
Neta bersiap ke kantor. Karena nanti Neta harus ke kantor Dathan, terpaksa dia memilih untuk pergi mengendarai motornya. Paling tidak ini adalah cara dirinya untuk bisa ke mana-mana lebih cepat.
Jalanan yang macet membuat Neta datang di detik-detik terakhir. Tentu saja hal itu membuat Neta langsung berlari dengan cepat agar absennya tidak terlambat.
“Ta, kamu dipanggil Buma tadi.” Neta yang baru datang sudah disambut ucapan Maria.
Maria yang tadi ditanya oleh sang manajer tentang keberadaan Neta pun mendapatkan pesan untuk memberitahu Neta. Jika Neta diminta menghadap.
Neta sudah menebak jika alasan sang manajer memanggilnya adalah karena sang manajer ingin menanyakan perihal Dathan yang kemarin datang ke makan malam. Manejernya itu tentu belum tahu jika pria yang kemarin datang adalah Dathan.
“Iya.” Neta meletakkan tasnya dan segera mengayunkan langkahnya ke ruangan manajernya. Sebelum masuk Neta mengetuk pintu terlebih dahulu. Hingga akhirnya, suara dari dalam yang terdengar membuatnya segera masuk.
Neta melihat Bu Rania duduk di kursinya sambil menatap laptopnya. Suasana di dalam ruangan terasa mencekam, walaupun di luar ruangan, matahari sudah menampakkan sinarnya. Neta melihat aura-aura kemarahan terlihat jelas sekali dari wajah Bu Rania, tetapi Neta tampak tenang. Apalagi dia memiliki alasan yang tepat.
“Siang, Bu Rania.” Neta dengan polosnya tersenyum manis.
Bu Rania mengalihkan pandangan pada Neta. Pandangannya begitu tajam menghujam. Hingga terasa bisa membelah apa saja yang ada di depannya.
Neta dengan tenang berjalan menuju meja kerja sang atas. Tak ada rasa takut sama sekali dirasakannya. Dia merasa akan aman.
“Duduk!” perintah Bu Rania.
Neta langsung mendudukkan tubuhnya. Tepat berada di depan Bu Rania.
“Walaupun kekasihmu memberikan hadiah itu padaku, tetap saja kamu harus mempertanggung jawabkan apa yang kamu sudah lakukan.” Bu Rania memulai pembicaraannya. “Sekarang jelaskan kenapa kekasihmu itu datang begitu saja di makan malam kala itu. Apa dia tidak bisa menunggu bertemu denganmu saat makan malam selesai?” Dia pun kembali menanyakan hal itu.
“Saya bisa jelaskan semua, Bu.” Neta yang melihat Bu Rania berhenti berbicara, langsung menyambung pembicaraan.
“Memang kamu harus menjelaskan semua.” Bu Rania pun menjawab hal itu.
__ADS_1
“Jadi sebenarnya pria itu bukan kekasih saya, Bu.” Neta mulai menjelaskan.
“Bagaimana bisa bukan kekasihmu? Jelas-jelas dia mengaku kekasihmu,” sambar Bu Rania kesal.
“Coba dengarkan saya dulu, Bu.” Neta mencoba menjelaskan kembali.
Bu Rania langsung bungkam. Dia mengembuskan napasnya. Berusaha untuk tetap tenang. Mendengarkan penjelasan dari Neta dulu.
“Jadi pria itu bukan kekasih saya. Dia adalah Dathan Fabrizio-pemilik IZIO, Bu.” Neta menjelaskan langsung hal itu lebih dulu. Agar tidak membuat atasannya murka.
Bu Rania membulatkan matanya. Dia merasa terkejut dengan penjelasan yang diberikan Neta untuknya. Jelas-jelas jika tadi dia mendengar jika pria kemarin ditemui adalah Dathan Fabrizio. Entah kenapa dia merasa itu tidak mungkin. “Jangan mengada-ada Neta. Lagi pula punya alasan apa Dathan Fabrizio melakukan hal itu.
Alasan cemburu, apalagi?
Neta hanya menjawabnya dalam hati. Pria empat puluh tahun itu memang merasa melakukan hal itu karena cemburu. Apalagi dia punya perasaan padanya. Namun, tidak mungkin dirinya mengatakan hal itu. Bisa gempar jika mengatakan hal itu. Apalagi mereka belum jadian sama sekali.
“Karena dia tahu jejak Pak David. Jadi dia tidak mau Pak David memanfaatkan celah mendekati saya. Karena itu dia berpura-pura menjadi kekasih saya.”
Ya, karena dia mencintai aku. Apalagi?
Neta masih bisa menjawab dalam hatinya. Namun, tidak berani benar-benar mengatakannya.
“Karena mungkin Pak Dathan kenalnya dengan saya. Jadi karena itu dia tidak mau saya terjebak dengan pengusaha dengan skandal seperti Pak David.” Neta menatap Bu Rania. Mencoba menjelaskan dengan terperinci.
Bu Rania sadar jika memang bisa jadi yang dikatakan Neta adalah benar adanya. Jika memang Dathan melakukan hal itu untuk Neta. Saat ingat Dathan, tentu saja dia ingat wawancara dengan Dathan.
“Bagaimana hasil wawancaramu?” Bu Ma langsung menanyakan hal itu.
Neta sadar, pada akhirnya memang pertanyaan itu akan diberikan padanya.
__ADS_1
“Saya baru mulai mendekati, Bu. Bu Rania tahu bukan Pak Dathan sulit. Ini saya sedang berusaha keras.” Neta meyakinkan Bu Rania.
Bu Rania yang mendapatkan penjelasan dari Neta memikirkan memang baru Neta yang bisa sejauh ini. Jika sampai terburu-buru dan salah langkah, bukankah ini akan membuat Dathan tidak mau diwawancara. Hal itu membuat Bu Rania merasa jika ini adalah kesempatan emas untuknya. Jadi tidak bisa dilepaskan begitu saja.
“Baiklah, kalau begitu. Lakukan yang terbaik. Aku mau wawancara eksklusif untuk majalah kita.” Bu Rania pun menekankan itu. Apa pun dia harus menjadi orang yang mendapatkan wawancara eksklusif itu.
“Tenang, Bu. Saya jamin wawancaranya akan berjalan aman.” Neta merasa jika memang Dathan sudah berada di dalam genggaman. Jadi dia yakin akan dapat wawancaranya.
“Baiklah, sana pergi.” Bu Rania langsung mengusir Neta.
Neta berusaha untuk bersabar. Namanya juga bawahan. Sudah biasa diperlakukan seperti itu. Jadi harus punya stok sabar yang banyak.
Neta segera keluar dari ruangan sang manajer. Kembali ke mejanya. Di mejanya dia sudah disambut oleh Maria. Temannya itu sudah begitu penasaran sekali apa yang dilakukan atasannya pada Neta.
“Bagaimana, Ta?” tanya Maria.
Pertanyaan itu menyambut Neta saat gadis itu baru mendudukkan tubuhnya. Neta dengan senyuman di wajahnya menjawab. “Apa yang tidak bisa diatasi oleh Marsha Kineta?” Dengan bangganya dia menjawab. “Aku sudah jelaskan jika itu Dathan Fabrizio dan aku sudah bilang jika aku akan mewawancarainya.” Puas sekali ketika bisa keluar dari ruangan manajernya dengan aman dan terkendali.
Maria melirik malas. Temannya itu sudah tentu bisa mengatasi semua. “Kamu curang, tentu saja bisa diatasi.” Maria mencibir Neta.
Neta langsung membulatkan matanya. “Di mana letak curangnya?” tanyanya tidak terima.
“Kamu menyelipkan cinta. Jadi dapat wawancaranya,” cibir Maria. Dia sebenarnya tidak benar-benar mengatakan itu. Dia hanya senang menggoda temannya saja.
“Salahkan saja dia yang terpesona denganku.” Neta mengipaskan rambutnya yang panjang hingga mengenai wajah Maria.
“Jika dia terpesona denganmu, lalu kamu?” Maria senang sekali menggoda temannya itu.
Neta terdiam. Bayangan Dathan kembali menghiasi kepalanya. Wajah tampan Dathan dengan rahang yang ditumbuhi jambang halus, begitu memesona. Tatapan matanya seketika meluluh lantahkan pertahanan Neta. Apalagi aroma tubuh Dathan. Menjadi candu baru untuk Neta.
__ADS_1
“Tapi aku pikir-pikir kamu suka sekali dengan pria yang lebih tua? Kenapa kamu suka dengan pria yang lebih tua?” tanya Maria. Mantan kekasih Neta yang sebelumnya adalah teman seangkatannya, dan tentu seumuran dengannya. Berjarak dua tahun dengannya.
Neta sendiri juga tidak tahu kenapa. Dia merasa tidak tertarik pria seumuran dirinya sejak kecil. “Maafkan aku ... jika hasratku keliru ....” Neta justru menyanyi. Menggoda temannya itu. Tawanya pecah ketika menggoda Maria. Maria hanya menatap malas saja.