
Neta mengerjap. Alarm ponsel yang terdengar membuatnya terbangun. Dia tidak tahu ponsel siapa itu, karena yang jelas bukan ponselnya. Saat membuka matanya sempurna, dia melihat jika itu adalah ponsel Dathan. Neta pun bergeser untuk mengambil ponsel tersebut.
Saat bergeser, Dathan merasakan gerakan tubuh Neta. Dia melihat Neta yang ingin meraih ponselnya. Karena itu, Dathan bergerak lebih dulu.
“Kamu sudah bangun.” Neta melihat Dathan yang lebih dulu meraih ponsel.
Dathan memundurkan tubuhnya. Dia kemudian menatap Neta yang berada di pangkuannya. Tangan Dathan membelai lembut wajah Neta.
“Kamu menggeser tubuhmu jadi aku bangun.” Dathan tersenyum.
“Karena aku bergerak.” Neta berusaha bangun, tetapi tubuhnya tertahan oleh tangan Dathan.
“Masih pagi.” Dathan memberitahu Neta.
“Memang jam berapa ini?” Neta langsung melemparkan pertanyaan itu pada Dathan.
“Jam lima.” Alarm Dathan akan berbunyi di jam lima pagi. Jadi dia tahu ini jam berapa.
“Sepertinya aku harus pulang. Karena aku harus bersiap untuk ke kantor.” Neta segera berangsur bangun. Dia tidak mau sampai nanti terlambat ke kantor.
“Aku akan mengantarmu.” Dathan segera berdiri.
“Tidak perlu, nanti saat Cinta bangun, dia akan mencarimu. Jadi lebih baik kamu di sini saja.” Neta tidak mau egois. Dia harus tetap memikirkan Loveta. Neta yang bangkit segera merapikan selimut yang dipakainya.
Dathan kali ini memilih merelakan Neta untuk pulang, mengingat hari sudah pagi. Jadi tentu saja dia tidak masalah.
“Baiklah, aku akan antar kamu naik taksi.” Dathan tidak mau melepas tanggung jawab begitu saja.
Neta mengangguk. Jika memang hanya mengantar sampai naik taksi, tentu saja dia tidak masalah. Dia pun segera meraih tasnya.
__ADS_1
“Aku tidak pamit?” Sebelum keluar, Neta bertanya pada Dathan.
“Dia masih tidur. Nanti aku akan sampaikan.” Dathan mengerti apa yang dimaksud oleh Neta.
“Baiklah.” Neta mengangguk. Dia kemudian keluar dari apartemen bersama dengan Dathan.
Dathan dan Neta berjalan menuju lobi. Dathan menggandeng tangan Neta sepanjang perjalanan.
“Nanti kabari keadaan Cinta.” Neta menatap Dathan. Sebenarnya dia ingin bertemu, tetapi dia harus bekerja.
“Aku akan kabari.” Dathan tersenyum.
...****************...
Arriel bangun. Saat bangun dia segera mengecek keadaan anaknya. Menempelkan tangannya di dahi sang anak. Beruntung demam Loveta sudah reda. Artinya anaknya baik-baik saja.
Saat hendak berjalan ke arah ruang tamu, Arriel memilih perlahan-lahan. Tak mau mengganggu Dathan dan kekasihnya. Namun, saat melihat ke arah ruang tamu, dia justru tidak mendapati Dathan dan kekasihnya di sana.
“Ke mana mereka?” Arriel bingung memikirkan ke mana perginya dua orang tersebut.
Tepat saat dia memikirkan itu, suara bel terdengar. Arriel segera berbelok ke arah pintu untuk membuka pintu. Mengecek siapa gerangan yang datang pagi-pagi.
Saat pintu terbuka, dia melihat Dathan. Entah dari mana gerangan Dathan, kenapa tiba-tiba di depan pintu.
“Kamu dari mana?” Arriel yang penasaran memilih bertanya.
“Aku mengantarkan Neta ke lobi. Dia titip salam, maaf tidak berpamitan.” Dathan menjelaskan sambil memberitahu Arriel tentang pesan Neta.
“Dia pulang?” Arriel memastikan.
__ADS_1
“Iya, dia pulang karena harus bekerja?” Dathan segera masuk ke rumah. “Apa demam Cinta sudah reda?” Dathan menoleh ke belakang. Menatap Arriel yang sedang menutup pintu.
“Tadi aku cek sudah reda.”
Dathan segera mengayunkan langkahnya menuju ke kamar Arriel. Dia ingin mengecek keadaan anaknya sendiri. Saat masuk dia melihat sang anak yang masih tidur. Dathan langsung mendekat ke arah anaknya. Dia mendekatkan telapak tangan di dahi sang anak. Benar kata Arriel. Demam anaknya sudah reda.
Loveta yang merasa tangan dingin menempel di dahinyanya, segera membuka matanya. Dia menyadari siapa yang gerangan yang berada di dekatnya.
“Papa.” Loveta langsung memanggil sang papa.
“Cinta.” Dathan tersenyum menyambut sang anak yang bangun.
Loveta bangun dan segera memeluk sang papa. Dia benar-benar merindukan sang papa. Dathan yang merasakan pelukan mungil itu pun tersenyum.
“Lolo rindu, Papa.” Loveta mengatakan apa yang dirasakan.
“Papa juga rindu.” Dathan mengeratkan pelukannya.
Loveta melepaskan pelukannya. Tangannya merapa dahinya. Merasa ada yang aneh dengan dahinya. “Lolo demam?” tanyanya memastikan.
“Iya, Cinta demam, dan membuat Papa ke sini.” Dathan menjelaskan hal itu. “Tapi, sekarang Cinta sudah tidak demam.” Dathan menempelkan telapak tangannya ke leher sang anak.
Loveta tersenyum. Ternyata dia sudah sembuh.
Melihat senyum anaknya, membuat Arriel ikut senang. Kini dia tidak perlu khawatir lagi dengan keadaan sang anak.
“Papa, Lolo mau pulang.” Dengan polosnya Loveta mengatakan hal itu.
Senyum Arriel surut dari wajahnya. Dia tidak menyangka jika ternyata Loveta mengajak untuk pulang ke rumah Dathan.
__ADS_1