
Mendapati pertanyaan itu Neta memikirkan mana yang harus dijawabnya. Dia tampak menimbang-nimbang mana yang dipilihnya, keluarga atau karier?
“Aku pilih karier.” Dengan tegas Neta menjawab.
Senyum Dathan seketika surut dari wajahnya. Dia benar-benar terkejut ketika Neta menjawab jika dia memilih karier dari pada keluarga. Lalu apakah kejadian yang dulu akan terulang? Ketika Ariel memilih kariernya, dia melepaskan semuanya. Dan kini, Neta memilih hal yang sama.
“Kamu benar-benar memilih karier?” tanya Dathan memastikan kembali.
“Iya.” Senyum Neta mengembang di wajahnya.
Dathan yang melihat senyum Neta tak bisa berkata apa-apa. Padahal tadi saat mendapati jawaban Neta tentang berapa waktu yang akan diberikan pada anaknya, dia menjawab seluruh waktunya. Jika begini di mana lekat dia akan memberikan seluruh waktunya? Pertanyaan itu menghiasi kepala Datahn.
Jawaban ini benar-benar membuat hati Dathan sakit. Ini baru namanya sakit sebelum cinta dimulai.
“Aku pilih karier sebagai ibu dan istri.” Neta kembali membuka mulutnya. Senyumnya masih menghiasi wajah Neta.
Dathan yang mendengar ucapan Neta seketika membulatkan matanya. Tidak percaya dengan yang baru saja didengarnya.
Neta menyadari tatapan Dathan yang terkejut semakin membuat Neta gemas melihatnya. “Apa seorang ibu dan istri bukan karier?” tanya Neta menggoda Dathan.
Dathan masih terdiam. Pikirannya melayang memikirkan bagaimana bisa Neta menjawab itu. Padahal tadinya dia sudah sangat kecewa sekali dengan jawaban Neta.
“Bukan ya?” tanya Neta menggeleng-gelengkan kepalanya, menanyakan kembali pada Dathan. Dia sedikit menekuk bibirnya ketika ternyata yang dipikirkannya salah. “Padahal aku pikir itu adalah karier impianku. Coba bayangkan, berapa ilmu yang aku gunakan untuk itu. Aku harus punya ilmu memasak agar anak dan suamiku tidak kelaparan, aku harus punya ilmu matematika agar bisa mengatur keuangan keluarga, aku harus punya ilmu bahasa agar anakku bisa belajar berbagai bahasa, aku juga harus punya ilmu agama agar anakku punya pedoman hidup, aku harus punya ilmu pengetahuan sosial agar anakku bisa bersosialisasi dengan sesama, aku harus punya ilmu pengetahuan alam agar anakku tahu bagaimana Tuhan menciptakan indahnya dunia ini.” Neta menjelaskan satu per satu pada Dathan sambil mengerakkan jarinya menghitung berapa keahlian yang harus dimiliki itu.
Dathan hanya bisa terperangah. Dia tidak bisa menjawab apa-apa pada Neta. Sungguh di luar nalarnya. Sungguh Dathan sedang dikerjai oleh Neta.
Dathan yang tidak terima dengan apa yang dilakukan Neta pun membalas. Dathan mendekatkan tubuhnya pada Neta. Meja yang ada di antara mereka tidak menghalanginya untuk berusaha mendekati Neta. “Satu lagi ilmu yang harus kamu miliki,” ucapnya.
Neta yang penasaran ikut membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan tubuhnya pada Dathan. “Ilmu apa?” tanyanya.
__ADS_1
Dathan bergerak mengarahkan bibirnya ke telinga Neta. “Kamu harus punya ilmu biologi, agar tahu bagaimana cara membuat anak,” bisiknya.
Pipi Neta merona. Anak perawan yang diajak bicara tentang bagaimana cara pembuatan anak tentu saja sangat malu. Jaman sekolah dia hanya belajar teori bagaimana sel telur bertemu dengan sel yang dimiliki pria. Tidak diajari caranya praktiknya terjadinya sel telur bertemu dengan sel yang dimiliki pria itu.
“Tapi, tenang, aku akan mengajarimu, jadi kamu tidak perlu belajar sekarang.” Dathan kembali berbisik.
Jantung Neta sudah tak terkendali. Sungguh pembahasan ini merembet ke mana-mana. Berlabel dua satu plus. Jika begini jadinya, Neta tidak tahu apa yang akan terjadi pada jantungnya. Bisa-bisa keluar dari kantor Dathan, dia perlu ke dokter jantung terkenal yang berada di Rumah sakit Maxton.
Dathan senang sekali mengerjai Neta. Pipi merona Neta membuat Dathan tak kuasa menahan tawa. Sungguh sangat mengemaskan sekali.
“Papa.” Tiba-tiba pintu dibuka tanpa permisi.
Dathan dan Neta yang berada dalam jarak yang dekat langsung menjauhkan tubuhnya. Reno yang berada di belakang Loveta, melihat Dathan dan Neta sedang menjauhkan tubuhnya, menatap dengan wajah terkejut. Pikirannya melayang memikirkan jika dua orang itu baru saja melakukan kissing.
Neta yang melihat Reno benar-benar malu sekali. Apalagi baru saja mereka berada di jarak yang begitu dekat sekali. Neta takut Reno berpikir yang tidak-tidak.
“Aunty Neta.” Loveta berlari ke arah Neta. Dia merentangkan tangannya. Dalam hitungan detik, gadis kecil itu langsung memeluk Neta.
Reno yang berada di belakang Loveta menatap Dathan. Tatapannya seolah mengandung pertanyaan ‘sedang apa kalian tadi?’.
Dathan yang ditatap pun tampak santai sekali. Dia memilih menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Cinta dari mana?” Neta menjauhkan tubuh Loveta untuk melihat wajah Loveta.
“Lolo tadi pergi makan bersama Aunty Rifa, terus main.” Dengan semangatnya Loveta bercerita.
“Kalian sedang wawancara?” Reno duduk sambil melemparkan pertanyaan itu pada Dathan dan Neta.
“Iya, kami masih wawancara.” Dathan yang menjawab pertanyaan temannya itu.
__ADS_1
Reno hanya mengangguk-angguk dengan senyumnya yang penuh arti. Dia tidak yakin temannya itu benar-benar wawancara. Pasti terselip modus mendekati Neta.
Dathan tampak santai ketika temannya itu tampak menduga-duga. Mereka bukan anak muda. Jadi tentu saja sudah terbaca apa yang dilakukannya.
Berbeda dengan Dathan, Neta tampak malu ketika Reno mengangguk-anggukan kepala dengan tersenyum. Seolah dia tidak percaya dengan yang dilakukan oleh Dathan dan dirinya.
“Cinta, papa sedang ada wawancara dengan Aunty Neta, Cinta ikut Uncle Reno dulu.” Dathan memberitahu putrinya dengan lembut.
Loveta menggeleng. “Lolo mau di sini.” Dia menolak permintaan sang papa.
Dathan mengembuskan napasnya. Anaknya adalah tipe yang keras kepala sepertinya. Jadi susah jika sudah punya keinginan. Apalagi keinginan untuk dekat dengan Neta.
“Memang wawancara itu apa?” Loveta yang penasaran pun melempar pertanyaan.
“Wawancara itu antara dua orang saling bertanya-jawab.” Neta menjelaskan dengan baik pada Loveta. “Cinta mau dengar bagaimana wawancara?” tanya Neta dengan menatap Loveta.
“Mau-mau.” Loveta langsung menjawab dengan semangat.
Dathan yang melihat Neta menawarkan pada Loveta hanya bisa menahan diri. Jika seperti ini jadinya tidak akan jadi satu : satu. Karena Neta akan memberikannya pertanyaan dan dirinya tidak bisa macam-macam karena ada anaknya.
“Tapi, Cinta harus diam dan tidak boleh bicara. Karena Aunty merekam percakapan. Jadi hanya boleh suara Aunty Neta dan Papa Dathan.” Neta memberi pengertian pada Loveta sambil menunjukan perekam suara miliknya.
Loveta mengangguk setuju. Dia memberikan isyarat untuk menutup mulutnya.
Neta hanya tersenyum ketika melihat hal itu. Dia sengaja mengajak Loveta di ruangan agar Reno tidak berpikir yang tidak-tidak dengan yang dilakukannya.
“Baiklah, kalian lanjutkan saja wawancaranya.” Reno berdiri. Dia tersenyum. Tidak mau mengganggu Neta dan Dathan. Lagi pula sudah ada Loveta, tentu saja mereka tidak akan macam-macam. “Selamat bersenang-senang.” Dia melambaikan tangan, sambil menggoda Dathan.
Dathan mendengus kesal. Wawancara kali ini pasti benar-benar wawancara karena ada anaknya di sebelahnya. Tidak bisa dia mengambil kesempatan.
__ADS_1
“Ayo kita lanjutkan wawancaranya.” Dathan menatap Neta. Pasrah ketika harus melanjutkan wawancaranya dengan kehadiran anaknya di ruangan.