
Neta menatap dirinya di kaca yang berada di kamar mandi. Dia melihat jika bikini berwarna hitam miliknya terlalu seksi untuk dipakai. Rasanya, dia salah jika memakai pakaian ini jika ada anak kecil.
“Sebaiknya aku lapisi saja dengan celana pendek. Tidak baik jika Cinta melihat.” Neta mengintip ke arah luar. Dia memastikan dulu apakah Dathan dan Loveta ada atau tidak.
Saat melihat tidak ada Loveta dan Dathan, akhirnya dia keluar. Dia segera menuju ke tas miliknya untuk mengambil celana pendek. Paling tidak dia bisa menutupi tubuhnya.
Saat sedang asyik mencari celana pendeknya, Dathan masuk untuk memanggil Neta. Namun, tepat di depan pintu dia melihat Neta yang sedang sibuk membelakanginya. Untuk sejenak Dathan terdiam melihat pemandangan di depannya. Neta yang memakai bikin membuat tubuhnya terlihat begitu seksi. Apalagi saat dilihat dari belakang begitu indah sekali bentuknya. Bulat dan padat sekali. Dathan pria normal, melihat keindahan tubuh Neta tentu saja dia tergoda.
Astaga sepertinya aku ingin menariknya ke KUA sekarang juga kalau begini caranya.
Dathan tak kuasa melihat tubuh Neta yang putih hanya dengan balutan bikini. Sebagai pria, dia hasratnya seketika muncul melihat pemandangan indah di depannya.
“Papa.” Keindahan itu seketika sirna ketika Loveta datang.
Neta yang mendengar suara Loveta langsung berbalik. Dia menutupi bagian bawah dengan celana yang diambilnya. Tak mau memperlihatkan bagian bawah tubuhnya yang seksi.
Dathan menoleh ke arah Loveta yang menghampirinya. Dia tampak tenang ketika sang anak datang.
Neta melihat Dathan yang berdiri di belakangnya lebih dulu. Hal itu tentu saja membuatnya merasa bingung. Pikirannya melayang memikirkan apakah Dathan tadi melihat dirinya yang berbalut bikini atau tidak?
“Papa sedang panggil Aunty Neta, Cinta.” Dathan menatap anaknya. Memberitahu sang anak.
“Aunty, cepat, Lolo mau berenang.” Loveta merengek pada Neta.
“Iya, Cinta, sebentar ya, Aunty ganti baju dulu.” Neta memberitahu Loveta.
“Kenapa harus ganti?” Rasanya Dathan tak mau kehilangan pemandangan indah tadi. Dia baru melihat dari belakang, belum dari depan. Jadi tentu saja dia ingin sekali melihat dari depan.
Neta menerawang dalam bola mata Dathan yang memandanginya. Dia yakin sekali tadi Dathan melihatnya. Rasanya malu sekali ketika Dathan melihat dirinya yang memakai bikini. “Karena agar aku lebih leluasa saja bergerak.” Neta mengatakan apa adanya. Memang benar adanya saat memakai bikin, pasti dia tidak akan nyaman. Takut membuat Dathan tergoda dengannya.
Dathan tidak bisa memaksa. Lagi pula juga lebih baik Neta menutupi tubuh bagian bawahnya dari pada tiba-tiba hasratnya menggebu.
“Cepat kalau begitu, aku menunggu.” Dathan mengulurkan tangan pada Loveta mengajak anaknya itu keluar.
__ADS_1
Neta berjalan ke kamar mandi. Karena tidak mau Dathan melihat tubuhnya dari belakang, dia berjalan miring seperti kepiting. Tangannya yang membawa celana pendek, berusaha untuk menutupinya.
Dathan yang melihat hal itu hanya tersenyum. Tadi dia sudah puas melihat. Jadi tentu saja percuma, Neta berusaha menghalangi pandangannya. Tak mau membuat Neta tidak nyaman, Dathan segera keluar.
Neta segera masuk ke kamar mandi. Memakai celana pendek yang diambilnya. Dia sedikit merutuki kenapa dia membawa bikini. Harusnya dia ingat jika ada Loveta juga di vila. Neta yang memakai celana pendek melihat dirinya dari pantulan cermin. Dia merasa penampilannya jauh lebih sopan. Jadi bisa menjadi contoh baik untuk Loveta.
Saat di kolam renang Neta melihat pelampung bebek milik. Tadi memang Dathan dan Loveta sedang memompa pelampung tersebut ketika dirinya sedang sibuk mengganti baju.
“Aunty, sini.” Loveta mengajak Neta untuk bermain di kolam.
Neta segera bergabung. Memasukkan tubuhnya ke dalam air. Bersama Loveta dia sibuk bermain air. Dia memang yakin jika dia tidak akan benar-benar berenang, karena pasti hanya bermain air dengan Loveta. Karena kolam renang cukup dalam, Loveta menggunakan pelampung. Agar tubuhnya tetap mengapung.
“Papa, ayo.” Loveta memanggil Dathan yang sedang duduk di gazebo.
“Iya, Papa ke sana.” Dathan berdiri. Kemudian melepaskan kaos yang melekat di tubuhnya. Membuat tubuhnya bagian atas terbuka.
Neta yang melihat Dathan membuka kaosnya hanya bisa terperangah. Ini untuk pertama kali melihat Dathan tanpa pakaian bagian atas. Hal itu jelas-jelas memperlihatkan tubuh Dathan dengan perut kotak-kotaknya.
Astaga, sepertinya aku harus ke dokter jantung.
Neta merasa jantungnya benar-benar tidak baik-baik saja ketika melihat pemandangan di depannya itu.
Dathan masuk ke kolam renang. Bergabung dengan Neta dan Loveta. Neta masih melihat ke arah Dathan, sampai tubuh pria itu menghilang di dalam air, karena dia berenang ke arahnya.
Dathan yang menyelam tiba-tiba muncul di depannya. Membuat Neta terkejut. Wajah Dathan yang basah terlihat begitu memesona. Air yang menetes di wajahnya terlihat begitu indah sekali.
Dathan berdiri tepat di depan Neta. “Sepertinya kamu terpesona.” Dia menggoda Neta.
Neta hanya terperangah lihat aksi sang kekasih. Dia menekuk bibirnya kesal karena Dathan senang sekali menggodanya.
Dathan segera menghampiri Loveta. Mendorong anaknya yang memakai pelampung itu, ke arah pinggir kolam di mana pantai terlihat.
“Apa kamu mau di sana terus?” tanya Dathan menoleh ke belakang.
__ADS_1
Neta berenang menuju ke arah Dathan. Dia berhenti tepat di pinggir kolam renang. Ikut bergabung dengan Dathan dan Loveta. Dia berdiri tepat di samping Loveta. Memandangi pantai
“Papa, Lolo mau main pasir.” Loveta mengatakan pada sang papa keinginannya.
“Boleh, nanti kita ke sana.” Dathan tersenyum.
“Apa kita akan bermain ke pantai?” Neta begitu antusias. Tak kalah dengan Loveta.
“Tentu saja, kita akan main ke pantai nanti setelah sarapan.” Dathan memberitahu.
Mereka bertiga bermain air bersama. Dathan merekam Neta dan Loveta yang asyik bermain air. Ini akan jadi kenang-kenangan indah untuk Loveta kelak. Loveta begitu bahagia sekali bisa bermain air dengan Neta. Begitu pun dengan Neta. Semua itu tertangkap jelas di wajah mereka yang dihiasi oleh senyuman.
“Sekarang Papa dan Aunty lomba renang, Lolo yang akan jadi juri.” Loveta yang menepi dan duduk di pinggir kolam memberitahu dua orang dewasa di depannya.
Neta dan Dathan saling menatap.
“Siapa takut.” Neta tersenyum. “Aku pastikan kamu akan kalah.” Dia menatang Dathan.
“Aku pastikan kamu yang akan kalah.” Dathan seolah tidak mau kalah.
“Baiklah, sekarang Papa dan Aunty di sana.” Loveta menunjuk ujung kolam renang.
Dathan dan Neta pun segera beralih ke sana. Mereka akan berlomba dari ujung kolam yang ditunjuk oleh Loveta. Mereka berdua bersiap menunggu aba-aba dari Loveta. Keduanya pun saling memamerkan jika mereka akan menang.
“Satu … dua … tiga.” Loveta menghitung mundur permainan.
Dathan dan Neta berenang untuk mencapai ujung kolam. Dathan sengaja membiarkan Neta menang. Karena tak mau membuat kekasihnya itu kecewa. Tepat di ujung kolam, Neta sampai lebih dulu. Dia keluar dari dalam air dengan semangat.
“Ye … aku menangi.” Senyum Neta menghiasi wajahnya.
Dathan yang keluar dari dalam kolam renang hanya tersenyum. Dia senang sekali melihat kekasihnya begitu girang sekali.
“Mau hadiah apa?” tanya Dathan pada Neta.
__ADS_1