
Dathan, Neta, dan Loveta sampai di Bandara. Reno sudah siap menunggu mereka. Siap mengantarkan mereka pulang. Reno mengantarkan Neta terlebih dahulu. Mengingat rumahnya lebih dekat dengan rumah Dathan.
Sampai di kos Neta, Dathan segera turun. Mengambilkan tas milik Neta yang ditaruh di bagasi. Ada beberapa oleh-oleh yang dibawa gadis itu juga.
“Cinta, tunggu di sini dengan Uncle dulu, Papa bantu Aunty Neta bawa barang-barang.” Dathan memberitahu anaknya.
“Akal bulus saja.” Reno yang mendengar ucapan Dathan bergumam lirih. Dia tahu temannya itu hanya beralasan saja. Paling juga mau berpamitan sambil bermesraan dulu.
“Siap, Papa.” Loveta tersenyum manis.
“Da … Cinta.” Neta melambaikan tangan pada Loveta.
“Da … Aunty.” Loveta melambaikan tangan pada Neta.
Dathan membawa tas milik Neta. Mereka masuk ke kos-kos milik Neta. Dathan memerhatikan dengan saksama. Kos terdiri dari kos pria dan wanita. Hal ini membuatnya sedikit tidak suka dengan kondisi ini.
“Kamu sudah lama di sini?” tanya Dathan.
“Hampir dua tahun.” Neta menjelaskan pada Dathan.
“Di sini terdiri dari pria dan wanita?” Dathan memastikan kembali.
“Iya, ini kos yang diisi pria dan wanita, dan cukup bebas.” Neta menjelaskan sambil berjalan ke tangga di mana kamarnya berada. “Terkadang ada juga yang pacaran di sini tinggal bersama.” Neta berbisik. Tak enak jika didengar.
“Lalu kenapa kamu tinggal di sini? Ini tidak baik untukmu.” Dathan tidak suka jika Neta tinggal di kos seperti itu. Jika ada pria yang masuk ke tempat kos Neta bagaimana?
Neta menatap malas pada kekasihnya itu. “Hanya kos ini yang bebas mau pulang jam berapa. Jadi aku yang kerja tak tahu waktu ini bisa pulang kapan saja.” Neta memang mempertimbangkan akan hal itu.
“Tinggal saja di apartemen. Kamu bisa pulang sesukamu. Keamanannya juga lebih terjaga.” Dathan merasa tempat yang ditinggali Neta tidak layak.
“Kamu pikir gajiku cukup untuk membayar sewa apartemen.” Tepat di depan pintu, Neta membuka pintu kamarnya. Dia masuk lebih dulu dan menyalakan lampu. Jendela belum dibuka, jadi cahaya tidak bisa masuk ke dalam.
__ADS_1
Dathan masuk ke kamar Neta. Saat lampu dinyalakan, dia melihat kamar begitu sempit, tetapi sangat rapi sekali. Ada dapur kecil di sebelah kanan dan bersebelahan dengan meja makan. Di sebelah kanan ada tempat laundry. Saat masuk lebih dalam, dia melihat tempat tidur single bad di sebelah kiri, dan sofa di sebelah kanan. Di samping sofa ada jendela besar yang masih tertutup gorden. Tepat di sebelah jendela ada lemari yang cukup besar.
“Letakkan saja di sana.” Neta menunjukan ke sofa.
“Kamarnya nyaman, tetapi aku tetap berharap kamu bisa tinggal di apartemen. Aku bisa berikan apartemen milikku untukmu.” Dathan mengedarkan pandangan sambil berbicara. Dia masih belum rela Neta tinggal di tempat kos ini.
Neta mendekat ke arah Dathan. Berdiri tepat di depan Dathan. “Aku tidak mau ke apartemen. Aku maunya pindah ke rumahmu.” Neta menggoda pria di depanmu.
Dathan yang melihat Neta menggodanya begitu gemas sekali. Tangannya langsung meraih pinggang Neta. “Jika itu, aku harus membawamu ke KUA dulu.” Dathan menyeringai.
Neta tersenyum. “Sudah sana, kasihan Cinta lama menunggu.” Dia berusaha melepaskan pelukan dari Dathan.
Dathan rasanya berat untuk melepas Neta. Dia pun masih merengkuh pinggang Neta dengan erat. “Besok kita bertemu lagi ‘kan?” tanya Dathan. Dia sudah seperti anak kecil yang tidak akan bertemu dengan ayah-ibunya lagi.
Neta gemas sekali sikap manja Dathan. “Aku kerja, kadang tidak tentu pulangnya. Jadi aku tidak bisa janji.” Neta mengatakan apa adanya.
“Aku akan menjemputmu saja.” Dathan segera berinisiatif untuk hal itu.
“Lalu bagaimana?” Dathan tidak bisa jika tidak bertemu dengan Neta. Pasti berat rasanya.
“Kita bertemu akhir pekan.” Neta memberikan ide.
“Apa kamu sedang ingin menyiksaku. Tidak melihatmu sebentar saja aku rindu, bagaimana seminggu.” Dathan tidak setuju dengan ide Neta.
Neta mengembuskan napasnya. Merasa bingung karena ternyata Dathan tidak menerima alasannya sama sekali.
“Begini saja. Jika aku pulang malam, aku akan kabari kamu agar kamu bisa menjemputku. Selebihnya aku akan pulang sendiri.” Neta bernegosiasi.
“Tidak.” Dathan menggeleng.
“Kalau aku pulang lebih awal … tapi aku tidak pernah pulang lebih awal. Aku pulang jam lima. Sedangkan kamu pulang jam tiga. Itu artinya kamu pulang lebih dulu dibanding aku. Jadi tentu saja aku tidak bisa pulang denganmu.” Neta tidak mau Dathan repot-repot menjemputnya. Karena dia merasa kasihan dengan Loveta.
__ADS_1
Dathan sendiri tahu posisinya. Dia bukan single dan harus mementingkan Loveta. “Baiklah, kamu pulang sendiri.” Dathan akhirnya setuju.
Neta bernapas lega. Akhirnya Dathan mengerti yang dijelaskannya.
“Tapi, setiap jam sembilan aku akan datang ke sini.” Bukan Dathan jika tidak untuk setiap negosiasi.
Neta melirik malas. Dathan selalu bisa membuatnya tak berkutik. Dia tahu Dathan akan datang ke tempat kos saat Loveta sedang tidur. “Baiklah, ke sinilah.” Neta akhirnya setuju.
“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu.” Satu kecupan mendarat di pipi Neta.
Neta hanya tersenyum ketika Dathan tak berhenti membuatnya salah tingkah. “Da … hati-hati di jalan.”
Neta mengantarkan Dathan sampai ke pintu. Dathan melambaikan tangan pada Neta. Dia tak berhenti terus melambaikan tangan. Sungguh itu membuat Neta benar-benar gemas sekali dengan Dathan.
Dathan segera menuju ke mobil Reno. Sayangnya, saat sampai di depan kos Neta, tidak ada mobil Reno. Hal itu membuatnya panik. Memikirkan ke mana gerangan Reno dan anaknya berada. Dia pun segera menghubungi Reno. Memastikan keberadaan temannya itu.
“Kamu di mana?” tanya Dathan.
“Aku sedang beli es krim di mini market dekat kos Neta.” Reno mengatakan di mana dirinya berada.
“Kenapa tidak menungguku?” Dathan kesal karena ditinggal begitu saja.
“Hai, bagaimana bisa aku menunggumu yang masih betah di sana. Justru kamu beruntung aku mengajak anakmu ke sini, jadi dia tidak bertanya-tanya kenapa papanya lama sekali.” Reno memelankan suaranya agar tidak didengar Loveta.
Dathan jadi malu ketika ternyata temannya itu melakukan itu demi dirinya. “Ya … sudah kalau begitu jemput aku jika sudah selesai beli es.”
“Tidak mau.” Dengan tegas Reno menjawab.
Dathan menautkan kedua alisnya. Dia merasa heran kenapa bisa temannya itu tidak mau menjemputnya. “Lalu aku bagaimana?” tanyanya penasaran.
“Kamu jalan kaki saja ke sini. Aku akan menunggumu dengan Lolo sambil menikmati es krim.” Reno tertawa. Dia yang kesal karena harus menunggu orang pacaran dulu, akhirnya memilih balas dendam.
__ADS_1
“Sial.” Dathan segera mematikan sambungan telepon. Terpaksa Dathan harus berjalan sampai ke mini market tempat anak dan temannya berada. Rasanya kesal, tetapi setidaknya sebanding dengan tadi dirinya yang bisa bersam