang ditanyakan. Berikan penjelasan yang menurutmu benar.” Adriel tersenyum. Meyakinkan Neta untuk agar lebih baik.
Neta berharap dirinya bisa menjawab semua dengan baik. Berharap tidak ada yang salah dari ucapannya.
Mobil Adriel sampai di tempat parkir kantor Syailendra. Segera Neta dan Adriel turun dari mobil. Kemudian masuk ke kantor dengan menggunakan lift yang terhubung ke lobi. Di lobi mereka mengatakan jika ingin bertemu dengan Gala. Gala adalah asisten CEO Syailendra Grup.
Resepsionis pun meminta Neta dan Adriel untuk langsung ke ruangan Gala. Karena memang tadi sekretaris Gala meminta Adriel dan Neta ke ruangan Gala melalui sambungan telepon.
Tanpa menunggu lama, Adriel dan Neta pun segera ke sana. Di depan ruangan Gala, mereka bertemu dengan seorang sekretaris. Mereka diantarkan untuk ke ruangan rapat, karena Gala akan menemui mereka di sana.
Neta dan Adriel masuk ke ruang rapat. Ruang rapat tampak besar. Mungkin ukuran tersebut, muat untuk sekitar dua puluh orang.
__ADS_1
Perasaan Neta semakin berdegup kencang. Merasa benar-benar ketakutan. Pendingin ruangan yang memberikan rasa dingin itu membuat tubuhnya semakin gemetar. Membuat bulu halus di tangannya berdiri perlahan.
Adriel meminta Neta untuk duduk. Menunggu Gala yang sedang dipanggil oleh sekretaris. Adriel yang duduk di samping Neta berusaha untuk menenangkan Neta. Meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian sekretaris datang. Dia melebarkan pintu untuk mempersilakan Gala masuk. Neta yang masuk melihat pria tampan yang baru datang begitu tercengang. Dia pikir jika asisten CEO adalah seorang yang sudah berumur. Akan tetapi, ternyata masih terlihat sangat muda, tampan, dan bak model.
Apa dia juga model?
Pertanyaan itu menghiasi kepala Neta ketika melihat Gala. Pria itu memang memiliki wajah yang tampan. Walaupun tingginya standar orang biasa. Neta berpikir seperti itu karena tahu Kafa adalah model.
“Selamat pagi, Pak.” Adriel tersenyum. Dia memberikan kode tatapan pada Neta untuk berdiri.
Neta segera berdiri. “Selamat pagi, Pak.” Dia ikut menyapa Gala. Tubuhnya semakin gemetar ketika akan berhadapan dengan Gala.
Gala menjabat tangan Adriel dan bergantian dengan Neta. Melihat Neta yang bersama Adriel, dia mengenali wajah wanita yang di dalam majalah R3eal Gosip. Karena itu dia menyimpulkan jika Neta adalah wartawan yang sedang terkena skandal itu.
__ADS_1
Gala segera duduk tepat di depan mereka. Diikuti oleh Adriel dan Neta yang kembali duduk di kursinya. Sekuat tenaga, dia menenangkan dirinya. Agar tidak membuat keadaan kacau.
Saat mereka semua sudah duduk. Gala memulai pembicaraan. Karena tidak mau berlama-lama menyelesaikan masalah yang terjadi. “Kemarin aku sudah melihat artikel dari majalah R3al Gosip.” Gala menatap Adriel dan Neta yang duduk bersebelahan. “Apa ini wartawan yang berada di dalam artikel?” Walaupun sudah tahu, Gala masih tetap bertanya.
“Iya, Pak. Ini Marsha Kineta-wartawan Syailen Bisnis. Wanita dalam majalah tersebut.” Adriel menjelaskan pada Gala.
Gala mengangguk-anggukkan kepalanya. Tebakannya ternyata tidak salah. “Karena majalah itu saingan Syailen Gosip, aku tidak bisa menghentikan peredaran majalah tersebut.” Dia menjelaskan hal yang sudah dilakukannya. Dia memang diminta Kafa untuk melakukan tindakan itu terlebih dahulu. Sayangnya, kali ini terlalu sulit.
Neta tidak menyangka jika atasannya sudah melakukan hal sejauh itu. Tentu saja itu membuatnya merasa malu. Apalagi dirinya yang menyebabkan semua itu terjadi.
“Pak, maafkan saya sudah membuat Syailendra Grup tercoreng namanya. Saya sebagai wartawan yang sudah melakukan hal itu siap menanggung akibat dari apa yang saya lakukan.” Neta yang merasa bersalah pun segera berbicara. Dia menyadari jika dirinyalah yang salah.
“Bagus kalau kamu sudah bersedia menanggung apa yang kamu lakukan.” Gala tampak begitu serius ketika berbicara. Dia memang terkenal tidak suka bercanda ketika bekerja. “Tapi, yang bisa memberikan konsekuensi atas apa yang kamu lakukan ini adalah CEO Syailendra. Jadi sebaiknya kita menunggu. Karena dia sedang ke sini.” Gala menjelaskan pada Neta. Tadi dia sudah memberitahu Kafa jika wartawan yang ada di majalah datang. Karena itu Kafa mengatakan jika dia akan ikut menemui.
Neta menelan salivanya. Dia pikir, hanya akan bicara dengan asisten CEO saja. Namun, ternyata akan bicara langsung dengan CEO Syailendra. Itu semakin membuat Neta semakin berdebar-debar. Apa yang akan dilakukan oleh mereka.
__ADS_1