Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Tidak Bersama Lagi


__ADS_3

Di waktu yang bersamaan Neta menemani Loveta di luar yang sedang bermain. Karena ingin tahu kenapa dengan Loveta begitu marah, Neta pun mencari kesempatan untuk bertanya.


“Wah ... barbienya cantik sekali. Seperti Cinta.” Neta merayu Loveta. Memuji mainan yang dibawa Loveta.


Loveta mulai tersenyum, tetapi belum mau membuka mulutnya.


“Ini namanya siapa?” Neta bertanya sambil menunjuk ke arah mainan Loveta.


“Lala.” Loveta akhirnya mau bersuara.


Neta tersenyum ketika Loveta sudah mau bicara. Tandanya Loveta sudah tidak marah lagi. Jadi dia bisa mencari celah untuk tahu. Dia pun ikut main dengan Loveta. Membuat Loveta nyaman dulu dengannya.


“Cinta marah dengan Aunty?” Neta mencoba mencari celah.


“Tidak.” Loveta menjawab dengan cepat.


“Lalu kenapa tidak menjawab sapaan Aunty?” Neta terlalu ingin tahu. Apa sebenarnya yang membuat Loveta tampak marah.


“Lolo marah dengan papa. Saat bangun papa tidak ada. Lalu papa pulang dengan Aunty. Jadi pasti papa dari rumah Aunty.” Loveta meluapkan kekesalannya.


Neta mencerna ucapan Loveta. Dia akhirnya tahu alasan Loveta kesal dengan sang papa.


“Cinta mau ikut ke rumah Aunty?” Neta mencoba menebak.


“Iya, Lolo juga mau lihat rumah Aunty.” Itulah yang membuat Loveta kesal karena tidak diajak.


Neta tersenyum. Satu sisi dia senang karena Loveta hanya marah karena hal itu. Di sisi lain dia merasa kasihan, ketika Dathan pergi dia ingin ikut.


“Baiklah, nanti kita ke rumah Aunty.” Neta dengan semangat memberitahu. Dia ingin membuat Loveta senang bisa bersamanya.


“Benarkah?” Loveta berbinar. Dia senang sekali mendengar ucapan Neta.


“Benar.” Neta menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Ye ....” Loveta tampak begitu senang sekali. Dia merasa bahagia sekali.


Tepat saat itu Arriel dan Dathan keluar dari ruang kerja. Dathan yang melihat Loveta sudah tertawa bersama kekasihnya, merasa lega. Akhirnya Loveta mau tertawa juga. Artinya anaknya sudah tidak marah lagi.


“Wah ... seru sekali bermain.” Dathan ikut bergabung dengan anak dan kekasihnya.


Arriel yang melihat anaknya kembali ceria menyadari jika Neta semudah itu membuat anaknya yang tadinya murung menjadi ceria. Sungguh hal yang tidak bisa dilakukannya. Ini benar-benar sulit diterima untuknya.


“Lolo masih marah pada, Papa.” Loveta membuang mukanya.


Dathan melihat ke arah Neta. Mencari jawaban atas apa yang dikatakan oleh anaknya. Neta hanya tersenyum saja. Membiarkan Dathan berusaha sendiri bertanya.


“Memang Papa salah apa?” Dengan tanpa berdosanya, Dathan bertanya.


“Aunty saja yang bilang.” Loveta justru meminta Neta untuk menjawab.


Dathan langsung mengalihkan pandangan pada Neta menunggu jawaban dari Neta.


“Papa tidak ajak Cinta ke rumah Aunty. Jadi Cinta marah.” Neta menjelaskan sambil tersenyum.


“Maafkan Papa karena tidak mengajak Cinta. Tadi, Cinta masih pulas sekali tidur. Jadi Papa tidak mau mengganggu.” Dathan mencoba menjelaskan.


Loveta masih terdiam saat papanya meminta maaf. “Nanti Lolo mau ke rumah Aunty Neta.”


Dathan mengalihkan pandangan pada Neta. Neta mengangguk. Mengiyakan apa yang dikatakan oleh Loveta. “Iya, nanti Papa akan ajak kamu.” Dia setuju dengan yang diminta oleh sang anak.


“Ye ... nanti Lolo ke rumah Aunty Neta.” Loveta kembali bersorak senang.


Arriel hanya bisa mengembuskan napasnya. Dia merasa sakit sekali ketika Loveta begitu senang sekali.


“Cinta, Papa mau bicara, Cinta dengarkan apa yang Papa bicarakan.” Dathan menatap Loveta dengan lekat. Di saat anaknya sedang baik-baik saja seperti ini, waktu inilah yang tepat untuk mengatakan pada Loveta.


“Papa mau bilang apa?” Loveta begitu penasaran.

__ADS_1


Dathan menatap Neta dan juga Arriel. Memantapkan hatinya untuk bicara pada anaknya.


“Mama dan papa selama ini tinggal terpisah. Itu artinya, mama dan papa tidak akan pernah tinggal bersama dalam satu rumah.” Dathan mulai berbicara. Entah penjelasan ini tepat atau tidak.


Loveta masih mencerna ucapan sang papa dia bingung mendengar penjelasan itu.


“Memang kenapa mama dan papa tidak bisa tinggal bersama?” Loveta yang bingung pun melemparkan pertanyaan.


Dathan semakin bingung. Bagaimana menjelaskan pada Loveta. Dia menatap Arriel, tetapi mantan istrinya tampak tak peduli. Membiarkan Dathan menjelaskan sendiri yang diucapkan oleh Dathan.


Neta yang melihat situasi ini pun ingin ikut bicara, tetapi dia merasa tidak enak karena bukan kapasitasnya. Apalagi ada Arriel dan Dathan yang bersangkutan.


Hening sesaat. Dathan sibuk mencari jawaban, sedangkan Arriel dan Neta tampak menunggu.


“Karena kami punya kesukaan yang berbeda.” Akhirnya Arriel membuka suaranya. Tangannya meraih tangan Loveta. Menggenggamnya erat. Tampak Loveta semakin bingung dengan yang dijelaskan sang mama. “Papa suka makan burger, tetapi mama suka makan pizza. Karena itu kami tidak bisa bersama makannya. Kami harus makan terpisah karena restoran menyajikan makanan berbeda. Sama seperti itu, mama dan papa punya kesukaan yang berbeda. Jadi akhirnya tidak bisa tinggal bersama. Mama lebih suka tinggal di apartemen dan papa lebih suka tinggal di rumah.” Arriel mencoba menjelaskan lebih sederhana lagi agar anaknya bisa mengerti.


“Lalu jika tidak bisa makan bersama, Lolo makan dengan siapa?” Lolo menatap Arriel dan Dathan bergantian.


“Kami akan tetap akan makan bersama saat Cinta mau makan sesuatu. Kami akan bersama saat Cinta butuh kami bersama.” Dathan menambahkan.


“Jadi papa dan mama bercerai?” Loveta menatap kedua orang tuanya.


Dathan dan Arriel saling menatap. Susah payah mereka menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, tetapi anaknya justru langsung to the poin mengatakan perceraian.


“Cinta tahu dari mana kata bercerai?” Dathan begitu penasaran.


“Di sekolah Lolo sering dengar mama-mama bilang papa dan mama Lolo sudah bercerai. Lalu, Lolo tanya Leo. Leo bilang bercerai itu artinya papa dan mama berpisah karena tidak suka. Tidak suka makan bersama, tidak suka tidur bersama, tidak suka bermain bersama. Kata Leo semua tidak suka.” Loveta menjelaskan apa yang dikatakan oleh temannya itu.


Dathan tidak menyangka teman Loveta bisa menjelaskan hal itu pada anaknya. Sesuatu yang mudah dipahami oleh Loveta.


Arriel tidak menyangka jika ternyata anaknya begitu dewasa memahami perceraian antara kedua orang tuanya. “Iya, tapi kami akan bersama saat Lolo butuh.” Arriel meyakinkan anaknya.


Loveta langsung mengangguk. Dia mengerti yang dijelaskan sang mama.

__ADS_1


Dathan langsung memeluk anaknya. Tidak menyangka jika anaknya begitu pintar sekali. Apalagi mengerti arti perpisahan antara kedua orang tuanya.


“Apa Aunty Neta suka makan burger seperti papa?” Pertanyaan itu meluncur saat Loveta berada di pelukan sang papa.


__ADS_2