
“Apa Arriel mengatakan sesuatu?” Dathan langsung menanyakan hal itu pada Neta. Dia benar-benar tidak sabar mendengar cerita dari sang kekasih.
“Tidak. Dia hanya bertanya saja apakah aku serius denganmu.” Neta tidak menceritakan bagaimana Arriel tadi sedikit mengintimidasi dirinya.
“Kamu jawab apa?” Dathan penasaran dengan jawaban sang kekasih.
“Aku jawab jika kita memikirkan masalah itu.” Neta menjelaskan apa adanya.
Dathan merasa senang karena Neta menjawab pertanyaannya dengan benar.
“Aku janji akan segera memberitahu Cinta.” Dathan sebenarnya sudah sabar untuk memberitahu anaknya. Jika terlalu lama, pastinya akan membuat hubungan dengan Neta akan sulit.
“Aku akan menunggu. Jadi kamu tidak perlu khawatir.”
Dathan tersenyum. Dia yakin sang kekasih pasti sabar menunggu, tapi dirinya tidak sabar untuk hal itu. Tentu saja itu membuatnya merasa tenang.
“Baiklah, kalau begitu istirahatlah.” Dathan mengakhiri obrolan mereka.
Dathan yang sudah selesai pun kembali mengobrol dengan Reno dan Rifa. Loveta kebetulan di kamar bersama Richa, jadi mereka lebih leluasa.
“Sepertinya kamu harus segera memberitahu Loveta, Than.” Rifa memberitahu Dathan yang baru saja bergabung dengan mereka.
“Iya, aku akan beritahu saat dia sembuh.” Dathan berpikir memang harus segera memberitahu.
“Aku sedikit takut dengan Arriel.” Reno menatap Dathan dan Rifa.
“Kenapa?” tanya Dathan yang penasaran.
__ADS_1
“Karena aku merasa dia mulai jatuh cinta lagi denganmu.” Reno tertawa menggoda temannya.
“Sial!” Dathan langsung melempar bantal. Kesal dengan sang teman.
Reno hanya tertawa saja. Dia merasa lucu menggoda temannya itu.
“Tapi, tidak ada salahnya Than berhati-hati. Terkadang saat sesuatu yang pernah kita miliki, dimiliki orang lain, ada rasa tidak terima. Tentu saja itu membuat dorongan kembali mendapatkan.” Rifa kali ini setuju dengan suaminya. Ada banyak kemungkinan. Jadi tentu saja itu membuat Dathan merasa jika hal itu bisa terjadu.
“Itu pentingnya menjaga miliki kita. Agar tidak menyesal. Bagiku, kesempatan memperbaiki untuk sebuah hubungan tidak bisa dilakukan, apalagi sudah dilakukan berkali-kali. Seperti bisnis. Saat melakukan bisnis, aku sudah mencoba mempertahankan, mengusahakan agar tidak bangkrut, tetapi ada saatnya usaha harus dihentikan jika benar-benar sangat merugikan, lebih baik menghentikan usaha itu.” Dathan tahu jika tidak mudah untuk semua ini. Namun, dia tidak akan melepaskan Neta untuk kembali ke Arriel.
Rifa dan Reno hanya mengangguk saja ketika Dathan menjelaskan itu. Mereka yakin, jika Dathan bisa menghadapi semuanya.
...****************...
Pagi-pagi Arriel sudah sampai di rumah Dathan. Dia datang sebelum Loveta bangun. Sengaja, Arriel ingin sang anak melihatnya ketika bangun.
Saat di lantai atas, Arriel melihat langit sambil berayun. Rasanya Arriel rindu melihat matahari terbenam di sana. Mungkin nanti sore, dia akan melakukannya.
Pintu terbuka. Arriel langsung mengalihkan pandangannya ketika sedang memandangi langit. Dia melihat Dathan yang sedang keluar dari dalam sambil meminum minumannya. Yang jadi perhatian Arriel adalah Dathan yang sedang tidak memakai pakaian.
Arriel ingat betul jika setiap pagi Dathan selalu olahraga selalu tidak memakai pakaian bagian atas. Entah kenapa jantung Arriel berdebar-debar ketika melihat pemandangan itu. Membuatnya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Kamu di sini?” Dathan begitu terkejut ketika Arriel berada di lantai yang sama dengannya.
“Iya, tadi aku mau lihat langit di sini.” Arriel sedikit gugup sekali ketika mengingat melihat Dathan dengan dada terbuka.
“Oh ....” Dathan mengangguk mengerti. “Aku masuk dulu.” Dathan tak mau berlama-lama. Apalagi dia sedang tidak memakai pakaian.
__ADS_1
“Baiklah.” Arriel mengangguk.
Selepas Dathan masuk, Arriel memegangi dadanya. Dia merasa ada yang salah dengan perasaannya.
“Apa benar aku jatuh cinta lagi?” Arriel mengenali perasaan apa ini. Jadi tentu saja dia tahu apa yang terjadi padanya.
...****************...
Dathan sudah rapi dengan pakaian kantornya. Arriel yang melihat Dathan merasa jika Dathan begitu memesona. Entah kenapa pikiran Arriel membayangkan saat-saat bersama Dathan.
“Karena kamu di sini, aku berangkat dulu.” Dathan menghampiri Arriel yang duduk di ruang keluarga.
Arriel tersadar ketika Dathan mengajak bicara dirinya. Dia segera mengalihkan pandangan. Waktu menunjukkan jam setengah tujuh. Masih terlalu pagi untuk ke kantor.
“Kamu mau ke kantor?” tanya Arriel memastikan.
“Iya.” Dathan mengangguk.
“Sepagi ini?” Arriel kembali memastikan.
“Aku ingin menjemput Neta dulu.” Dathan menjelaskan niatnya pada mantan istrinya itu.
Seketika Arriel tersadar. Pria yang dikaguminya sejak tadi sudah punya kekasih. Rasanya sakit mendapati kenyataan itu.
“Aku pergi dulu. Jika Cinta tanya, katakan jika aku pergi ke kantor lebih awal.” Dathan menitipkan pesan pada Arriel.
Arriel hanya bisa mengangguk. Walaupun sebenarnya, dia masih merasakan perasaan yang entah Arriel sulit mendeskripsikannya. Antara rasa tidak terima, cemburu, dan kecewa yang bercampur menjadi satu.
__ADS_1
Arriel kini berada dalam perasaannya yang membuatnya bingung. Kenapa rasa itu hadir sekarang. Ke mana perasaannya itu dulu?