
Dathan, Neta, dan Loveta menuju ke vila yang berada di puncak. Mereka akan menikmati waktu di sana bersama. Sebenarnya ini tidak bisa dibilang honeymoon atau babymoon, karena mereka pergi bertiga.
Mobil menuju ke puncak tepat jam sembilan. Dathan memang tidak berangkat pagi-pagi karena tak mau mengganggu waktu tidur sang istri. Apalagi dua hari kemarin mereka sibuk mengurus anak-anak panti asuhan.
Sesampainya di vila, Neta disuguhkan pemandangan gunung yang begitu indah. Segera Neta keluar dari mobil. Saat turun udara segar pegunungan menyambutnya juga. Neta menghirup dalam-dalam udara pegunungan. Udara yang masuk ke rongga paru-parunya, membuat kelegaan tersendiri. Inilah yang disukai dari pegunungan.
“Mami. Di sini sejuk sekali.” Loveta yang baru saja keluar dari mobil ikut-ikut menghirup udara yang sejuk.
Neta yang sedang asyik menikmati udara pun mengalihkan pandangan pada sang anak. Senyumnya menghiasi wajahnya. Ternyata tidak hanya dirinya yang menikmati udara pegunungan.
“Iya, sejuk sekali.” Neta tersenyum pada sang anak. “Ayo masuk.” Dia mengulurkan tangan pada anaknya. Mengajak sang anak untuk masuk ke vila.
Neta dan Loveta asyik masuk ke vila. Saat masuk mereka melihat terdapat kaca besar. Dari balik kaca terdapat pemandangan pegunungan yang begitu indah dari dalam rumah.
Dathan di belakang membawa koper milik mereka. Membiarkan sang anak dan istri yang sedang asyik menikmati pemandangan indah.
__ADS_1
Saat melihat sang suami masuk, Neta langsung mengalihkan pandangan. “Bagaimana jika kita barbeque di sini nanti malam?” Neta membayangkan pasti akan sangat seru sekali menikmati malam sambil makan.
“Boleh, aku akan minta pihak vila menyediakan.” Dathan tentu saja akan menuruti apa yang diinginkan sang istri. Jika sang istri senang. Tentu saja semua senang.
Neta dan Loveta masih sibuk menikmati pemandangan di depan mereka. Mereka mengabadikan momen itu dengan foto. Neta memotret sang anak. Begitu sebaliknya.
Di saat anak dan istrinya masih sibuk dengan memotret, Dathan merapikan semuanya. Dia juga menghubungi pihak vila untuk menyiapkan barbeque yang diminta sang istri.
“Papi sini.” Loveta memanggil Dathan yang masih sibuk merapikan semuanya.
Dathan mengangguk. Kemudian berlalu menghampiri sang anak. Ikut berfoto ria bersama. Mereka begitu senang sekali. Terbiasa melihat hiruk pikuk ibu kota, tentu saja membuat mereka senang melihat pemandangan hijau.
“Mama dan papa sedang honeymoon, kalau kita apa?” Loveta menatap Neta. Dia penasaran dengan sebutan yang tepat untuk mereka.
Neta menatap Dathan. Dia terkejut ketika mendengar anaknya tahu jika mama dan papa barunya sedang honeymoon.
__ADS_1
“Cinta tahu dari mana kata honeymoon?” Neta lebih dulu bertanya hal itu.
“Kemarin nenek tanya mama, kamu mau pergi honeymoon ke mana, mama bilang ke Bali. Karena mama bilang Lolo mau ke Bali, artinya mama honeymoon.” Loveta menjelaskan pada sang mami
Akhirnya Neta tahu dari mana istilah itu didengar anaknya. Anaknya menggabungkan dua cerita dan memahaminya.
“Memang honeymoon apa, Mami?” Sekalinya tahu istilah itu tetap saja dia tidak mengerti artinya.
Neta memilah jawaban yang tepat. “Jika dua orang yang baru menikah jalan-jalan disebut honeymoon.” Dia memilih untuk menjelaskan sesederhana mungkin.
Loveta mengangguk-anggukkan kepala. “Lalu kalau kita yang jalan-jalan disebut apa?” Loveta justru penasaran dengan istilah pas untuk mereka bertiga yang jalan-jalan.
“Kalau kita familymoon.” Dathan langsung menggelitik sang anak. Dia gemas sang anak tak hentinya bertanya. Alhasil dia membuat istilah sendiri.
Loveta yang gelo tertawa terbahak. Dia menggeliat saat sang papa menggeletiknya. Tak mau kalah, dia berusaha membalas menggeletik. Walaupun tidak terasa oleh Dathan.
__ADS_1
“Mami, balas.” Loveta meminta bantuan sang mami. Tak mau kalah sendiri.
Neta yang diminta sang anak pun segera melakukannya. Menggelitik suaminya. Tawa mereka terdengar riang sekali. Mengisi keheningan vila yang baru mereka tempati.