
Dathan menatap Neta dengan lekat. Perlahan dia mengangsur tubuhnya mendekat pada Neta. Hal itu membuat Neta memundurkan tubuhnya. Dia merasa jarak begitu dekat, hingga harus sedikit menjauh.
Aroma parfum yang dipakai Dathan begitu terasa sekali. Hingga membuatnya sejenak terbuai. Sejak awal melihat Dathan, Neta memang sudah terpesona. Pria itu memang membuat dunianya benar-benar runtuh. Di pikirannya hanya bisa bertanya, bagaimana pria empat puluh tahun masih bisa masih setampan itu.
Dathan memandangi wajah Neta. Baru kali ini dia melihat Neta begitu dekat sekali. Dari kemarin dia sudah memerhatikan Neta, tetapi baru punya kesempatan sedekat ini. Saat melihat Neta, Dathan melihat jelas wajah Neta yang begitu cantik sekali. Kulit putih, bulu mata yang lentik, dan bibir tipis, terlihat begitu sempurna.
Melihat setiap sisi wajah Neta, pandangan Dathan tertuju pada bibir Neta yang berlapiskan lipstik pink. Pria mana yang tak tergoda melihat pemandangan indah itu. Seperti serigala yang kelaparan, dia tentu saja ingin segera melahap bibir yang begitu menggodanya. Apalagi dia sudah lama tidak merasakan menyesap bibir manis seorang wanita.
Dathan mengangsur tubuhnya sambil memiringkan kepalanya. Mendaratkan bibirnya tepat di depan bibir Neta.
Sayangnya, belum sampai bibir itu sampai di bibir Neta, tangan Neta langsung menutup bibir itu. Hingga membuat Dathan mendaratkan bibirnya ke punggung tangan Neta. Dathan yang melihat hal itu terkejut. Padahal tadi sorot mata Neta terlihat tak keberatan ketika dirinya mengangsur tubuhnya.
“Kamu pikir aku anak sekolah yang berpamitan dengan orang tuanya. Mendaratkan kecupan di punggung tangan?” Dathan melempar pertanyaan yang menggandung sindiran. Dia sedikit menutupi rasa malunya karena main mencium Neta. Tak mau terlihat bodoh karena mendapatkan penolakan dari Neta.
Dathan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Neta. Menegakkan tubuhnya. Dia tampak begitu tenang sekali.
Neta yang mendengar ucapan Dathan hanya menekuk bibirnya. “Pak Dathan saja yang main ingin cium, padahal kita belum punya ikatan apa-apa!” Neta juga tak mau kalah.
Dathan malu sebenarnya, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang. “Aku terbawa suasana saja,” elaknya.
Neta tadi juga hampir saja terbawa suasana. Untung saja kesadarannya segera kembali. Jika tidak, mungkin dia juga akan menerima ciuman dari Dathan.
“Ingat, Pak Dathan. Jangan mencoba mencium saya jika kita belum ada hubungan!” Neta memberikan peringatan pada Dathan.
Dathan yang sedari tadi memandangi Neta, menarik senyum di sudut bibirnya. Adrenalinnya mulai naik ketika Neta melawan. Dia mendapatkan keseruan ketika melihat Neta memberikannya peringatan.
“Lalu jika aku tetap melakukannya, kamu mau apa?” Dathan segera mengangsur tubuhnya lagi. Mendekat ke arah Neta.
Neta yang melihat Dathan kembali memundurkan tubuhnya. Kali ini tidak hanya satu tangan yang digunakannya untuk menutup mulutnya, tetapi dua tangan. Dia berusaha untuk melindungi diri sendiri.
__ADS_1
Dathan tertawa ketika melihat aksi Neta.
“Aku tidak akan melakukan jika kamu tidak mau.” Dia tidak suka memaksa seseorang, jadi tentu saja dia memilih untuk sabar menunggu.
Neta perlahan menjauhkan tangannya dari bibirnya. Dia yang mendengar jika Dathan tidak akan memaksa, akhirnya memilih untuk tidak takut lagi.
“Masuk dan beristirahatlah.” Dathan masih menatap Neta, tetapi tangannya mengarah ke belakang untuk menekan tombol-membuka pintu untuk Neta.
Neta masih diam terpaku melihat Dathan yang membebaskan dirinya begitu mudah.
“Pergilah atau aku akan menciummu secara brutal jika kamu tetap di sini.” Dathan menatap penuh damba pada bibir Neta yang berlapiskan lipstik pink.
Neta membulatkan matanya. Karena takut dia segera membuka pintu. Dia takut Dathan benar-benar akan melakukannya. Tepat saat tubuhnya baru saja keluar dari mobil, tiba-tiba Dathan menarik tangannya. Hal itu membuat Neta menoleh.
“Apa?” tanyanya.
Neta mengingat jika besok dia ada janji ke panti asuhan. Jadi tentu saja tidak bisa ikut serta Dathan dan Loveta. “Saya ada janji, Pak.” Dia mengatakan apa adanya.
Dathan mengembuskan napasnya. “Baiklah, kalau begitu kita bertemu senin.” Dathan terpaksa harus menahan diri untuk tidak bertemu dengan Neta sehari. Entah, dia bisa atau tidak.
“Baiklah, saya akan ke kantor untuk wawancara.”
“Dan pendekatan.” Dathan menambahkan ucapan Neta.
Pipi Neta merona. Pendekatan macam apa ini yang dilakukan secara terang-terangan. Biasanya, jika ada orang yang mendekati seorang gadis, tentu saja dilakukan secara diam-diam. Hingga si gadis dibuat merasa malu dan berpikir ‘apakah si pria mencintanya?’. Namun, Dathan berbeda. Dia melakukan pendekatan secara terang-terangann.
“Baiklah.” Neta menganggukkan kepalanya.
Dathan segera melepaskan tangan Neta. Membiarkan Neta untuk keluar dari mobilnya.
__ADS_1
Neta segera keluar dan menutup pintu mobilnya. Dia segera berlalu ke dalam kosannya. Sesekali dia melihat ke arah belakang. Dathan menunggunya. Dia menebak jika Dathan menunggunya sampai masuk ke kosan terlebih dahulu barulah pergi. Benar saja saat melihat Neta sudah masuk ke kosan, Dathan mulai melajukan mobilnya.
Neta yang melihat mobil Dathan sudah pergi kembali mengintip. Memastikan jika Dathan benar-benar pergi. Neta tersenyum, dia benar-benar tidak menduga jika kejadian hari ini benar-benar luar biasa.
Perasaan Neta begitu berbunga-bunga sekali. Perasaan ini pernah dirasakannya dulu dengan mantan kekasihnya, dan setelah sekian lama akhirnya, dia merasakan hal itu lagi. Apalagi jika bukan jatuh cinta.
“Hoy ….” Maria yang tadi berniat untuk ke supermarket melihat Neta yang ada di depan kos melamun. Hal itu membuatnya mengagetkannya.
“Astaga.” Neta yang asyik melihat Dathan hanya bisa memegangi dadanya ketika dikejutkan oleh temannya. Saat tahu jika yang mengagetkan adalah Maria. Dia segera memukuli Maria. “Dasar! Apa kamu mau buat aku mati muda dengan mengagetkan aku?” Dia kesal sekali dengan temannya itu.
Maria hanya pura-pura mengaduh saja. “Salah kamu, kenapa malam-malam melamun, apa kamu tidak takut ada hantu yang melihatmu dan masuk ke dalam tubuhmu.” Maria tidak habis pikir. Bagaimana bisa Neta melakukan hal itu.
“Dan jika aku kerasukan, kamu orang pertama yang akan aku takut-takuti.” Neta yang kesal pun menggoda temannya.
“Hiii … aku takut.” Maria tertawa.
“Sebenarnya kamu sedang apa di depan sini? Kenapa melamun?” Maria begitu penasaran dengan yang dilakukan temannya itu.
“Aku tidak sedang melamun. Aku sedang melihat mobil yang baru saja pergi dari sini.” Neta pun mengelak apa yang dikatakan Maria.
“Mobil siapa?” Maria yang penasaran dengan mobil yang dikatakan Neta pun mengedarkan pandangan. Mencari mobil itu.
“Aku sudah bilang bukan jika sudah pergi.” Neta pun menepuk bahu Maria.
“Mobil siapa?” tanya Maria.
“Dathan Fabrizio.” Neta menjawab sambil berbalik. Dia segera mengayunkan langkahnya ke kosan miliknya.
Maria yang mendengar nama itu seketika terkejut. Dia yang hendak ke supermarket, mengurungkan niatnya. Dia segera mengejar Neta. “Kamu bertemu dengannya?” tanya Maria.
__ADS_1