Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Saling Pandang


__ADS_3

Neta melihat cincin yang berada di dalam kotak. Rasanya masih tidak percaya ketika Dathan memberikannya cincin untuk lambang kesungguhannya. Rasanya Neta tak habis terpesona dengan Dathan yang begitu luar biasa. Neta sudah sejak lama terpesona dengan Dathan. Bagaimana Dathan menceritakan dirinya membuatnya sudah yakin pada pria itu jika dia memang pantas menjadi pendampingnya.


Neta tidak peduli dengan status Dathan. Lagi pula, siapa dirinya saja Dathan tidka pernah mempermasalahkan. Mungkin saja pria itu bisa mendapatkan wanita lebih baik dibanding dirinya. Wanita yang jelas asal usul keluarganya. Bukan seperti dirinya yang orang tuanya saja tidak tahu keberadaannya.


“Iya.” Tidak ada yang perlu Neta ragukan lagi. Apa yang dicari Neta ada pada Dathan. Pria dewasa yang menenangkan. Pria dewasa yang begitu mengayomi. Serta pria dewasa yang begitu punya pikiran luas. Neta siap bersanding dengan pria di depannya itu.


Dathan tersenyum ketika akhirnya Neta menerimanya. Dathan memang tidak mau berlama-lama dan basa-basi. Jadi tentu saja hal itu membuatnya langsung melamar Neta. Semua ini sudah disiapkannya sejak rencananya mengajak Neta.


Dathan berdiri. Kemudian menyematkan cincin di jari manis Neta. Dathan benar -benar tidak menyangka jika ternyata cincin pas di jari Neta. Hal itu tentu saja adalah keberuntungan untuk Dathan. Karena ternyata dia pas sekali memilih ukuran cincin.


Neta melihat cincin yang bertabur diamond. Di gelapnya malam, cincin tampak begitu berkilau sekali. Neta benar-benar senang melihat cincin tersebut. Apalagi cincin pas di jarinya.


“Apa kamu mengukur jariku?” Neta tersenyum. Merasa jika Dathan hebat karena bisa memilih ukuran cincin.


“Tentu saja aku tahu. Jika cinta, pastinya tahu semua ukurannya.” Dathan menyeringai. Menatap Dada Neta. Menggoda kekasihnya itu.


Neta langsung melihat ke arah dadanya. Entah kenapa otaknya traveling ke sana ketika Dathan melihat ke arah situ. Dia memikirkan apakah Dathan tahu juga ukuran dadanya.


Seketika Dathan tertawa. “Aku belum memegangnya. Jadi aku tidak tahu ukuran itu.” Dia menjelaskan pada Neta.


Neta menatap tajam pada Dathan. Mereka belum sah. Jadi dia tidak akan mengizinkan itu terjadi.


“Aku tidak akan melakukannya tanpa izin.” Dathan tersenyum. Dathan menatap Neta lekat. Pandangannya tertuju pada bibir Neta yang berwarna pink alami. Tampak begitu menggoda sekali.


Neta jelas melihat Dathan sedang memandanginya. Jantungnya tiba-tiba berdebar-debar. Neta sering melihat film-film romantis. Saat pasangan saling memandang, perlahan mereka akan segera melakukan ciuman. Dia pun berpikir mungkin ini akan terjadi sama seperti yang berada di film-film yang dilihatnya.

__ADS_1


Tangan Dathan membelai lembut pipi Neta. Tangannya berangsur menuju ke bibir Neta. Dathan menatap Neta lekat seolah meminta izin pada pemilik bibir. Apakah dirinya boleh menciumnya. Anggukan tipis dari Neta memberikan isyarat jika Neta mengizinkan.


Saat Neta mengizinkan, perlahan Dathan mengangsur tubuhnya. Tangannya yang berada di pinggang Neta, menarik lembut tubuh Neta. Membuatnya agar lebih dekat dengannya.


Dathan mendaratkan bibirnya tepat di bibir Neta. Perlahan dia mengerakan lembut bibirnya, ******* bibir Neta. Rasa manis terasa begitu nikmat ketika setiap sesapan dirasakan. Apalagi secara impulsif Neta membuka mulutnya. Mengizinkan Dathan mengakses setiap sisi bibir Neta.


Merasakan gerakan bibir Dathan, Neta membalas perlahan gerakan itu. Ini bukan ciuman pertama Neta, tapi ini ciuman pertamanya yang saling membalas.


Tangan Neta melingkar di leher Dathan. Membuat ciuman semakin dalam. Mereka berdua larut dalam pertukaran saliva ini yang menciptakan suara kecapan di kesunyian malam.


Dathan seolah tak mau melepaskan kenikmatan ini begitu saja. Sudah lama dia tidak merasakan senikmat ini berciuman. Tentu saja membuat begitu menggebu mengakses bibir Neta.


Saat napas mulia terengah, Dathan melepaskan tautan bibirnya. Perlahan dia menjauhkan wajahnya dari wajah Neta. Saat wajah mereka saling berhadapan, mereka saling pandang.


Neta menjadi salah tingkah, hal itu membuat Dathan begitu gemas sekali. Rasanya dia ingin melihat wajah Neta yang malu-malu itu setiap saat.


“Sudah ayo.” Dathan menarik tangan Neta. Mengajaknya ke gazebo yang tadi didudukinya. Dia ingin mencairkan suasana setelah ciuman panas mereka. Dathan mengajak Neta untuk duduk di sana. Sambil menikmati semilir angin laut.


“Kapan kamu menyiapkan semua ini?” Neta berusaha untuk mengalihkan pikirannya dari ciuman yang baru saja mereka lakukan.


“Setelah aku memberitahumu untuk ikut ke sini.” Dathan memberitahu Neta.


Padahal waktu itu adalah dua hari lalu. Dalam dua hari dia bisa membuat semua ini. Namun, Neta sadar siapa Dathan. Jadi tentu saja hal itu membuat Dathan bisa mewujudkan apa yang diinginkannya dengan cepat.


“Apa kamu tidak takut ada Loveta?” Neta merasa takut jika Loveta akan bangun dan melihat dirinya dan Dathan berdua. Apalagi sampai ciuman seperti tadi.

__ADS_1


“Cinta selalu tidur pulas jika malam. Jadi dia tidak akan bangun sampai pagi.” Dathan sudah hafal anaknya. Jadi dia sudah tahu waktu yang pas.


Neta mengangguk mengerti. Setiap anak pasti berbeda-beda. Dulu waktu kecil juga dirinya adalah tipe yang tidur pulas. Tentu saja hal itu membuatnya tidak pernah terbangun pada tengah malam.


Saat mengingat Loveta, Neta teringat dengan tentang bagaimana anak itu nanti menerimanya.


“Nanti jika Cinta tidak bisa menerima aku sebagai ibunya bagaimana?” Pertanyaan itu meluncur dari mulutnya.


Dathan menempelkan jari telunjuk langsung di bibir Neta. Memberikan isyarat agar Neta tidak berpikir jika itu bisa terjadi.


“Kita akan membujuk Cinta. Memberikannya pengertian. Yang terpenting dia nyaman dulu denganmu.” Dathan memberitahu Neta.


“Kamu tidak apa-apa ‘kan?” tanya Dathan.


Neta tahu jika memang ini adalah kendala bersama Dathan. Jadi dia harus paham.


“Baiklah, aku akan menunggu. Kita juga harus pelan-pelan juga. Agar Loveta tidak tertekan. Pasti psikologinya tidak akan bagus jika tertekan.” Neta sudah sering mengurus anak-anak panti. Jadi dia tahu bagaimana mendekati dan memberikan pengertian.


“Aku semakin jatuh cinta padamu saat kamu bisa memahami Cinta. Menerima aku dengan Cinta.” Dathan membelai lembut pipi Neta. Merasa benar-benar beruntung mendapatkan Neta. “Terima kasih.” Satu kalimat yang tulis dari dalam hatinya.


“Aku yang harusnya berterima kasih. Kamu tidak memandang aku yang hanya gadis dari panti asuhan. Yang tidak punya orang tua dan keluarga—“


Belum selesai Neta melanjutkan ucapannya, Dathan menghentikan ucapan Neta dengan menggelengkan kepalanya. “Sekarang kamu punya aku, jangan bilang tidak punya keluarga.” Ibu jari Dathan membelai lembut pipi Neta.


Neta mengangguk. Dia memandang wajah Dathan lekat. Sungguh dia merasa beruntung mendapatkan Dathan. Jika sudah begini, rasa cinta Neta pastinya semakin tubuh subur.

__ADS_1


__ADS_2