
Nessia dan Danish sudah berusia sebulan dua minggu. Dua bayi itu tampak begitu menggemaskan sekali. Keduanya juga sudah mulai mengoceh. Loveta begitu asyik sekali melihat kedua adiknya. Apalagi jika mereka sedang berceloteh.
“Mami, adik kapan jalan. Lolo mau ajak lari-lari.”
Neta hanya bisa tersenyum saja. Nessia dan Danish masih berusia satu bulan dua minggu, tapi sudah mau diajak lari-lari. Jelas itu membuat Neta merasa lucu.
“Adik masih lama bisa jalan bisa usia delapan bulan atau satu tahun.” Neta mencoba menjelaskan.
“Adik umur berapa? Lalu berapa lama lagi?” Loveta begitu penasaran sekali.
Neta menghitung berapa lama anak mereka akan bisa jalan. “Adik umur sebulan dua minggu. Artinya kurang lebih masih tujuh sampai sebelas bulan lagi.”
“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas.” Loveta menghitung berapa bulan dia harus menunggu adiknya. “Lama sekali.” Dia kecewa karena terlalu lama.
“Sabar.” Neta membelai lembut rambut lurus anaknya. Menenangkan gadis kecil yang sudah menjadi kakak itu.
Dathan yang melihat aksi anaknya hanya tersenyum saja. Anaknya selalu membuat suasana setelah ada adiknya berwarna.
“Sudah ayo, sekarang kakak ke kamar. Kakak harus tidur. Sudah malam.” Dathan memberikan komentar pada anaknya.
Sejak dua minggu yang lalu, Dathan meminta anaknya untuk tidur di kamar sendiri. Dathan tidak kau terus-terusan membiarkan anaknya untuk tidak mandiri. Lagi pula nanti dia akan membiarkan dua anaknya tidur sendiri.
“Tapi, Lolo belum baca dongeng.” Loveta menatap sang papi penuh harap. Setiap malam, dia selalu membaca dongeng untuk adiknya. Jadi kali ini, dia juga ingin membaca dongeng untuk adiknya.
__ADS_1
Dathan tak bisa menolak. Tentu saja dia membiarkan anaknya untuk membacakan dongeng untuk adiknya. Di kamar masih ada buku dongeng milik Loveta, jadi Dathan membiarkan anaknya mendongengkan untuk adiknya.
Loveta membacakan dongeng untuk adiknya. Padahal adiknya bangun tidur. Jadi jelas dua bayi kecil itu tidak akan tidur meskipun dibacakan dongeng.
Sayangnya, tetap saja Dathan tidak terpengaruh. Saat adik-adiknya tidak tidur setelah dibacakan dongeng, dia tetap meminta Loveta untuk ke kamarnya.
Di kamar, gantian Loveta yang mendengarkan dongeng dari sang papi. Tak butuh waktu lama, Loveta tidur pulas.
Saat anaknya tidur, Dathan segera kembali ke kamarnya. Menyusul istri dan anaknya. Saat masuk, dua bayi kecil itu belum tidur sama sekali. Justru sedang asyik bermain dengan maminya.
“Wah ... mereka belum tidur?” Dathan menghampiri anaknya dan sang istri.
“Belum. Mereka masih asyik bermain.” Neta tersenyum.
Dathan mengajak dua anaknya bermain. Tangan keduanya beradu. Sehingga membuat Dathan menjauhkan tubuh keduanya.
“Mereka sepertinya mau adu kekuatan.” Dathan tertawa.
Dathan dan Neta menemani kedua anaknya. Mengajak bicara, meskipun mereka tidak mengerti.
Cukup lama Dathan dan Neta bermain, sampai akhirnya Nessia menangis. Bayi kecil itu sudah lelah dan mengantuk.
Melihat anaknya menangis, Neta langsung menyusui anaknya. Hingga akhirnya Nessia tertidur. Dia segera bergantian dengan
__ADS_1
Danish. Menyusui anaknya itu. Tak butuh waktu lama, Danish segera tertidur.
Dathan melihat dua anak yang tidur membuat Dathan mengalihkan pandangan pada Neta.
“Bagaimana jika nanti kita jalan-jalan ke puncak?” Dathan begitu bersemangat.
Neta menerawang ke dalam bola mata suaminya. Ada keinginan tersembunyi yang dilakukan oleh Dathan. Apalagi jika bukan untuk mengambil kesempatan. Kebetulan kemarin Neta baru saja ke dokter. Dia menggunakan pencegah kehamilan agar tidak punya anak lagi. Jadi tentu saja suaminya sudah tidak sabar menjamahnya.
“Apa ada niat terselubung?” tanya Neta.
Seketika Dathan tersenyum. Dia tidak bisa membohongi istrinya. “Sayang, aku rindu denganmu.” Dathan meraih tangan sang istri.
“Aku tidak yakin akan bisa melakukannya saat ada anak-anak.” Neta memberitahu.
“Aku akan atur nanti.” Dathan mengerlingkan mata.
Neta begitu penasaran. Apa yang akan
dilakukan suaminya hanya untuk melepaskan rindu. Rasanya membuatnya penasaran sekali.
“Apa kamu tidak mau memberitahu aku?” tanya Neta.
“Kejutan.” Dathan mengedipkan mata.
__ADS_1
Neta menyimpan rasa penasarannya. Dia akan menunggu suaminya memberikan kejutan itu.