
“Itu anak sulungku.” Bryan memberitahu Neta ketika putranya datang.
Neta melihat jika dia pernah melihat pria itu, tetapi entah di mana. Wajahnya tampak tidak asing. Akhirnya dia menemukan jika itu adalah pemilik Adion Green House. Wajahnya familiar karena sering masuk ke majalah.
“Siapa?” tanya El pada sang daddy ketika melihat ada gadis cantik di kamar sang daddy.
“Wartawan dari Syailend Bisni.” Bryan menjelaskan pada putranya.
El mengangguk-anggukkan kepalanya. Mengerti siapa gerangan wanita yang bersama dengan sang daddy. Karena sudah saling menatap, El pun memilih menghampiri. “Hai, aku Elvaro.” Dia mengulurkan tangannya dengan ramah.
“Neta.” Neta menjelaskan siapa gerangan dirinya.
“Ada apa ke sini?” Bryan menatap sang anak. Dia tahu jika sang anak harusnya datang sore hari. Jadi tidak mungkin anaknya datang tanpa alasan.
“Mama minta ini.” El memberikan paper bag pada sang daddy. Mamanya meminta kue pada Freya, tetapi El baru bisa mengantarkan sekarang.
Daddy Bryan langsung menerima. “Kenapa tidak Bian saja yang antar?”
“Bian masih tidur. Semalam dia pergi ‘kan.”
__ADS_1
Bryan mengingat jika anak bungsunya semalam pergi, setahunya baru tadi pagi dia pulang. Anaknya itu sejak pulang justru pergi-pergi terus. Bryan tidak bisa memaksakan kehendaknya. Jadi alhasil dia memilih membiarkan.
Saat mereka sedang mengobrol Shea keluar dari kamar. Dia langsung menyapa sang anak. Ternyata kue itu sengaja dipesan Shea untuk disuguhkan pada Neta. Dia ingin menunjukan toko kue Cia itu.
Setelah mengantarkan kue, El pun memilih untuk berpamitan. Shea langsung menyajikan kue dan meminta Bryan dan Neta melanjutkan kembali wawancaranya.
“Anak-anak sepertinya juga tertarik ke dunia bisnis ya, Pak Bryan.” Neta yang kembali wawancara kembali bertanya.
“Tidak semua. Anak gadisku menjadi seorang dokter. Jauh dari bisnis.” Bryan menjelaskan.
Neta menganggukkan kepalanya. Dia pikir semua anak Bryan adalah pengusaha. Neta melanjutkan kembali beberapa pertanyaannya. Semua daftar yang diberikan oleh Adriel ditanyakannya semua. Tak lupa, Neta memotret Bryan dan juga istrinya. Ini akan menjadi pelengkap wawancara yang akan dibuatnya nanti.
Neta tentu saja merasa senang. Diterima dengan baik oleh narasumber adalah keberuntungan. Dia menjadi sangat nyaman ketika mewawancara. Mereka mengobrol sambil menikmati makan siang. Hal itu membuat Neta merasa jika dua orang yang bersamanya begitu baik sekali.
Dari wawancara hari ini menurut Neta, Bryan Adion adalah pengusaha yang mengagumkan. Dia mengutamakan keluarganya dan menjadikan keluarga sebagai alasannya bersemangat dalam bisnis.
“Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk wawancara.” Neta tersenyum ketika akhirnya wawancara singkatnya dengan Bryan Adion selesai. Dia memang lebih memilih untuk meliput suasana pesta mengingat jika nanti akan masuk ke dalam berita minggu ini. Bukan menjadi topik berita utama.
“Sama-sama. Jangan lupa untuk datang ke pesta.” Bryan tersenyum.
__ADS_1
“Nikmati juga nanti pestanya, jangan hanya bekerja.” Shea yang dipanggil Bryan ketika Neta mau pulang pun ikut melepaskan Neta untuk pergi.
“Tentu saja.” Neta mengulurkan tangannya pada sepasang suami istri di depannya.
Neta segera berlalu pergi. Dia menuju ke kamarnya. Waktu menunjukan jam dua. Artinya dia masih punya cukup waktu untuk menikmati istirahatnya. Acara akan diadakan jam tujuh malam. Jadi dia punya waktu sekitar lima jam untuk istirahat.
Neta kembali ke kamarnya. Sebelum masuk, dia harus mengetuk pintu terlebih dahulu mengingat Dathan yang berada di dalam. Beruntung Dathan segera membuka pintu. Hal itu membuat Neta bisa segera masuk.
“Bagaimana wawancaranya?” Dathan menatap sang kekasih yang baru saja meletakkan tasnya dia atas meja.
“Wawancara berjalan dengan baik. Pak Bryan dan istri menerima aku dengan baik sampai mereka mengajakku untuk makan siang.” Neta tersenyum. Namun, senyumnya itu surut ketika teringat dengan makan siang. “Apa kamu sudah makan?” Dia panik ketika mengingat jika dia meninggalkan Dathan tadi.
Dathan tersenyum. Bagaimana paniknya Neta membuat Dathan senang. “Aku sudah makan, tadi aku sempat ke restoran untuk makan siang.” Saat tadi mengambil jasnya, Dathan memilih untuk ke restoran sekalian, mengingat sudah masuk jam makan siang.
Neta bernapas lega, akhirnya Dathan sudah makan. Jadi tidak takut kekasihnya kelaparan. Walaupun Dathan sudah dewasa dan bisa mengurus diri sendiri, tetap saja dia khawatir.
“Masih lima jam. Sepertinya aku bisa istirahat.” Neta merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia mungkin bisa memanfaatkan waktu yang ada.
Dathan yang melihat Neta merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ikut merebahkan tubuhnya juga di atas tempat tidur.
__ADS_1
Neta langsung memiringkan tubuhnya, begitu juga Dathan. Hal itu membuat mereka saling beradu pandang. Senyum manis menghiasi wajah mereka saat saling pandang.