Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Hadiah


__ADS_3

Neta berpikir hadiah apa yang akan dimintanya. Dia menatap Dathan bingung. Memikirkan hadiah apa yang akan dimintanya. Karena bingung, akhirnya Neta memilih untuk menatap Loveta.


“Cinta mau hadiah apa?” tanya Neta.


“Es krim.” Loveta dengan semangat menjawab pertanyaan Neta.


Neta tersenyum. Anak-anak selalu meminta hadiah yang simple. Tak pernah sengaja memanfaatkan keadaan. Karena itu, Neta segera beralih pada Dathan. “Es krim,” ucapnya. Dia setuju dengan ide Loveta.


“Baiklah, setelah kita sarapan kita cari es krim.” Dathan tersenyum.


Mereka melanjutkan kembali untuk bermain. Neta kembali bermain dengan Loveta. Mereka berdua begitu riang.


Usai puas bermain air, mereka memutuskan untuk segera membersihkan diri. Neta membantu Loveta untuk membersihkan diri, sedangkan Dathan merapikan pelampung yang dibawanya tadi.


Saat Loveta sudah selesai, Neta segera bergantian untuk membersihkan diri. Dathan adalah yang terakhir membersihkan diri. Saat Dathan membersihkan diri, Neta dan Loveta duduk di gazebo. Dia mereka menunggu Dathan sambil bercerita.


“Cinta suka jalan-jalan?” Neta melempar pertanyaan itu pada Loveta.


“Suka, baru kali ini Neta bisa pergi bersama-sama. Biasanya papa pergi berdua Lolo.” Loveta menceritakan kebiasaan yang dilakukannya.


“Kalau dengan mama pergi ke mana?” Neta begitu penasaran sekali dengan yang dilakukan oleh Loveta.


“Mama selalu ajak bermain di mal atau diajak bekerja.” Loveta menjelaskan pada Neta.


Neta tidak habis pikir, sudah seminggu bekerja, saat anaknya bersamanya, mantan Dathan masih bekerja. Sungguh Neta tidak menyangka akan hal itu. Padahal jelas-jelas kesempatan bermain dengan anak tidak akan terulang kembali.


“Lalu kalau dengan Papa ke mana saja?” Neta penasaran dengan Loveta yang pergi dengan papanya.


“Pergi ke gunung, ke laut, menginap di hotel, terus pergi ke luar negeri, ke taman bermain, banyak sekali.” Loveta menceritakan apa yang dilakukannya dengan papanya.


Dari apa yang dikatakan oleh Loveta, Neta mengambil kesimpulan jika kenangan Loveta jauh lebih banyak ketika bersama dengan papanya, dibanding dengan mamanya.


Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Dathan keluar. Pria itu sudah rapi sekali. Neta yang melihat kekasihnya itu memang selalu saja tak habisnya terpesona. Neta merasa gaya berpakaian Dathan benar-benar membuat umurnya jauh lebih muda. Orang tidak akan menyangka jika pria itu berusia empat pulih tahun.

__ADS_1


“Ayo, makan.” Dia mengajak Neta dan anaknya untuk sarapan.


Neta langsung mengulurkan tangan pada Loveta. Mengajak gadis kecil itu untuk ke meja makan. Bergabung dengan Dathan yang juga sedang berjalan ke meja makan.


Mereka bertiga menikmati sarapan. Loveta tampak begitu kelaparan. Apalagi mereka baru saja berenang dan menghabiskan tenaga.


Seusai sarapan, mereka bersama-sama bersiap untuk jalan-jalan. Sesuai janji, mereka akan pergi menjadi es krim. Setelah itu mereka akan pergi untuk mencari oleh-oleh. Barulah sore, mereka akan menikmati pantai.


Dathan menggunakan mobil yang disewanya. Dia segera melajukan mobilnya menuju ke tempat di mana dia bisa mendapatkan es krim. Beruntung, ada kedai es krim yang menjual beberapa rasa es krim. Tentu saja itu membuat Loveta dan Neta begitu senang sekali.


Neta memesan es krim coklat, Loveta memesan es krim, dan Dathan memilih es krim rasa kopi. Mereka menikmati es krim bersama.


Dathan melihat Loveta yang berantakan makannya langsung mengusap bibirnya. “Pelan-pelan, Cinta.” Dia memberitahu Loveta.


“Iya, Papa.” Loveta tersenyum.


Dathan beralih pada Neta. Tak hanya Loveta yang berantakan ketika makan, Neta pun juga. “Kamu juga harus pelan-pelan.” Dia mengusap bibir Neta.


Neta terpaku. Dia merasa tidak nyaman ketika Dathan melakukannya di depan anaknya. Tentu saja itu membuatnya terkejut.


Neta bersyukur pikiran Loveta sederhana. Tidak seperti orang dewasa yang begitu penuh curiga. Dia melirik Dathan tajam. Kesal karena memberikan perhatian ketika ada anaknya.


Dathan tampak tenang saja ketika Neta tampak kesal. Dia justru suka sekali ketika gadis cantik itu kesal.


Dari toko es krim menuju ke toko oleh-oleh. Besok, pagi mereka akan kembali di penerbangan pagi hari, jadi tentu saja mereka tidak akan sempat membeli apa-apa.


Neta yang melihat kerajinan tangan merasa senang sekali. Dia akan membelikan satu untuk Maria. Sebagai oleh-oleh.


Loveta meminta sang papa untuk membeli topi pantai. Gadis kecil itu tampak lucu sekali ketika memakai topi tersebut.


Dari toko oleh-oleh Neta dan Dathan pergi ke pantai. Mereka menikmati deburan ombak dan pasir pantai yang lembut. Loveta begitu senang bermain air. Dathan dan Neta pun menemani Loveta bermain. Membangun istana.


“Nanti, Lolo dan Leo tinggal di sini.” Loveta menceritakan jika dia akan tinggal di istana yang dibangunnya.

__ADS_1


Neta bingung siapa gerangan Leo yang dimaksud. Dia melihat Dathan. Siapa gerangan Leo itu.


“Anak laki-laki di sekolahnya,” bisik Dathan pada Neta.


Neta tersenyum ternyata itu adalah teman di sekolah. Tentu saja dia tertawa. Tidak hanya orang dewasa yang saling dekat, tetapi anak-anak juga sama.


“Papa, nanti kita pergi dengan Aunty Neta lagi ya.” Loveta menatap sang papa.


Dathan merasa senang sekali karena Loveta sudah terlihat nyaman dengan Neta. “Tentu saja. Asalkan Aunty Neta mau.” Dathan tersenyum menatap Neta.


“Tentu saja Aunty mau.” Neta tersenyum sambil memeluk Loveta.


“Ye ....” Loveta bersorak senang.


Mereka melanjutkan kembali bermain pasir. Tak hanya itu, mereka juga bermain di pinggir pantai. Menikmati deburan yang menerpa tubuh mereka. Mereka basah-basahan karena menikmati deburan ombak.


Setelah puas, mereka membersihkan diri. Rencananya mereka akan menikmati makan mereka.


Mereka menikmati makan bersama-sama di restoran yang berada di pinggir pantai. Makanan laut menjadi makanan sajian. Datha membantu Neta yang kesulitan membuka cangkang kepiting. Kepiting sengaja mereka pesan yang tidak pedas agar Loveta bisa makan juga.


“Aaa ....” Neta meminta Loveta untuk membuka mulutnya. Dia menyuapi Loveta untuk makan.


Loveta langsung membuka mulutnya. Menerima suapan makanan dari Neta. Dia senang karena tidak perlu susah-susah makan, karena Neta membantunya.


“Aaa ....” Dathan juga ikut membuka mulutnya meminta Neta untuk menyuapinya.


Neta ragu ketika melihat Dathan membuka mulutnya juga.


“Suapi Papa, Aunty.” Loveta meminta Neta juga menyuapi papanya.


Mendapatkan instruksi dari Loveta, Neta baru berani. Dia menyuapi Dathan. Dathan menerima tangan Neta yang masuk ke mulutnya. Dia sengaja membuat lama tangan Neta keluar. Mulutnya mengambil pelan-pelan makanan dari tangan Neta.


Neta hanya menarik tipis senyumnya ketika kekasihnya itu sengaja melakukannya. Selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan.

__ADS_1


Mereka menikmati makan sambil melihat matahari yang terbenam. Warna langit begitu tampak indah sekali. Hal itu menjadi latar yang indah ketika sebuah foto diambil. Dathan benar-benar mengabadikan momen mereka bersama. Seolah menjadi bukti jika mereka begitu bahagia hari ini.


__ADS_2