
Tepat jam sebelas Nessia bangun. Dia merasa haus. Reno langsung menghangatkan susu yang sudah disiapkan oleh Neta. Rifa yang bangun segera mengecek popok milik Nessia, tetapi popoknya masih belum basah. Jadi artinya bayi kecil itu haus.
Saat susu siap, Rifa memberikan pada Nessia. Membelai lembut wajah bayi kecil itu.
“Kamu tidak mau punya anak lagi?” Reno menatap istrinya yang sedang memegangi botol susu.
“Aku sudah terlalu nyaman dengan Richa yang besar. Tidak siap punya anak lagi. Sudah biarkan Richa saja. Aku mau menikmati membesarkan Richa. Tidak siap repot dengan anak bayi.” Terkadang beberapa orang tua memang sudah terlalu lama jeda antara anak membuat mereka justru akhirnya malas. Membayangkan punya anak bayi jelas membuat mereka sudah sadar akan selalah apa.
“Iya, aku juga malas repot. Apalagi hanya sekadar mau bercinta aku kesulitan dan meminta temanku menjaga anakku.” Reno justru berkaca pada Dathan. Rasanya dia tidak sanggup juga seperti Dathan. Lebih enak seperti sekarang anaknya sudah besar, jadi dia lebih leluasa bercinta dengan istrinya. Tidak harus takut anak-anak bangun malam saat hendak bercinta.
Rifa menelaah ucapan Reno. “Dathan dan Neta pergi untuk bercinta?” Pertanyaan itu langsung terlontar ketika mengambil kesimpulan atas ucapan suaminya.
Reno tersenyum sambil memamerkan giginya. Dia merutuki kesalahannya yang membuat ketahuan istrinya.
“Kalian sudah merencanakan semua?” tanya Rifa memastikan.
“Iya.” Reno tersenyum.
“Kenapa tidak memberitahu aku? Jika tahu begini, lebih baik kita biarkan mereka sejak sore. Jadi saat malam mereka bisa pulang.
Jika sudah malam, jelas mereka akan pulang besok pagi.” Rifa menyesal tahu belakangan. Jika dia tahu, mungkin bisa memberikan ide pada dua pria itu.
“Dathan yang menyiapkan ide. Aku hanya eksekusi.” Reno sendiri juga tidak tahu.
__ADS_1
“Dasar. Kamu lebih ahli. Harusnya berikan saran. Dathan tidak pernah merasakan harus kucing-kucingan dengan anak hanya untuk bercinta. Jadi harusnya kamu berbagi pengalaman.” Rifa memprotes temannya itu.
“Dia tidak bertanya, kenapa aku harus repot.” Reno dengan entengnya menjawab.
Rifa hanya menggeleng heran. Bisa-bisanya suaminya diam saja saat temannya salah. Tepat saat itu, Nessia sudah habis satu botol. Kemudian bayi kecil itu tertidur.
Rifa kembali merebahkan tubuhnyaa, tetapi Danish sudah bangun. Dia langsung meraih tubuh Danish agar tidak membangunkan adiknya. Mengendongnya menjauh dari sang adik. Reno yang melihat Danish bangun segera menghangatkan susu.
Beberapa saat kemudian Rifa memberikan susu yang selesai dihangatkan.
“Sepertinya aku sudah tidak sanggup punya anak.” Rifa membayangkan repotnya sekarang mengurus anak Dathan dan Neta. Jadi dia berpikir tidak untuk menambah anak.
“Tidak masalah asal pembuatan anaknya tidak berhenti.” Reno menyeringai.
...****************...
Tubuh Neta cukup lelah, hingga membuatnya begitu terlelap. Sampai Dathan harus membangunkan istrinya.
“Sayang.” Dathan membelai lembut rambut sang istri.
Neta langsung bangun. Matanya menatap ke sisi tempat tidur di kanan dan kiri. Wajahnya begitu panik. Dathan tidak menyangka, sentuhan yang dilakukannya sampai membuat sang istri begitu paniknya. Padahal dia sudah berusaha selembut mungkin.
“Anak-anak mana?” Neta panik mencari anak-anak. Dia bangun dari posisi tidurnya dengan mata yang membola mencari keberadaan anaknya.
__ADS_1
“Sayang, kita di hotel. Anak-anak di vila.” Dathan merasa bersalah sekali membuat sang istri panik seperti itu.
Neta sesaat terdiam. Mencerna ucapan sang suami. Saat kesadarannya kembali, akhirnya dia menyadari jika sedang berada di hotel bersama suaminya. Dengan polosnya Neta menarik selimut. Saat terduduk, selimut merosot. Memperlihatkan dirinya. Sungguh membuat Neta malu. Karena memperlihatkan tubuhnya pada suaminya dalam keadaan seperti tadi.
Dathan langsung memeluk sang istri. Dia benar-benar merasa bersalah sekali karena sudah membuat istrinya panik.
“Apa aku begitu mengagetkan kamu?”
Dathan membelai lembut rambut sang istri.
Neta tersenyum. “Aku saja yang mungkin memikirkan anak-anak. Sampai terbawa ke alam bawah sadar.” Neta merasa memang khawatir dengan anaknya. Karena baru kali ini meninggalkan anaknya, dan dalam posisi malam hari.
“Kamu memang ibu yang baik. Dalam keadaan apa pun, masih begitu memikirkan anak kita.” Dathan mengeratkan pelukannya. Merasa beruntung mendapatkan istri seperti Neta.
“Jam berapa sekarang?” Dalam pelukan sang suami, dia pun bertanya.
“Ini jam empat pagi.” Dathan memberitahu istrinya.
Neta sontak melepaskan pelukannya. “Anak-anak biasanya bangun jam lima. Sebaiknya kita cepat kembali.” Neta khawatir jika anaknya bangun.
“Baiklah, kita segera pulang. Kamu mandi dulu.” Dathan setuju. Dia harus segera pulang. Semalaman bersama istrinya, sudah cukup baginya. Jadi tentu saja sekarang mereka harus pulang.
Neta mengangguk. Kemudian bersiap untuk membersihkan tubuhnya. Dia harus segera pulang sebelum anaknya bagun.
__ADS_1