Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Sangsi


__ADS_3

Ketukan pintu terdengar. Neta, Adriel, dan Gala mengalihkan pandangan mereka. Tampak sekretaris Gala membuka pintu, dan mempersilakan seseorang masuk ke dalam.


Kafa yang sengaja datang setelah diberitahu oleh Gala pun masuk ke ruang rapat. Di sana dia melihat satu wanita dan satu pria. Mereka siapa, jelas Kafa tahu. Satu wanita adalah wartawan yang sedang masuk majalah. Satu laki-laki adalah manajer dari Syailen Bisnis.


“Apa aku terlambat datang?” Pria tampan itu tersenyum ketika masuk ke ruang rapat.


Neta hanya bisa terperangah. Pria di depannya begitu tampan dan memiliki tubuh proporsional. Apalagi saat tersenyum.


Senyuman itu terlihat indah sekali. Neta jelas tidak bisa berkata-kata. Pantas saja sebelumnya CEO Syailendra Grup menjadi model. Karena memang pantas menjadi model.


“Belum.” Gala menjawab pertanyaan atasan sekaligus temannya itu.


Kafa segera masuk. Menghampiri orang-orang di depannya. Dia mengulurkan tangan pada Adriel. “Kafa.” Dia memperkenalkan diri.


“Adriel.” Adriel yang pertama kali menjabat tangan Kafa.


Kafa beralih pada Neta. “Pasti ini Marsya Kineta.” Dia menebak nama wanita di depannya. Senyumnya menghiasi wajah tampannya.

__ADS_1


“Iya, Pak. Saya Neta.” Neta benar-benar terkejut ketika Kafa begitu ramah padanya. Berbeda dengan Gala yang tampak seram. Hingga membuatnya panik tadi.


“Ayo duduk.” Kafa pun mempersilakan semua untuk kembali ke tempat awal. Kemudian dia ikut duduk. Meja rapat yang berbentuk persegi membuat Kafa duduk di ujung meja. Berada di sebelah Adriel dan Gala.


“Jadi bagaimana duduk perkaranya. Aku penasaran.” Kafa langsung bertanya. Dia begitu penasaran sekali.


Pembawaan Kafa yang santai, membuat Neta jauh lebih tenang. Dia yang tadinya takut seketika jauh lebih berani. Neta pun menatap Adriel terlebih dahulu untuk menjelaskan semua pada Kafa. Adriel pun memberikan kode pada Neta. Mengizinkan Neta untuk menjelaskan.


“Waktu itu saya mendapatkan tugas untuk mewawancarai Dathan Fabrizio. Karena Pak Dathan begitu sulit untuk diwawancara, akhirnya saya melakukan banyak cara. Saya mulai mendekati anak Pak Dathan, agar mendapatkan kesempatan wawancara. Singkat cerita akhirnya saya dapat wawancara. Selama wawancara kami dekat, dan barulah setelah wawancara berakhir, kami menjalin hubungan. Sampai akhirnya artikel tentang Pak Dathan muncul, kami merahasiakan hubungan. Barulah setelah artikel muncul, kami memutuskan untuk menikah. Kejadian itu memang terbilang singkat. Jadi jika dibilang tidak profesional dalam bekerja, mungkin karena terkesan jarak antara wawancara dan hubungan kami terlalu dekat.” Neta menjelaskan panjang lebar pada Kafa. “Tapi, saya benar-benar melakukan pekerjaan saya dengan benar. Saya menghormati narasumber dan membuatnya nyaman.” Dia kembali berusaha meyakinkan Kafa.


Neta terdiam. Dia merasa bingung dalam situasi ini. Karena seolah tak berani menjelaskan lagi. Apalagi Kafa tampak serius.


“Dibilang masalah ini besar-tidak juga. Dibilang kecil juga-tidak juga. Jadi masalah ini ada di tengah-tengah. Mungkin orang akan berpikir, ini hanya persaingan bisnis saja, tapi dampaknya akan cukup banyak, mengingat yang melakukan adalah oknum wartawan yang bekerja di Syailen Bisnis sendiri.” Kafa tampak begitu serius sekali.


Neta semakin takut ketika mendengar ucapan Kafa. Memang benar, ini akan berdampak pada wartawan lain. “Maafkan saya, Pak.”


“Kamu pastikan akan mendapatkan sangsi yang sesuai dengan kesalahanmu. Dan setelah ini, semua karyawan majalah di bawah naungan Syailendra grup tidak akan boleh menjalin hubungan dengan narasumber. Jika itu terjadi, mereka akan diberikan sangsi hingga terjadinya pemutusan hubungan kerja.” Kafa menjelaskan dengan baik apa yang kelak akan terjadi.

__ADS_1


Neta sudah menduga jika ulahnya akan memperketat perusahaan untuk lebih berhati-hati. Tentu saja itu akan berdampak pada teman-temannya. Neta merasa tidak enak sekali dengan teman-temannya.


“Saya siap dengan sangsi yang Pak Kafa berikan.” Neta sadar dengan kesalahannya. Jadi apa pun itu, dia harus bertanggung jawab.


“Bagus kalau begitu.” Kafa merasa Neta sudah tahu apa konsekuensi yang didapat dari pernbuatannya. Jadi tentu tidak perlu dirinya susah-susah menjelaskan.


Saat sedang memikirkan hal itu suara ketukan pintu terdengar. Neta, Adriel, Kafa, dan Gala menoleh ke arah pintu. Tampak sekretaris mempersilakan seseorang masuk.


Alangkah terkejutnya Neta ketika melihat jika Dathan yang datang. Tadi memang Neta sudah mengirim pesan pada Dathan jika dia sedang pergi ke kantor Syailendra Grup. Hanya saja tidak menyangka jika Dathan akan datang ke kantor Syailendra.


“Silakan datang Pak Dathan.” Kafa menyambut Dathan dengan senyumannya. Dia berdiri untuk mengulurkan tangan pada Dathan.


Dathan menghampiri Kafa. Menerima uluran tangan Kafa. “Terima kasih, Fa.” Dia tersenyum.


Neta hanya bisa dibuat tercengang ketika melihat Kafa tampak mengenali Dathan. Tentu saja itu membuatnya bingung. Dari mana suaminya berkenalan. Belum lagi


Dathan hanya memanggil nama pada Kafa. Seolah mereka sudah kenal sebelum ini. Neta jelas ingat jika suaminya sudah bilang jika nama Kafa asing di telinganya. Artinya suaminya tidak kenal dengan Kafa. Lalu apa yang dilihatnya sekarang? Sungguh Neta bingung.

__ADS_1


__ADS_2