Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Memetik Jambu


__ADS_3

Dathan, Neta, Loveta, segera menuju ke rumah orang yang memiliki pohon jambu. Tepat saat di depan gerbang si pemilik rumah, dari rumah sebelah Reno keluar dari rumahnya.


“Mau apa, Than?” Reno melempar pertanyaan ketika melihat temannya.


“Mau minta jambu.” Dathan menunjuk pohon jambu yang berada di pekarangan tetangga Reno.


Reno mengalihkan pandangan. Dilihatnya pohon jambu air yang merah-merah menggoda. Walaupun bertetangga, Reno tidak pernah memerhatikan pohon milik tetangganya itu.


“Kamu kenal pemiliknya tidak?” tanya Dathan.


“Kenal. Pemiliknya seorang wanita paruh baya. Belum lama tinggal di sini. Beliau suka mengobrol dengan Rifa.” Reno beberapa kali mendapati istrinya mengobrol dengan tetangganya itu. Jadi dia tahu.


“Kalau begitu ayo.” Dathan mengajak temannya itu. Dia merasa temannya itu pastinya bisa membantunya.


Reno dengan senang hati membantu. Dia ikut bersama Dathan ke rumah sebelah.


“Permisi.” Reno menekan bel rumah.


Seorang asisten rumah tangga keluar. Kebetulan Reno kenal. Walaupun tidak pernah mengobrol.


“Bi, Ibu Monica ada?” tanya Reno.


“Ada, Pak. Mari masuk.” Asisten rumah tangga membukakan gerbang untuk Reno.


“Kamu kenal baik sepertinya.” Dathan berbisik pada temannya itu.


“Rifa yang sering cerita. Dia seorang wanita paruh baya. Anaknya bekerja di luar negeri. Jadi dia tinggal sendiri.” Reni menceritakan sedikit yang dia tahu.


Mereka semua menunggu di teras rumah. Beberapa saat kemudian seorang wanita paruh baya keluar.


Wanita tersebut melihat satu per satu orang yang datang. Dari orang-orang tersebut yang dikenalnya hanyalah Reno saja selebihnya tidak. Saat melihat Dathan, dia merasa pernah melihat Dathan, tetapi tidak tahu di mana. Dia sendiri merasa bingung di mana pernah melihat.

__ADS_1


Saat melihat Neta pun dia juga sedikit terkejut. Wajah Neta benar-benar tampak tidak asing.


“Nak Reno, ada apa ke sini?” Bu Monica menatap Reno. Dia begitu penasaran sekali dengan Reno yang datang ke rumahnya pagi-pagi.


“Ini, Bu. Saya mengantarkan teman saya.” Reno tidak mau mengatakan tujuannya. Mengingat bukan dirinya yang berkepentingan.


Bu Monica mengalihkan pandangan pada Dathan. Hal itu tentu saja membuat Dathan segera berbicara untuk mengungkapkan keinginannya.


“Saya Dathan.” Sebelum mengatakan keinginannya, Dathan memperkenalkan diri. Tak lupa, dia mengulurkan tangannya.


“Saya Monica.” Bu Monica menerima uluran tangan Dathan.


“Ini istri saya-Neta, dan ini anak saya-Loveta.”


Dathan memperkenalkan anak dan istrinya.


Bu Monica mengalihkan pandangan. Untuk sesaat dia terpaku ketika melihat Neta. Wajah Neta yang cantik mengingatkannya pada masa mudanya.


“Monica.” Bu Monica menerima uluran tangan Neta. Kemudian dia beralih pada Loveta. “Hai, gadis kecil. Siapa namamu?” tanyanya lembut.


“Lolo.” Loveta menjawab sambil tersebut.


“Kami ke sini ingin meminta jambu milik Bu Monica. Kebetulan istri saya sedang hamil. Jadi ingin makan jambu tersebut.” Dathan menyampaikan niatnya datang.


Bu Monica melihat ke arah perut Neta. Masih tampak rata. Dia menebak jika memang masih hamil muda.


“Tentu saja silakan. Ambil sepuasnya.” Bu Monica langsung mempersilakan Dathan untuk mengambil.


Dathan mengangguk. Kemudian menarik Reno untuk ke pohon tersebut. Reno hanya pasrah ketika ditarik begitu saja. Mengikuti Dathan yang hendak mengambil buah jambu.


Tidak ada tangga. Sehingga membuat Dathan kebingungan. “Bagaimana naiknya?” Dia menatap Reno.

__ADS_1


“Naik saja seperti monyet.” Reno tertawa ketika menjawab.


“Sial.” Dathan mendengkus kesal. “Dasar monyet.” Dia yang kesal pun mengatai temannya itu.


“Awas kalau bicara. Istrimu sedang hamil. Jangan sampai dia kena imbasnya.” Reno memberikan peringatan pada temannya.


Seketika Dathan menutup mulutnya. Tak berani mengatakan yang tidak-tidak. Dathan memikirkan bagaimana memetik jambu. Pohon jambu tidak terlalu tinggiz tidak juga rendah. Rantingnya yang kecil, tentu saja tidak bisa dipanjat seperti yang dikatakan oleh Reno.


“Menghadap ke sana.” Reno memutar tubuh Reno. Kemudian naik ke punggung Reno tanpa aba-aba.


“Than, apa kamu tidak sadar badanmu berat.” Reno benar-benar terkejut ketika Dathan naik ke punggungnya.


“Sudah sebentar saja.” Dathan tersenyum.


“Papi naik di punggung Uncle Reno.” Loveta berteriak girang. Dia senang melihat sang papi yang naik ke punggung Reno.


Reno mengalihkan pandangan pada Loveta. Memikirkan sejak kapan Loveta memanggil papi pada Dathan. Tidak bertemu Loveta berhari-hari sudah banyak yang tidak dia tahu.


“Jangan putar-putar.” Dathan menepuk bahu Reno. Tubuh Reno yang berputar-putar membuatnya kesulitan untuk memetik jambu.


Reno hanya bisa mendengkus kesal. Temannya ini benar-benar menyusahkan.


Dathan meraih buah jambu dengan tangannya. Beberapa jambu didapatkannya.


Neta yang melihat suaminya segera menghampiri untuk menerima jambu yang dipetik.


“Reno gendong aku lebih tinggi.” Tangan Dathan yang meraih jambu, tak sampai. Jadi dia butuh dorongan sedikit.


Reno kesal. Bisa-bisanya, dirinya dikerjai oleh Dathan. Padahal badan Dathan lebih besar. Reno pun menurunkan Dathan.


“Kenapa aku diturunkan?” Dathan merasa belum dapat banyak jambu.

__ADS_1


“Sudah gantian aku saja yang naik di punggungmu.” Reno menyeringai.


__ADS_2