
Usai makan mereka memutuskan untuk bersantai sambil menonton film di rumah. Menikmati waktu liburan bersama.
Mereka memutuskan untuk menonton film horor. Neta yang takut sesekali bersembunyi di belakang tubuh Dathan. Walaupun takut, dia begitu penasaran juga dengan jalan ceritanya. Karena itu sesekali dia mengintip.
Dari film horor mereka beralih ke film romance. Sayangnya, Neta yang menonton film romance justru mengantuk. Kepalanya bersandar di bahu Dathan.
Dathan yang melihat hal itu pun membiarkan sang kekasih tidur. Tangannya justru membelai lembut. Senyumnya menghiasi wajahnya ketika melihat Neta yang begitu pulas. Dia sengaja tidak mengubah posisinya karena tidak mau sampai Neta bangun.
“Aku ketiduran.” Sekitar tiga puluh menit Neta tidur, akhirnya dia bangun juga.
“Iya, dan lihat pasti bahuku basah.” Dathan menggoda Neta yang baru saja membuka matanya.
Neta segera menegakkan tubuhnya. Dia mengecek apakah benar tubuh Dathan basah. Ternyata Dathan hanya membohonginya saja. Neta pun memukul bahu Dathan lembut. Kesal karena dibohongi Dathan.
Dathan hanya tertawa. Dia merasa lucu dengan sang kekasih yang marah padanya.
“Sekarang giliran aku yang tidur.” Dathan memilih untuk merebahkan tubuhnya. Meletakkan kepalanya di pangkuan Neta.
Neta terkejut ketika Dathan meletakkan kepalanya di pangkuannya. Namun, perlahan dia mulai beradaptasi. Tangannya membelai lembut rambut Dathan. Senyum Neta tertarik di sudut bibirnya ketika melihat Dathan.
Dathan dari bawah menatap Neta. Wajah cantik sang kekasih itu membuatnya tidak mau berpaling.
“Aku tidak sabar untuk menikah denganmu.” Tangan Dathan membelai lembut wajah sang kekasih.
“Aku juga tidak sabar.” Neta tersenyum.
“Jika kita menikah kamu mau berapa anak?” Dathan begitu bersemangat sekali membahas masa depan mereka.
__ADS_1
“Em ... sudah ada Cinta. Jadi aku rasa kita tambah dua saja.” Neta merasa tiga anak sudah cukup.
“Baiklah, aku setuju. Kita buat dua anak lagi.” Dathan tersenyum. “Satu perempuan dan satu laki-laki.” Dia memberikan ide.
“Semoga bisa, tapi jika perempuan semua atau laki-laki semua, tidak masalah. Yang terpenting mereka sehat.” Neta tersenyum.
“Rasanya aku tidak sabar menikah denganmu.” Dathan gemas sekali. Hingga menangkup pipi Neta.
Neta hanya tersenyum melihat Dathan yang gemas.
“Setelah nanti Cinta pulang, aku dan Arriel akan menjelaskan hubungan kami. Aku harap Cinta mengerti. Baru setelah itu aku akan jelaskan jika kita akan menikah.” Dathan sudah dengan rencananya. Berharap semua akan berjalan dengan baik.
“Tetap lakukan dengan pelan. Aku tidak mau dia terluka.” Neta membelai wajah Dathan.
Dathan mengangguk. Dia merasa memang harus perlahan memberitahu Loveta. Karena dia mau Loveta menerima Neta.
...****************...
Arriel sampai di apartemennya. Anaknya yang tidur membuat dia harus mengendong sang anak dari tempat parkir ke unit apartemennya.
Arriel cukup kewalahan. Dia tidak menyangka jika ternyata menjaga anak akan seberat ini.
“Akhirnya kamu merasakan juga.” Mauren tertawa melihat temannya.
“Selama ini, sekali pun dia tinggal di sini. Aku selalu mengajaknya bermain di taman hiburan, makan, dan juga stay di apartemen. Baru kali ini jalan-jalan, dan ternyata ini melelahkan sekali.” Arriel tidak menyangka jika seberat ini menjaga anaknya. Biasanya dia malas pergi ke luar kota atau luar negeri bersama anaknya. Merasa pasti akan sangat repot, dan memang kenyataannya repot sekali.
Arriel menjatuhkan tubuhnya di sofa. “Aku tidak bisa bayangkan Dathan mengerjakan semua ini sendiri.” Dia merasa Dathan benar-benar luar biasa sekali. Dia tahu persis Dathan sering mengajak anaknya pergi. Tahu persis jika Dathan membawa anaknya ke kantor. Menjaganya sambil bekerja.
__ADS_1
“Dathan pria yang luar biasa. Hanya kamu saja yang terlalu mengejar kesuksesanmu.” Mauren nenatap sang teman.
“Kamu tahu bisnis ini impian aku. Dia saja yang tidak paham. Jika dia mau menunda punya anak dan aku bisa fokus bekerja dulu, tentu saja aku tidak akan meminta mengakhiri semuanya.”
“Jadi kamu menyesali Lolo hadir?”
“Bukan seperti itu. Aku belum siap waktu itu, tapi Dathan tidak mengerti.” Arriel masih dengan keyakinannya. Jika dulu Dathan memahaminya, mungkin mereka masih bersama.
“Kalian sama keras kepalanya dulu. Jadi mana bisa mengerti.” Mauren mengomentari temannya itu.
Arriel merasa memang benar yang dikatakan Mauren. Dulu dia sama keras kepalanya dengan Dathan. Karena itu perpisahanlah yang mereka harus hadapi. Namun, tidak dipungkiri oleh Arriel jika memang selama ini Dathan adalah cinta pertamanya. Yang tidak mudah dilupakan sampai detik ini.
“Jangan bilang kamu ingin mengajak Dathan kembali.” Melihat temannya diam, Mauren menggoda.
“Sembarangan. Dathan sudah punya kekasih. Mana bisa aku mengajaknya kembali.” Arriel mengelak tuduhan yang diberikan temannya.
“Artinya jika Dathan tidak punya kekasih, apa kamu akan kembali?” Mauren melihat ke dalam bola mata Arriel. Menerawang lebih dalam apa yang dikatakan Arriel.
Arriel menatap Mauren. Dia sendiri merasa ada secerca rasa yang masih tertinggal di hatinya untuk Dathan. Jika mungkin Dathan belum punya Neta, dia bisa mengajak pria itu untuk bersamanya kembali.
“Sudah sana pulang. Aku mau istirahat .” Arriel mencoba menghindari pembicaraan itu. Dia memilih menyuruh temannya itu untuk pulang. Dia mendorong temannya itu untuk segera pulang.
Mauren tidak punya pilihan. Dia pun segera keluar dari apartemen.
Saat Mauren sudah pulang dan Arriel menutup pintu, Arriel mulai memikirkan Dathan.
“Dia sudah punya kekasih. Aku tidak boleh memikirkannya.” Arriel menyingkirkan pikirannya itu.
__ADS_1