Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Sakit Gigi


__ADS_3

Neta segera menuju ke restoran yang diberitahukan Dathan lewat pesan singkat. Dia tidak mau sampai Dathan dan Loveta menunggu terlalu lama.


Sayangnya saat sampai, ternyata Dathan dan Loveta sudah sampai. Dia benar-benar merasa tidak enak sekali.


“Maaf saya terlambat, Pak.” Neta merasa tidak enak sekali.


“Kami juga baru datang. Jadi tidak apa-apa.” Dathan tersenyum.


Neta lega saat tahu Dathan dan Loveta baru datang. Jadi paling tidak, dia tidak merasa terlalu bersalah. Neta beralih pada Loveta yang asyik menunggunya sambil memainkan menu makanan.


“Halo, Cinta.” Neta menyapa Loveta sambil duduk di samping gadis kecil itu.


“Kita makan dulu sebelum mencari kado.” Dathan menatap pada Neta.


“Iya, Pak.” Neta setuju saja. Lagi pula dia juga lapar sekali.


Mereka memesan makanan. Sambil menunggu Neta asyik menemani Loveta yang bermain di area permainan yang berada di restoran. Dathan yang melihat kedekatan anaknya itu merasa senang. Biasanya anaknya tidak semudah itu dekat dengan orang lain. Jadi wajar dia merasa senang.


Neta menemani Loveta bermain. Dia memang suka dengan anak-anak. Jadi saat bermain dengan Loveta pun dia merasa tidak ada beban sama sekali.


Beban yang sedang dipikirkan Neta sekarang adalah bagaimana caranya dia bisa mengatakan pada Dathan perihal wawancara. Dia harus segera mengatakan hal itu pada Neta. Karena jelas-jelas ini menyangkut hidupnya.


Saat makanan datang, Neta segera mengajak Loveta untuk makan. Neta tampak asyik makan bersama dengan Loveta. Dia membantu Loveta yang kesulitan untuk memotong makanan.


“Apa kado yang cocok untuk anak laki-laki?” Dathan menatap Loveta. Dia merasa penasaran.


Mendengar pertanyaan Dathan, Neta segera mengalihkan pandangan pada Dathan. “Pak Dathan tahu ukuran bajunya?” Neta memastikan lebih. Sayangnya mendapatkan jawaban kepala dari Dathan yang menggeleng. “Ukuran sepatu?” Neta kembali menanyakan itu. Sayangnya, dia kembali mendapatkan Dathan kembali menggeleng.


“Kalau Pak Dathan tidak tahu ukurannya. Sebaiknya kita beli mainan saja.” Neta merasa itu alternatif yang pas.

__ADS_1


Dathan memikirkan jika jawaban Neta ada benarnya. Jadi kado yang aman karena tidak akan ada drama tidak muat.


“Kalau begitu setelah ini kita ke toko mainan.” Dathan yang setuju pun mengatakan hal itu.


“Lolo juga mau mainan.” Loveta dengan semangat menjawab.


“Belilah, Sayang.” Dathan tersenyum.


Neta melihat jiwa kebapakan dari Dathan yang begitu besar. Dia begitu sangat menyayangi anaknya. Entah kenapa Neta begitu penasaran dengan mama dari Loveta. Namun, Neta tahu etika. Dia tidak bisa masuk ke ranah pribadi secara asal. Tidak bisa dirinya menanyakan hal pribadi tanpa orang itu sendiri yang berniat memberitahu. Sekali pun dia adalah seorang wartawan, dia harus tahu etika.


Usai makan, mereka segera pergi ke toko mainan. Ketika di toko mainan, Neta mengajak Loveta memilih mainan. Neta tahu, membelikan mainan untuk teman adalah sebuah keasyikan. Jadi Neta harus mengajak Loveta.


“Loveta sudah buat surat untuk Leo “ Loveta yang sedang asyik mencari mainan, menceritakan pada Neta.


“Jadi kalau begitu ini tidak bisa dibungkus di sini. Harus dibungkus sendiri. Agar surat Cinta bisa dimasukkan.” Neta tersenyum.


Mereka memilih mainan. Dari mulai robot, sampai mobilan. Akhirnya mereka memilih mobilan remot. Ukuran mobil juga cukup besar. Pastinya Leo akan sangat senang ketika mendapatkan hadiah itu.


“Biarkan aku yang membawanya.” Dathan segera mengambil alih mainan yang dibawa Neta.


Neta pun memberikannya. Neta dan Loveta pun mencari mainan. Loveta ingin membeli boneka lagi. Boneka yang bisa dirias tentunya. Karena dia suka sekali merias wajah boneka dengan make up.


“Lolo mau yang berambut hitam, tidak mau yang coklat.” Saat mencari mainan, dia pun mengungkapkan keinginannya.


“Baiklah, kita akan memilih yang berambut hitam seperti Cinta.” Neta mencubit pipi Loveta.


“Seperti Aunty Neta juga.” Neta tersenyum.


Melihat Neta yang memegangi pipi anaknya, tanpa sadar Dathan memegangi pipinya. Dia merasa ingin juga dipegang pipinya. Seperti yang Neta lakukan. Rasanya membayangkan tangan halus Neta, membuat Dathan merasa senang.

__ADS_1


Neta yang sudah selesai menemani Loveta memilih mainan, segera menemui Dathan. Neta yang melihat Dathan memegangi pipinya. Hal itu membuat Neta merasa bingung.


“Pak Dathan baik-baik saja?” tanya Neta yang melihat Dathan memegangi pipinya.


“Ach ....” Dathan bingung ketika harus menjawab apa. Hal itu membuatnya malu ketahuan membayangkan yang tidak-tidak.


“Gigiku sedikit sakit.” Dia memilih berbohong.


“Pak Dathan sakit gigi? Apa perlu kita ke Rumah sakit?” Neta sedikit khawatir. Karena takut sekali karena Dathan sakit.


“Tidak-tidak. Aku akan meminum obat saja.” Dathan memilih untuk menolak.


Neta pun mengangguk saja.


“Apa kalian sudah selesai?” tanya Dathan yang melihat Neta dan anaknya.


“Sudah, Pak.” Neta mengangguk


“Baiklah, kita bayar dulu.” Dathan segera mengajak Neta dan anaknya ke kasir. Dia membayar mainan yang dibeli oleh Neta dan anaknya.


“Apa mau dibungkus sekalian, Pak.” Kasir menanyakan akan hal itu.


“Pak, Cinta bilang dia akan memberikan surat yang dibuatnya. Jadi sepertinya harus dibungkus sendiri.” Neta memberitahu Dathan.


“Apa kamu bisa membungkus kado?” Dathan justru bertanya pada Neta.


“Bisa, Pak.”


Mendapati jawaban dari Neta, seketika ide muncul di pikiran Dathan. “Apa kamu bisa ikut kami pulang untuk membungkus kado?” Kesempatan ini tidak akan Dathan lepas begitu saja.

__ADS_1


Neta yang mendapati tawaran tentu saja merasa dia punya waktu lebih hari ini. Jadi tentu saja dia tidak akan melepaskan kesempatan ini. “Tentu, Pak. Saya sudah tidak ada pekerjaan, jadi bisa ikut Pak Dathan.” Neta merasa jika dia akan memanfaatkan waktu di rumah Dathan. Mencari celah untuk berbicara dengan Dathan.


__ADS_2