
Di waktu yang bersamaan Dathan dan Neta pulang. Mereka berdua harus menaiki pesawat amfibi untuk keluar dari pulau indah ini. Seminggu penuh mereka menikmati waktu bersama. Walaupun masih terasa kurang, tetapi mereka harus kembali. Dalam perjalanan mereka melihat lautan yang biru dari ketinggian. Tampak begitu indah sekali.
Sampai di bandara, mereka langsung meluncur ke Dubai untuk transit. Namun, rencananya mereka akan menginap lebih dulu. Mengingat mereka juga harus menunggu lama. Rencananya, mereka akan naik pesawat besok pagi. Jadi mereka punya waktu semalam untuk beristirahat.
Sayangnya, Dathan justru mengajak sang istri untuk berbelanja. Membeli beberapa barang untuk oleh-oleh anak dan juga teman-teman mereka. Dathan mengajak Neta untuk ke salah satu mal. Jadi mereka bisa mencari oleh-oleh.
“Apa aku boleh beli oleh-oleh untuk teman-temanku?” Neta yang sedang melingkarkan tangannya di lengan sang suami, menatapnya penuh harap.
“Tentu saja boleh. Belikan untuk mereka.” Dathan tidak akan menolak jika sang istri mau membeli sesuatu
“Iya, baiklah. Aku akan memilih.” Neta bersemangat ketika diberikan kesempatan untuk membeli oleh-oleh.
Di sebuah mal Dathan dan Neta segera mencari toko. Mereka mencari pernak-pernik untuk menjadi oleh-oleh untuk teman-teman mereka. Neta juga membeli beberapa make up untuk diberikan pada teman-temannya. Untuk Loveta, Neta membeli baju dan dress-dress lucu. Tentu saja itu akan menjadi oleh-oleh yang lucu untuk anaknya.
Puas berbelanja, mereka melanjutkan dengan makan malam dulu. Jadi nanti mereka tinggal ke hotel untuk beristirahat. Besok mereka kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan mereka akan sangat panjang besok.
Saat masuk ke hotel, Neta benar-benar tercengang. Pemandangan dari kamar hotel begitu indah. Kemewahan kota Dubai di malah hari tampak begitu jelas indah. Kerlap-kerlip lampu tampak menghiasi gelapnya malam. Neta pernah dengar Dubai begitu indah, dan kini dia melihat dengan nyata.
Dathan yang membawa barang belanjaan pun segera meletakkannya di atas meja. Kemudian menyusul sang istri yang tampak terkagum-kagum di sana.
“Indah.” Dathan memuji.
__ADS_1
“Iya, indah.” Neta mengangguk setuju. Namun, sesaat kemudian dia berbalik. Melihat sang suami yang melihat ke arahnya. Kata ‘indah’ yang keluar dari mulut Dathan sepertinya tertuju padanya, bukan pada pemandangan di depan mereka.
“Apa yang indah?” Neta menyeringai. Menggoda sang suami yang sedang menatapnya.
“Jelas saja kamu.” Dathan tersenyum. Dia mendaratkan kecupan di pipi sang istri.
Neta tersenyum. Suaminya memang selalu bisa merayunya. Dan selalu saja membuat dirinya jatuh cinta.
Dathan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Memeluk sang istri sambil melihat pemandangan kota yang begitu indah sekali.
...****************...
Akhirnya perjalanan mereka selesai juga setelah menempuh perjalanan panjang. Di dalam perjalanan Neta menggunakan waktu untuk tidur. Tubuhnya begitu lelah. Apalagi semalam sang suami mengatakan jika sayang jika tidak menikmati suasana hotel yang indah. Kata-kata itu berakhir pada malam panjang yang melelahkan, tetapi memberikan kenikmatan.
“Lihatlah wajah kalian. Wajah kalian lelah sekali.” Reno menggoda Neta dan Dathan.
“Sepertinya kalian memang menggunakan waktu sebaik mungkin untuk bulan madu.” Reno senang sekali menggoda temannya itu. Apalagi ketika melihat Neta dari pantulan kaca di atas dashboard. Terlihat lucu sekali.
“Jangan menggoda Neta.” Dathan memberikan peringatan pada Reno.
Reno hanya tersenyum saja. Padahal menggoda Neta begitu lucu. Mantan anak perawan kalau digoda terlihat menggemaskan.
__ADS_1
“Apa kantor baik-baik saja?” Dathan melempar pertanyaan itu pada Reno. Mengalihkan Reno yang sedari tadi menggoda Neta.
“Kantor baik-baik saja. Jika ada kerugian. Paling aku yang melakukan korupsi.” Reno tertawa.
Dathan melirik Reno malas. Dia tahu jika temannya tidak akan melakukan hal itu. Dia sudah mengenal Reno luar-dalam. Jadi dia percaya dengan Reno.
“Kamu menjenguk Cinta juga tidak?” Dathan mengingatkan temannya itu. Sebelum pergi, dia berpesan untuk menjengguk anaknya. Memastikan anaknya baik-baik saja.
“Sudah, kemarin aku menjengguknya. Dan apa kamu tahu ....” Reno menoleh ke arah Dathan. Mengantung ucapannya.
“Apa?” sambar Dathan yang ingin tahu.
“Aku melihat teman Neta yang menjadi saksi Neta di sana. Siapa namanya? Aku lupa.” Reno menatap Neta dari pantulan cermin. Menanyakan siapa nama pria yang ditemuinya kemarin.
“Kak Adriel?” Neta memastikan siapa orang yang dimaksud oleh Reno.
“Iya-iya itu.” Reno membenarkan nama orang yang disebut Neta. “Kemarin dia datang ke rumah Arriel, bersama dengan anak kecil yang selalu diikuti Lolo.” Dia tertawa ketika Loveta begitu tergila-gila pada Liam.
“Liam.” Neta menyebut nama anak yang dimaksud Reno.
“Iya itulah.” Reno sendiri tidak tahu siapa namanya. “Saat aku datang, dia pulang. Saat aku tanya Arriel, mereka datang karena Lolo minta Liam datang ke apartemen.” Reno menceritakan sekilas apa yang ditanyakan pada Arriel. “Anakmu benar-benar centil sekali. Sudah berani mengundang pria.” Reno tertawa terbahak. Loveta memang benar-benar membuatnya geleng kepala.
__ADS_1
Dathan hanya ikut menggeleng kepala. Sepertinya dia harus ektra hati-hati jika Loveta besar. Yang ada nanti anaknya akan lepas kendali.