
Neta sudah dipindah ke ruang perawatan, sedangkan anaknya masih di ruang bayi. Karena masih harus dalam pengawasan. Dathan senantiasa menemani Neta. Tak melepaskan sedikit pun genggaman tangannya.
“Terima kasih.” Satu kecupan mendarat di punggung tangan Neta. Dathan begitu bahagia akhirnya anaknya bisa lahir. Perjuangan sang istri benar-benar mengajarkannya jauh lebih bersyukur atas perjuangan seorang wanita.
Neta tersenyum. Sejak tadi suaminya tak berhenti berterima kasih. Membuatnya merasa lucu.
“Aku rasa para pria harus lebih banyak menghargai wanita.” Dathan merasa perjuangan wanita begitu berarti. Mereka menyerahkan nyawa mereka untuk melahirkan anak. Itu adalah sebuah perjuangan yang luar biasa.
“Jika semua pria berpikir seperti itu, aku rasa tidak akan banyak pria selingkuh.” Neta tersenyum. Beruntung baginya mendapatkan pria seperti Dathan. Dia tahu betul jika wanita memang patut dihargai.
Dathan dan Neta saling tersenyum. Rona bahagia terpancar jelas di wajah keduanya. Mereka benar-benar merasa bahagia sekali. Kebahagiaan mereka semakin lengkap dengan hadirnya anak-anak mereka.
Beberapa saat kemudian, perawat datang. Neta untuk ke ruang bayi. Anak-anak mereka harus menyusu. Dathan segera memindahkan istrinya ke kursi roda. Kemudian mendorong kursi roda menuju ke ruangan bayi.
Di ruang bayi banyak bayi-bayi yang berada di sana. Hari ini tak hanya anak mereka yang lahir. Ada bayi-bayi lain juga.
Neta dan Dathan masuk. Dilihatnya bok bayi bertuliskan “Putra Ny. Marsya Kineta dan Tn. Dathan Fabrizio”. Hal itu dikarenakan mereka belum memberikan nama untuk kedua anak mereka.
Neta memberikan ASI untuk anak laki-lakinya lebih dulu. Karena sedari tadi bayi kecil itu menangis. Suara tangisnya benar-benar mengisi ruang bayi. Neta pun tak kuasa untuk segera menyusuinya.
__ADS_1
Bayi laki-laki itu begitu kehausan. Saat menyesap puncak sumber ASI, dia begitu kencang sekali. Membuat Neta dan Dathan tertawa.
“Apa kamu baru saja lari maraton?” tanya Dathan pada putranya itu. Merasa begitu lucu melihat bibir mungil itu menyesal ASI.
“Sepertinya dia lelah karena menangis.” Neta tersenyum.
“Lihat dia rakus sekali.” Dathan mendekatkan wajahnya pada sang anak yang sedang sibuk menyusu. “Seperti aku.” Dia mengalihkan pandangan pada Neta. Untuk kalimat ini, dia memelankan suaranya.
Neta membulatkan matanya. Seketika dia melihat ke sekeliling. Bersyukur perawat sedang sibuk di tempat yang agak jauh. Jadi tidak mendengar ucapan Dathan.
“Kamu.” Neta tidak habis pikir suaminya bisa mengatakan hal itu di tempat umum.
Neta tersenyum. Beruntung suara suaminya lirih. Jadi hanya dia yang dengar.
Setelah anak laki-lakinya kenyang, Neta bergantian dengan anak perempuannya. Di saat Neta memangku anak perempuannya, Dathan menggendong anak laki-lakinya. Mereka berdua menggendong anak mereka masing-masing.
Neta membelai anaknya yang berada di pangkuannya. Berbeda dengan kakaknya. Kali ini anak perempuannya lebih lembut. Dia tampak menikmati setiap sesapan ASI yang dilakukan. Tak terburu-buru seperti kakaknya.
“Dia seperti kamu yang lemah lembut.” Dathan mengomentari anaknya.
__ADS_1
“Apa aku lemah lembut?” tanya Neta menatap suaminya.
“Tidak untuk di beberapa waktu.” Dathan menyeringai. Menggoda istrinya memang membuatnya begitu senang sekali.
Neta hanya tersenyum tipis. Dia tahu kapan dirinya akan bersikap tidak lembut.
“Maaf, apa sudah ada nama untuk bayi ini?” Perawat menatap Neta dan Dathan. Mereka akan mengganti tulisan di dengan nama anak Dathan dan Neta di bok bayi sekaligus di gelang tangan bayi-bayi tersebut.
Dathan dan Neta saling pandang. Mereka sudah memikirkan nama untuk anak mereka.
“Danish Morgan Fabrizio.” Dathan menyebut nama anak laki-lakinya.
Neta tersenyum ketika mendengar nama itu. Nama itu memang dipersiapkan olehnya dan Dathan. Danish berarti pintar, sedangkan Morgan adalah samudra. Untuk Fabrizio sendiri adalah pejuang. Berharap anaknya akan memiliki kepintaran seluas samudra dan selalu bejuang. Untuk Fabrizio sendiri adalah pejuang.
Perawat mencatat nama tersebut. “Untuk yang perempuan?” tanya perawat.
“Danessia Tasanee Fabrizio.” Neta menyebut nama anak kembarnya yang perempuan. Danesssia artinya kupu-kupu dqn Tasanee artinya cantik. Filosofi kupu-kupu yang berasal dari ulat menjadi kepompong, dan menjadi kupu-kupu yang cantik mengaspirasi Dathan dan Neta. Mereka berharap kelak ketika anaknya berjuang dan bekerja keras, sama seperti kupu-kupu. Melalui proses panjang hingga mencapai keindahan yang sempurna.
Dathan tersenyum mendengar nama yang disebut oleh istrinya. Berharap setiap doa yang terselip menjadi nyata. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk si kembar. Begitu juga Dathan dan Neta.
__ADS_1